Tittle : Ustedes son el future | chapter 1
Author : Okky Oktavia
Rating : T
Genre : AU, Romance
Length : Chaptered
Main cast : Byun Baekhyun, Cho Sooyeon (OC)
Support cast : Find it by yourself
Disclaimer : baekhyun milik tuhan agensinya, keluarganya. Cerita ini asli milik author
Warning : AU, Badfic, OC, OOC, typo[s]
[a/n] annyeong ^^ author balik lagi bawa ff. semoga ff ini bener-bener jadi ff chapter, bukan Cuma doubleshot xD.
**
“nado saranghae chagiya~” sooyeon melihat umma nya mengakhiri sambungan telepon dengan seseorang di sana yang sooyeon yakini bukan dari appa nya. Sooyeon berdiri di pintu kamar umma nya sambil melipat tangan di dada.
“kali ini dari siapa ?” taya sooyeon sinis. Umma sooyeon menoleh, lalu kembali fokus pada layar gadget berbentuk persegi panjang miliknya. “umma~” umma sooyeon bangun dari tidurannya, lalu menatap sooyeon. “dari teman umma, wae ?”
“teman ? cih~ aku tidak percaya.. kalau teman, kenapa umma memakai embel-embel saranghae ?”
Umma sooyeon bungkam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan sooyeon. “umma kenapa jadi seperti ini ? kalau umma terus seperti ini kasihan appa~” kini nada bicara sooyeon melembut. Mata umma sooyeon yang bulat semakin bulat setelah mendengar perkataan putrid semata wayangnya itu.
“mwo ? kau kasihan pada appa mu ? kau kasihan pada appa tirimu yang tidak pernah memberimu kasih sayang sedikitpun kepadamu ? ingat sooyeon-ah, umma seperti ini karena appa mu juga pernah melakukan seperti ini pada umma ! bahkan lebih dari seperti ini ! seharusnya kau mengerti !”
Kini giliran sooyeon yang tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari bibir mungilnya. Sooyeon melangkahkan kakinya menjauh dari kamar umma nya. Sudut matanya menangkap sosok appa tirinya sedang duduk santai di ruang tv.
Ya.. appa tiri sooyeon tidak pernah memberikan kasih sayangnya. Tidak pernah memperlakukan sooyeon sebagai anaknya. Dan selalu membenci apa yang dilakukan sooyeon. Sesuatu apapun milik sooyeon yang tidak disukai appa nya, pasti akan langsung dibuang oleh appanya.
Namun sooyeon menyadari posisinya sebagai anak dari ummanya yang dinikahi oleh namja yang kini jadi appa tirinya. Ia tetap berlaku sopan pada appa tirinya itu walaupun perlakuan sooyeon selalu berbuah omelan dan cacian.
Memang appa tiri sooyeon tertangkap basah berselingkuh, dan kini umma nya balas dendam pada appa tiri sooyeon dengan berselingkuh juga. Sooyeon berpikir, bila sudah tidak cocok, kenapa tidak bercerai saja ? itu pikiran yang selalu terlintas di pikiran sooyeon.
Masalah orang tuanya membuat sooyeon menjadi tertekan. Karena sooyeon selalu memendam semuanya. Selalu memendam sakit, susah, ataupun yang lainnya sendirian. Ia tidak pernah mengungkapkan semuanya, karena ia tidak mempunyai seseorang untuk tempatnya bercerita. Umma nya selalu sibuk dengan selingkuhannya. Yang dilakukan sooyeon hanyalah bercerita pada binatang peliharaannya, namun itu tidak berhasil membuat pikiran dan hati sooyeon menjadi tenang.
Sooyeon menghela nafas nya, lalu masuk ke kamarnya yang lumayan luas. Sooyeon melirik peliharaannya yang tertidur pulas di kasur kecil miliknya di sudut kamar sooyeon. Sooyeon mengelus kepala nakatsu, anak harimau putih peliharaannya.
“hanya kau yang selalu mendengar semua keluh kesahku, nakatsu”
**
Drapp drapp drapp drapp
Terdengar suara langkah kaki di tangga yang terbuat dari kayu. Suara langkah kaki itu milik sooyeon. Terlihat dari wajahnya, ia seperti kehilangan sesuatu yang penting baginya. Dengan langkah cepat ia menuruni tangga dan langsung menuju meja makan dimana umma dan appa nya sedang menikmati sarapan mereka.
“kalian melihat nakatsu pergi kemana ?” tanya sooyeon dengan rambut yang masih acak-acakan dan juga piyama bermotif kucing yang masih melekat di tubuh rampingnya.
“maksudmu anak harimau itu ?” kini appa tiri sooyeon mulai mengeluarkan suaranya tanpa menoleh sedikitpun pada sooyeon.
“ne~”
“sudah kubuang semalam, aku alergi dengan bulu kucing jadi aku buang”
Mata sooyeon terbelalak. Ia tidak menyangka appa nya tega membuang anak harimau putih yang masih membutuhkan kasih sayang itu. “kau tega! Jujur saja kalau kau membenciku ! kalau kau membenciku, kenapa kau tidak membuangku saja?! Kenapa nakatsu yang jadi korban ? kalau kau ingin aku pergi dari rumah ini, baik aku akan pergi ! lagi pula aku sudah tidak tahan hidup di rumah yang seperti neraka ini!” umma sooyeon berdiri dan langsung menampar pipi putrinya itu. Cairan bening mulai membanjiri pipi sooyeon. Namun bibir mungil sooyeon memberikan senyuman kecewa pada umma nya.
“sepertinya aku memang sudah tidak diinginkan lagi disini..” sooyeon berbalik dan kembali ke kamarnya.
Sooyeon mengemas semua barangnya. Sesekali ia melihat keadaan di luar dari jendela kamarnya. “turun salju.. nakatsu kau kemana ? kau pasti kedinginan..” air mata kembali mengalir di pipi sooyeon.
--
Sooyeon menarik koper yang penuh dengan barang miliknya. Ia berjalan dengan cepat melewati orang tuanya yang masih sarapan. Ketika sooyeon berjalan melewati mereka, tidak satupun diantara mereka berdua yang mencegah kepergian soooyeon. Sooyeon hanya tersenyum pahit dan kembali melanjutkan langkahnya.
.
.
Sooyeon terus berjalan di jalanan yang mulai tertutupi oleh salju. Ia bingung harus kemana. Sooyeon mengedarkan pandangannya ke segala arah. “omo~ ini dimana ? ini sudah tidak di jalan raya.. sepertinya aku tersesat..” sooyeon duduk di kursi tua yang ada di bawah pohon yang tertutupi salju.
“aigo~ salju semakin lebat.. aku harus mencari tempat bernaung..” sooyeon berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan tanpa tujuannya. Ketika sooyeon tengah berjalan, kakinya tersandung batu. Ani, bukan batu pikir sooyeon.
Diliriknya benda yang menyebabkan kakinya tersandung. “astaga~!” yang membuat sooyeon tersandung adalah sosok namja yang pngsan atau entah karena apa.
“ya~! Ireona !” sooyeon menepuk pipi namja itu. Namja itu sedikit membuka matanya. “ngghhh” lenguh namja itu sambil memegang kepalanya. Ia duduk lalu memandang sooyeon dengan tatapan seperti sedang kesakitan.
“ya? Kauu kenapa ?” tanya sooyeon khawatir. “aku.. nggghhh…” kini namja itu memegangi perutnya. Sooyeon semakin khawatir pada keadaan namja yang tidak ia kenal itu. “ya, kau kenapa ?” tanya sooyeon sambil memerhatikan wajah tampan namja itu yang kini berubah menjadi wajah yang penuh kesakitan.
“aku lapar” ucap namja itu akhirnya. Sooyeon merassa bodoh karena terlalu khawatir pada namja asing di hadapannya yang masih duduk dengan gaa putrid duyung di atas salju. Sooyeon berdiri dan hendak berjalan meninggalkan namja asing yang kelakuannya sangat tidak jelas itu. Namun langkahnya terhenti karena namja itu memegang pergelangan kakinya dengan kuat.
“ya! Apa yang kau lakukan huh ?” sooyeon mulai sedikit menampakkan rasa takutnya. “sudah kubilang aku lapar~” ucap namja itu dengan suara sedikit serak.
“lalu apa hubungannya denganku ? lagipula aku kan tidak mengenalmu ? kenapa aku harus mempedulikanmu ?”
“karena kau yang menemukanku, jadi kau harus bertanggung jawab atasku..” ujar namja itu dengan suaranya yang lemah.
“mwo ? aku tidak melakukan apapun padamu, kenapa aku harus bertanggung jawab ?”
“ikutlah ke rumahku, dan buatkan aku makanan.. aku bisa mati kelaparan..”
Aooyeon terlihat berpikir. Ia sedang mencari tempat untuk bernaung. Dan kebetulan namja ini mengajaknya ke rumahnya.
Setelah beberapa menit ia berdebat dengan pikirannya sendiri, sooyeon menganggukan kepalanya, “baiklah~”
--
“ini rumahmu ?” tanya sooyeon, dan namja itu hanya mengangguk lemah. Sooyeon dan namja itu masuk kedalam rumah yang tidak terlalu besar. Keadaan rumah itu sangat berantakan. “berantakan sekali.. ini tidak pantas disebut rumah” cibir sooyeon yang sama sekali tidak dipedulikan namja itu.
“dimana dapurnya ?” namja itu berisyarat dengan telunjuknya.
.
.
“ya~ ireona.. ini makannya sudah jadi, kau bilang kau lapar bukan ?”
Namja itu membuka matanya perlahan dan tersenyum kecil. “gomawo” namja itu mengambil semangkuk makanan yang sooyeon simpan di meja. Sooyeon hanya duduk di sebelah namja itu.
“perutku kenyang.. gomawo~..” sooyeon hanya tersenyum dan mengangguk.
“ah iya, kita belum saling mengenal bukan ?” tanya namja itu. Kini dengan suaranya yang nyaring. Sooyeon mengangguk. “aku byun baekhyun, kau ?”
“sooyeon, cho sooyeon..”
Baekhyun melirik koper yang ada di dekat sooyeon. “sebenarnya kau mau kemana ?”
Sooyeon tersenyum pahit mengingat semuanya, mengingat ia tidak punya tujuan sama sekali. Sooyeon menggeleng pelan. “molla~ aku tidak tahu aku mau pergi kemana.. aku sama sekali tidak mempunyai tujuan sekarang..” jelas sooyeon.
Baekhyun menjentikan jarinya. “kau tinggal saja di sini..” usul baekhyun.
“mwo ? di sini ? aniyo.. aku tidak mau merepotkanmu..” tolak sooyeon.
Baekhyun tersenyum kecil. “kau tidak merepotkanku.. tapi aku sudah merepotkanmu.. sampai kau memasak dan juga membersihkan seluruh rumahku..”
“apa tidak apa-apa aku tinggal di sini ? apa keluargamu tidak apa-apa jika mengetahui aku tinggal di sini ?”
“aku tinggal sendiri di sini..”
Sooyeon terlihat berpikir. Jika ia menolak usulan baekhyun, kemana ia akan pergi ? sooyeon sama sekali tidak mempunyai arah dan tujuan sekarang. Sooyeon menatap bakhyun yang kini menatapnya juga.
“tinggal lah di sini.. aku membutuhkanku.. jika kau tidak di sini, aku tidak bisa hidup..”
“eh ?”
TBC

hihihi~ tinggalin jejak dulu~~
BalasHapus