Tittle : Blue envelope
Author : Okky Oktavia
Rating : T
Genre : little-bit angst
Length : Ficlet
Main cast : Oh Sehun, Lee Sunmi(OC)
Support cast : find it by yourself
Disclaimer : they are belong to
themselves
Warning : AU, badfic, OOC, typo
a/n : setelah beberapa lama hiatus
tanpa pemberitahuan(?) dari dunia per-FF-an, author comeback bawa FF baru (dan
melupakan FF chapter yang belum kelar, oke maaf). FF ini khusus dibuat untuk
merayakan(?) 10.000 likers fanpage milik author (lirik EXO FanFiction).
**
Kau pergi begitu saja disaat
keterpurukan menimpaku.
**
Tokk
Tokk
Tokk
Kulangkahkan kakiku dengan malas.
Siapa yang bertamu sepagi ini?. setelah kubuka pintu rumah kecilku ini, aku
tidak menemukan siapapun. Kulihat kearah kanan dan kiri, aku tidak menemukan
siapapun. Saat aku akan kembali masuk kedalam rumah, sempat kulirik satu buah
amplop berwarna biru.
Kuambil amplop itu dan masuk kedalam
rumah.
Perasaanku tidak enak. Kenapa ini?
Kubuka dengan perlahan amplop itu.
dan isi dari amplop itu merupakan mimpi buruk untukku.
…
Kupakai jas untuk menutupi kemeja
yang kupakai. Sebenarnya aku tidak yakin dengan semua ini. aku takut. Aku takut
tidak sanggup melihat semua ini, aku takut tidak sanggup menerima semua ini.
semuanya terjadi begitu cepat. Semuanya terjadi begitu saja.
Aku harus kuat. Aku –oh sehun- harus
kuat menerima semua ini.
Kututup pintu kediaman kecilku dan
melangkahkan kakiku ke tempat yang –mungkin- sebentar lagi akan menjadi neraka
untukku.
Di perjalanan ke tempat tujuan, mata
tajamku melirik sebuah taman yang dulu sempat menjadi tempat yang bersejarah
untukku –dan juga dirinya.
Flashback
“sebenarnya apa tujuanmu mengajakku kemari,
sehun?.” Tanya yeoja itu –lee sunmi-.
Kukeluarkan sebuah kotak berukuran sedang
dari tas yang kubawa. Kuserahkan kotak itu pada sunmi –yeoja yang aku cintai.
“apa ini?.” tanyanya dengan raut
wajah yang sedikit bingung.
“itu hadiah dariku. Aku harap kau
menyukainya.” Tangannya dengan perlahan membuka kotak pemberianku. “parfum?.”
Aku menganggukan kepalaku dan menatap tepat ke bola matanya.
“aku mencintaimu.” Ujarku tegas.
Kulihat ia sedikit terkejut, namun sesaat kemudian aku melihat matanya yang
tadinya terkejut kini membuat sebuah lengkungan eyesmile. Sungguh cantik.
“aku juga.” Cintaku diterima? Oh,
terimakasih tuhan. Aku harap cinta ini berlangsung selamanya.
Flashback end
Kini aku hanya bisa tersenyum pahit
menerima semuanya. Kembali kulanjutkan langkahku yang terhenti. Kulirik jam
tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. “masih terlalu lama menuju acara
inti.” Kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar, sekedar untuk mempersiapkan
hatiku nanti.
Kakiku berhenti di sebuah caffe
mewah yang dulu sering aku kunjungi bersama sunmi. Tapi, karena keadaanku
sekarang aku sudah tidak bisa menikmati apa saja yang ada di caffe itu. dan
juga karena keadaanku sekarang sunmi menjadi.. ah sudahlah.
Tiba-tiba sebuah kenanganku bersama
sunmi berputar begitu saja di otakku.
Flashback
“aku ingin bertemu. Apa kau ada
waktu?.” Tanyaku pada seseorang di seberang sana.
“aku sedang ada waktu luang. Di mana
kita bertemu, sehun?.” Tanyanya. Yeoja ini, meskipun ia sudah lumayan lama
menjalin hubungan denganku, dia tidak mau memanggilku dengan sebutan ‘oppa’,
‘chagi’, atau yang lainnya. Katanya ia lebih suka memanggilku dengan namaku
sendiri.
“di caffe biasa. Aku tunggu jam
19:00.”
“baiklah.”
“saranghae.” Sesaat ia terdiam. aku
tidak tahu kenapa ia diam seperti itu.
“eng. . nado.”
Kuputuskan sambungan telepon. Dan
sebaiknya aku siap-siap untuk menemuinya nanti malam. Aku harap ia mau
menerimanya.
…
Kutunggu sunmi di caffe di mana kami
sering bertemu. Cukup lama aku menunggunya. Kulihat jam tanganku, ini sudah
menunjukkan pukul 19:35. Kemana sunmi?
Tak lama kemudian kulihat sosoknya
berjalan kearahku.
“sehun-ah, mianhae aku terlambat.”
Ucapnya.. dan aku merasakan ada nada penyesalan saat ia berkata tadi. Aku hanya
tersenyum kecil. “gwenchana. Kau kan sudah di sini.”
“eng, sebenarnya ada apa?.”
Ya tuhan. Aku harus bagaimana?
Bagaimana aku harus memulainya? Apa yang harus aku katakana? Aku sangat gugup!.
Kurogoh saku jaket yang kukenakan
dan kuletakkan sebuah kotak kecil, lalu kubuka kotak itu.
Dan seperti dugaanku sebelumnya, ia
sangat terkejut. “ap–apa maksud semua ini sehun-ah?.”
“aku ingin kau menjadi pendampingku.
Apa kau bersedia nona lee sunmi?.”
Kulihat wajahnya. ekspresinya
terlihat bingung. Ya tuhan, aku harap ia menerima lamaranku. Aku benar-benar
mencintainya. Aku hanya mencintai sunmi.
“aku–aku . . sudahlah,aku bingung
mau berkata apa. Tapi yang penting aku mau jadi pendampingmu!.” Kini aku bisa
merasakan rasa lega. Mataku masih menatap wajahnya yang kini bersemu merah.
Bibirku membuat sebuah lengkungan senyuman.
Ia menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. “kau jangan menatapku seperti itu! aku malu! Kau juga katakan
Sesuatu, aku sangat malu!.”
Aku berdiri dan mengecup puncak
kepalanya, “saranghae.”
Flashback end
Kenangan yang indah. Ya kenangan. Kini
semua itu hanyalah sebuah kenangan.
Aku ingin menangis. Jujur, aku tidak
kuat menerima semua ini. kini aku tidak memiliki siapapun. Aku tidak memiliki
siapapun untuk aku ajak bicara ataupun tempatku mencurahkan keluh kesahku.
Sebaiknya aku mengunjungi makam kedua
orang tuaku. Yah~ untuk mencurahkan semua yang aku rasakan saat ini. walaupun
aku sudah tahu mereka tidak akan memberikan respon apalagi solusi untukku.
Tapi, setidaknya mungkin itu akan mengurangi beban yang aku pikul.
Tak terasa langkah kakiku terhenti
di sebuah pemakaman. Terlihat begitu sepi.
Kubersihkan makam kedua orang tuaku
dari dedaunan kering yang berjatuhan. “umma, appa, aku sangat merindukan
kalian.” Ujarku dengan berusaha menahan air mata yang sudah memenuhi sudut
mataku.
“berubahnya semua yang ada pada diri
sunmi, aku tidak akan pernah menyalahkan kepergian kalian, aku tidak akan
pernah menyalahkan takdir yang menimpaku. Ya~ aku harus sabar. Aku harus kuat.
Aku ingat umma dan appa selalu mengatakan hal yang membuatku setidaknya bisa
menjadi orang yang kuat. Aku ingat umma dan appa selalu berkata ‘sehun namja
kuat! Sehun tidak akan menangis!.’ Aku masih mengingat semua nasihat yang
kalian berikan kepadaku. Aku sangat berterimakasih. Karena nasihat kalian, aku
menjadi sedikit lebih kuat dengan keadaanku yang sekarang ini.”
Kuseka air mataku yang hendak
mengalir di pipiku. “aku harus kuat!.”
…
Kembali kakiku melangkah ke tempat
tujuan utamaku. Walau hatiku enggan untuk pergi kesana. Namun aku ingat
perkataan orang tuaku, “penuhilah setiap undangan.”
Mungkin sebagian orang sedikit
bingung kenapa aku seperti ini. dulu, aku memang anak pengusaha kaya di seoul.
Namun tuhan berkehendak lain. Tuhan mengambil kedua orang tuaku dengan sebuah
kecelakaan. Perusahaan kacau, dan akhirnya bangkrut. Itulah yang menyebabkan
aku menjadi seperti ini. menjadi seorang yang tidak berkecukupan.
hingga seseorang yang sangat aku
cintai meninggalkanku karena keadaanku yang seperti ini. ya, aku menerimanya.
Menerima keputusannya yang meninggalkanku begitu saja karena kondisiku saat
ini.
aku mengerti. Aku mengerti ia ingin
bahagia dengan hidup segala berkecukupan. Dan jika ia tetap bersamaku, ia tidak
akan merasakan itu semua.
…
Kini aku telah sampai. Sampai di
tujuanku. Sebuah tempat yang kini akan berubah menjadi sumber kesakitanku,
kesakitan hatiku.
Sebuah resepsi pernikahan yang
sangat mewah.
Datang karena sebuah amplop berwarna
biru yang datang begitu saja ke rumah dengan berisikan undangan resepsi
perikahan. Dengan bertuliskan nama Lee SunMi & Byun Baekhyun.
Kuhampiri sepasang manusia yang
tengah berbahagia itu. yang tengah berbahagia di atas penderitaanku. Tapi,
tidak apa-apa. Asalkan dia bahagia.
“selamat atas pernikahan kalian,
Sunmi-ah, Baekhyun-ah.”
END


aaaah... baru paham. kemarinnya q bacanya buru2 hehehe. ksian sehun. q tau bangeeeet rasanya ditinggal nikah org yg kita cintai. nyesek. dan kadang... ad pikiran jahat berharap mrk berpisah hahaa
BalasHapusnot bad sih. hanya aja perlu diperhatiin penulisan2nya, yg huruf kapital, pemisahan awalan atau sisispan 'di' biar lebih jelas lg. dan cafe yg benar, bukan caffe. oke? XD
kok sunmi gitu sih :'
BalasHapus