Tittle : Bad day, good day Kim DongHyun
Author : Okky Oktavia|keii’s
Genre : angst, AU, friendship, romance
Rating : PG-13
Length : Oneshot
Cast : Kim DongHyun (BoyFriend), Kim JongHyun, Kang Hyechan/rahmah konna nokonita (OC), Kim HyeSun(OC) etc.
Warning : geje(?), typo(s), OOC
**
“saengil chukka hamnida! Saengil chukka hamnida! Saranghaneun kim jonghyun! Saengil chukka hamnida!” seru seluruh keluarga pada anak sulung, kim jonghyun. Si kecil di keluarga, Kim donghyun hanya mengintip di celah pintu ruang keluarga. Ulang tahun jonghyun, kakak dari donghyun selalu dirayakan oleh keluarganya. Sebenarnya, jonghyun adalah kakak angkat dari donghyun. Jonghyun adalah anak kandung dari keluarga bahagia itu. Namun donghyun adalah anak angkat di keluarga itu. Donghyun diangkat menjadi anggota keluarga kim karena hanya untuk melengkapi jumlah anggota keluarga tersebut. Jika anak keluarga kim tetap satu, warisan dari ayah kepala keluarga kim tidak akan diwariskan kepada keluarga kim. Karena istri dari mr.kim tidak ingin hamil dan melahirkan anak lagi, karena beralasan ingin tubuhnya tetap langsing dan kencang. Jadilah, mr.kim, kim jaehyun, mengambil jalan praktis. Mr.kim jaehyun pergi ke panti asuhan untuk mengadopsi anak laki-laki.
Donghyun kecil tetap memerhatikan perayaan ulang tahun hyung tiri nya itu. Donghyun merasakan perasaan yang begitu sedih karena seumur hidupnya tidak ada yang pernah merayakan ulang tahunnya, mengucapkannya pun tidak. Donghyun selalu berharap suatu hari nanti akan ada orang yang tulus mengucapkan ‘saengil chukka hamnida’ untuknnya.
Donghyun menutup pintu ruang keluarga yang sedikit terbuka, tempat dimana tadi ia mengintip keluarga bahagia itu, keluarga yang memang bahagia tanpa dirinya yang hanya dijadikan sebagai pelengkap atau penggenap jumlah. Menyedihkan memang, tapi itu memang nasib donghyun kecil, selalu diabaikan di keluarga yang bahagia ini.
Donghyun kembali ke kamar kecilnya. Memang donghyun ditempatkan di kamar yang serupa dengan kamar hyung nya, jonghyun, namun kamar milik jonghyun lebih mewah daripada kamar miliknya. Donghyun hanya menerima dengan pasrah apa yang diberikan padanya. Jika ia menolak, mungkin ia bisa ditendang dari rumah itu. Rumah, bagi donghyun rumah yang ditempatinya sekarang kadang terasa seperti surga, kadang terasa sebaliknya. Terasa seperti surga bila kedatangan harrabeoji atau appa dari mr.kim, dan kadang terasa bagaikan neraka, bukan karena donghyun diperlakukan seperti pembantu atau apa, tapi donghyun selalu diabaikan bahkan kadang tidak terlalu diperhatikan. donghyun diberikan fasilitas yang sama dengan jonghyun, namun satu yang tidak ia dapatkan di rumah yang megah bagai istana ini, cinta.
‘blam’ donghyun kecil menutup pintu kamarnya dan merenung di lantai sambil memeluk lutut kecilnya. Donghyun berpikir, lebih menyenangkan berada di panti asuhan bersama teman-temannya.
Donghyun yang masih berumur 12 tahun itu hanya tetap memeluk lututnya dilantai sudut kamar sambil menerawang masa-masa yang begitu indah ketika ia berada di panti asuhan. Sesekali air mata mengalir di pipi donghyun. Karena sudah menghabiskan ssebagian waktunya di kamar sambil menangis, donghyun tertidur dengan wajah tertunduk.
‘cklek’. Pintu kamar donghyun terbuka. Seorang namja yang sudah lanjut usia namun masih tetap segar bugar itu melihat tubuh donghyun yang meringkuk di lantai dengan mata tertutup. “kenapa cucu kesayanganku ini tidur di lantai yang dingin ini ?” tanyanya pada donghyun yang diangkatnya dan di rebahkan di tempat tidurnya. Sebelum keluar dari kamar donghyun, namja yang ternyata adalah appa dari appa tirinya, mencium kening donghyun, menyelimuti tubuh kecil donghyun dan meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja dipinggir kasur yang ditiduri donghyun. “kau anak yang baik” ucap harabeoji donghyun lalu menutup kembali pintu kamar donghyun.
**
5 years later
5 tahun berlalu. Kini donghyun duduk di bangku sma yang sama dengan jonghyun, hyung tirinya yang hanya terpaut 1 bulan saja. Jonghyun januari dan donghyun sebulan kemudian, hanya dia sendiri dan temannya di panti asuhan yang tahu hari ulang tahunnya. Orang tua angkatnya tidak pernah bertanya kapan donghyun ulang tahun, memang mereka tidak pernah memberikan kasih sayang dan cinta yang sepenuhnya pada donghyun. donghyun pergi ke sekolahnya diantarkan oleh sopir yang hanya bertugas mengantarkan donghyun saja. Donghyun kini tumbuh menjadi remaja yang tangguh. Terabaikannya dirinya di masa kecilnya, membuat donghyun menjadi pribadi yang kuat.
Sesampainya di sekolah, donghyun turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke kelas. donghyun dan jonghyun ditempatkan di kelas yang berbeda. Mereka berdua memang sosok pangeran di sekolah, namun yang dikagumi dari mereka berdua itu sangat berbeda dan justru mungkin bertolak belakang. Jonghyun disukai para yeoja karena kepiawannya memerlakukan yeoja. Donghyun disukai para yeoja karena keramahannya, dan kecakapannya dalam pelajaran sekolah.
Donghyun masuk ke kelasnya dan duduk di bangkunya yang berada di belakang. Sesaat kemudian, menyembul kepala seorang yeoja di pintu kelasnya. Yeoja itu tersenyum lebar ke arahnya sambil melambaikan tangan. “annyeong ^^” sapa yeoja ber-name-tag Kang Hyechan. Donghyun membalas sapaan dan juga lambaian tangan Hyechan. Hyechan berjalan ke bangku donghyun dan duduk di sebelah donghyun sambil membuka buku paket yang ia bawa. “donghyun-a, aku tidak mengerti tentang sector theory yang dikemukakan oleh holmer hoyt, bisa jelaskan ?” donghyun mengangguk dan mengambil buku paket milik Hyechan. “begini …..” donghyun menjelaskan teori tentang industri yang dikemukakan holmer hoyt pada Hyechan hingga yeoja mungil dan manis itu tersenyum, karena ia mengerti.
“gomawo^^, aku kembali ke kelas dulu ya^^” pamit Hyechan dan kembali ke kelasnya, sedangkan donghyun hanya membuka-buka kembali buku pelajaran hati itu. Mungkin saja akan ada ulangan mendadak, pikir donghyun.
**
Kang Hyechan, dia adalah yeoja yang sekelas dengan jonghyun, dia juga merupakan sahabat baik donghyun. Tapi, donghyun merasakan perasaan yang lebih, perasaan yang sebenarnya agak sedikit kurang wajar. Ya, donghyun menyukai bahkan mencintai Hyechan. Hyechan di mata donghyun berbeda dengan yeoja lainnya, berbeda dengan yeoja-yeoja yang mengaguminya. Hyechan itu tulus bersahabat dengan donghyun, bukan karena donghyun tampan, kaya, atau pun pintar, tapi Hyechan tulus menjalin persahabatan dengan donghyun. Karena Hyechan seperti itu, donghyun semakin enggan mengucapkan kata-kata itu, semakin enggan menyatakan perasaannya yang sebenarnya.
Bel tanda usainya seluruh jam pelajaran telah berbunyi. Donghyun sudah dijemput supirnya, namun kali ini donghyun menolak untuk pulang bersama supirnya itu. Ia menyuruh supirnya kembali ke rumah, dan lebih memilih untuk pulang bersama yeoja yang sekarang sedang berjalan sendirian di trotoar. Donghyun mengejarnya dengan langkah kakinya yang besar berusaha mensejajarkan langkahnya dengan yeoja itu.
Yeoja itu menoleh pada donghyun saat menyadari keberadaannya. “eh ? bukannya kau pulang dengan supirmu ?” tanya Hyechan heran mendapati donghyun sedang berjalan disampingnya. Rumah mereka memang searah, itulah salah satu sebab donghyun ingin pulang bersama yeoja yang diam-diam dia cintai. Sebab yang lain, karena donghyun ingin menghabiskan waktu pulang sekolahnya bersama Hyechan.
“aniya.. aku hanya sedang ingin meregangkan otot-otot kaki ku, wae ?”
“ani.. aku hanya aneh saja..” donghyun merangkul pundak sahabatnya sekaligus yeoja yang dicintainya itu. “Hyechan-a ?”. Hyechan yang merasa dipanggil langsung menoleh, “ne?”.
“aniyo, ini masih siang, aku mau mengajakmu ke kedai es krim, mau ?”, Hyechan yang dikenal sebagai ‘maniak’ es krim terang saja mata bulatnya itu langsung membulat. Hyechan mengangguk dan tersenyum lebar, Hyechan tidak mungkin menolak rejekinya begitu saja.
Keduanya berjalan menelusuri trotoar yang tidak terlalu ramai. Langkah mereka semakin cepat karena keadaan siang itu begitu panas, mungkin inilah yang disebut pemanasan global yang disebabkan oleh menipisnya lapisan ozon dikarenakan zat karbon yang menyampah di udara yang membuat lapisan ozon semakin menipis. Kemungkinan besar, bisa saja lapisan ozon menjadi bolong.
Keduanya langsung memasuki kedai es krim yang menyediakan es krim dari berbagai negara. Donghyun dan Hyechan memilih tempat duduk yang berada di dekat pintu keluar. Seorang waitres menghampiri 2 manusia penikmat es krim itu, dan memberikan daftar menu kepada keduanya. Hyechan terlihat serius memilih. “aku pesan Gelatoo sole mio dan spaghetti ice” Hyechan memutuska memesan es krim yang berasal dari negara itali dan inggris. Waitres itu melirik donghyun, “aku pesan maccha ice cream 2, tapi satu dibungkus” waitres itu mengangguk dan berbalik untuk menyampaikan pesanan Hyechan dan donghyun.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, pesanan sudah dihidangkan di meja. Hyechan dengan semangatnya langsung melahap es krim pesanannya. Donghyun juga langsung menikmati es krim yang terbuat dari teh hijau yang berasal dari negeri sakura itu di hari yang sepanas ini.
Setelah menghabiskan es krim masing-masing, Hyechann hendak membayarnya namun tangan donghyun melarangnya, “biar aku saja, aku kan yang mengajakmu kesini ^^”.
**
Donghyun sampai di rumah megahnya, di rumah megah orang tua angkatnya. Donghyun selalu merasa risih setiap kali pulang ke rumah, mengingat statusnya hanyalah sebagai pelengkap. Tapi, di benak donghyun selalu terbayang harabeojinya yang begitu menyayanginya daripada jonghyun. Donghyun kembali melangkahkan kakinya dan masuk kedalam rumah.
Donghyun berjalan ke kamarnya, ada niatan untuk mandi dan langsung merebahkan tubuhnya yang lelah karena berjalan di kasurnya. Tapi, baru saja ia membuka pintu kamarnya, donghyun menemukan jonghyun sedang selonjoran di kasurnya sambil membaca novel miliknya yang selalu tersimpan rapi di meja di samping kasurnya.
“ah, hyung, kau mengagetkanku..” jonghyun melihat donghyun sedang mengusap dadanya, kaget mungkin. “ya, kemana saja kau ini? kenapa baru pulang ?”tanya jonghyun. Donghyun masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. “aku mampir ke kedai es krim dulu, ini untukmu hyung..” donghyun memeberikan maccha ice cream yang tadi dibungkus. “ayayaya.. gomawo, ngomong-ngomong, jangan panggil aku hyung, aku merasa jadi tua .. kekeke~ panggil aku jjong saja”. Donghyun mengangguk dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya, tubuhnya sangat lengket karena keringat yang mengucur deras di seluruh tubuhnya.
Sedangkan jonghyun hanya menikmati es krim pemberian donghyun sambil terus melanjutkan membaca novel.
Donghyun keluar dari kamar mandi mengenakan celana selututnya dan juga kaos pendek. Donghyun duduk di kasurnya, di sebelah jonghyun yang masih sedang membaca novelnya. “ah, aku mau bertanya, sebenarnya kenapa kau bisa disini ?” tanya donghyun penasaran. “aku hanya ingin bercerita padamu dan juga, err.. sedikit bertanya..” jawab jonghyun.
Donghyun duduk bersila di kasurnya dan mendengarkan apa yang akan diceritakan jonghyun. “aku jatuh cinta hyun ..!” ucap jonghyun yang membuat donghyun sangat terkejut, karena tidak biasanya jonghyun seperti ini. tidak pernah jonghyun seserius ini, apalagi ini ada kaitannya dengan yeoja. Sungguh tidak biasa.
“jatuh cinta ?” tanya donghyunn memastikan apakah yang didengarnya itu sungguhan atau hanya pendengarannya yang sudah buruk. “ne .. aku jatuh cinta pada yeoja di kelasku .. kang hyechan …” donghyun semakin terkejut mendengar siapa yeoja yang dicintai jonghyun. Donghyun berusaha bersikap biasa.
“lantas, kenapa kau menceritakannya padaku ? bukankah biasanya kau selal langsung menyatakan perasaanmu dengan mudah pada yeoja yang kau sukai ..”
“nah, itulah permasalahannya… kali ini sangat berbeda.. aku.. aku benar-benar mencintainya… kau kan sahabatnya, bisa kau bantu aku hyun ?”
“mwo ? namja yang gentle itu akan beusaha mendapatkan yeoja nya dengan usahanya sendiri jjong …”
“aishh .. geurae.. aku akan mendapatkannya… pasti …” tekad jonghyun lalu keluar dari kamar donghyun.
Donghyun Pov
Apa yang harus kulakukan ? kalau jjong sudah punya keinginan dan target, aku tahu pasti dia tidak akan melepaskannya dan akan terus mengejarnya sampai ia mendapatkan apa yang ia kejar. Dan setahuku juga, semua keinginannya selalu tercapai. Apa aku harus menyerahkan sahabatku yang sangat kucintai pada jjong ? aissh … kalau aku melarangnya, aku selalu merasa tidak enak. Baiklah, kali ini aku berikan hyechan pada jonghyun. Tapi aku bersungguh-sungguh akan merebutnnya dari jonghyun jika jjong samai membuat yeoja yang kucintai itu menangis.
Donghyun Pov end
**
Keesokan harinya…
Donghyun masuk ke kelasnya, duduk di bangkunya dan langsung membuka buku pelajarannya. Itu selalu dilakukannya setiap kali baru datag ke sekolah. Donghyun membuka modul sejarah nya dan langsung membacanya, juga mengerjakan lembar tugas yang disediakan di modul itu. Saat donghyun akan memulai mencoreti kertasnya dengan jawaban-jawaban dari soal, ballpoint donghyun jatuh. “kenapa harus jatuh…..” kata donghyun pada dirinya sendiri sambil membungkukkan badannya untuk mengambil ballpoint nya. Mata donghyun tertuju pada kolong meja nya. Disana terdapat 2 kartu berwarna hijau. Seperti kartu undangan. Donghyun mengambil 2 kartu. Dan sesuai dugaannya, itu adalah kartu undangan, tepatnya undangan ke pesta ulang tahun. Donghyun mengerutkan keningnya, “siapa yang ulang tahun ?” gumamnya. 2 kartu itu tertulis namanya dan nama jonghyun. Donghyun membuka kartu yang bertuliskan namanya. Dengan teliti donghyun membacanya.
‘dddrrrrrttttt dddrrrrttttt’ donghyun merogoh sakunya karena hpnya bergetar dan membuat rasa aneh di paha nya. Donghyun langsung membuka pesannya.
From : HyeChan
“donghyun-a.. hari minggu besok datang ke pesta ulang tahunku ^^.. sekalian aku titip undangan untuk jonghyun, dia serumah denganmu kan ?”
To : HyeChan
“ne, aku akan datang .. tenang saja aku akan memberikan undangan ini pada jjong …”
setelah membalas pesan dari hyechan, donghyun memasukan hp dan undangan itu ke tas nya dan kembali berkutat dengan soal-soal sejarah.
‘ttteeeeeettteeeeeettteeeeetttt’ bel masuk kelas berbunyi. Donghyun menutup modul sejarahnya dan mengeluarkan kertas untuk ulangan setelah seosaengnim mengintruksikan kepada seluruh murid.
**
“aku pulang …” donghyun membuka pintu rumah megahnya dan langsung pergi ke kamarnya. Dia sudah mengira-ngira dan menebak, pasti jonghyun sedang berada di kamarnya. ‘cklek’ pintu terbuka, dan benar saja apa yang dipikirkan donghyun, jonghyun sedang berada di kamarnya, ia sedang mengotak-ngatik laptop kepunyaan donghyun. Donghyun tidak melarangnya, karena kalau saja donghyun berani berbuatseperti itu, mungkin saja ia bisa kena semprot dari eomma dan appa nya.
Yang dilakukan donghhyun adalah berdiri mematung sesaat dan menghembuskan nafas beratnya. Donghyun menghampiri jonghyun dan menyerahkan undangan titipan hyechan untuk jonghyun. Saat undangan dari hyechan diberikan pada jonghyun, ekspresi jonghyun langsung berubah menjadi menyenangkan, bagai mendapat durian runtuh(?).
“inilah saatnya ! aku akan menyatakan perasaanku pada hyechan saat ulang tahunnya ! pasti dia tidak akan menolakku !” kata jonghyun penuh semangat. Donghyun, jika dirinya sudah tidak sadar bahwa dia adalah seorang namja, namja yang kuat, mungkin saja donghyun akan pingsan mendengar apa yang dikatakan oleh jonghyun. Donghyun berusaha bersikap setenang mungkin seperti biasanya dan berpura-pura tegar, tentunya, dan bersikap seolah-olah mendukung apa yang akan dilakukan jonghyun. ‘aku benar-benar munafik..’ kata donghyun dalam hatinya.
**
Minggu, 3 feb
Donghyun dan jonghyun pergi ke pesta ultah hyechan yang meriah. Saat di inti acara, jonghyun maju kedepan dan berlutut sambil memegang kedua tangan hyechan. “kang hyechan, would you be my girlfriend ?” tanya jonghyun.
Donghyun yang melihat pemandangan seperti itu langsung meninggalkan TKP(?) karena ia terlalu sakit melihat hyechan akan membalas pernyataan cinta jonghyun. Donghyun berlari tanpa tujuan. Ia berlari dan terus berlari, tidak terasa, langkah kakinya yang cepat itu mengantarkannya ke taman yang sudah mulai sepi karena keadaan sudah malam.
Donghyun duduk di bangku kosong. Kepalanya menengada ke langit, matanya terpejam. Kembali terputar ingatan dimana jonghyun menyatakan cintanya pada hyechan beberapa waktu yang lalu. Donghyun menutupi kedua matanya dengan sebelah tangannya. “aaaaaarrrrrrgggghhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!” donghyun berteriak frustasi.
“waeyo ?” tanya seorang yeoja yang tahu-tahu ada disebelahh donghyun. Donghyun membuka matanya dan menatap yeoja yang ada disebelahnya. “gwenchana…” jawab donghyun singkat. Yeoja itu tersenyum manis. Yeoja mengulurkan tangannya, mengajak untuk berkenalan, “nan, kim hyesun imnida, neo ?”. donghyun membalas uluran tangannya, “kim donghyun imnida..”
**
Tidak biasanya donghyun malas ke sekolah. Namun ia terus memaksakan untuk pergi ke sekolah. Ia tidak ingin bolos sekolah hanya karena tidak ingin melihat saudaranya berbahagia dengan yeoja yang dicintainya.
Donghyun duduk di bangkunya. Hanya duduk menunggu bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian, bel berbunyi. Seosaengnim masuk dengan membawa seorang yeoja berambut sebahu. Dognhyun menatap yeoja itu, ‘yeoja yang semalam..’ gumam donghyun.
Di depan kelas, yeoja itu memperkenalkan dirinya. “kau bisa duduk di bangku sana!” kata seosaengnim sambil menunjuk bangku donghyun. Kenapa ? karena hanya donghyun saja yang duduk sendiri di kelas. yeoja itu berjalan dengan anggunnya ke bangku donghyund an duduk di sebelah donghyun.
Yeoja itu tersenyum dan donghyun membalas senyumannya. “hyesun-ssi, kita bertemu lagi ^^” ucap donghyun, “ne, sepertinya seoul begitu sempit ya ..^^” balas hyesun.
Bel istirahat berbunyi. Semua murid di kelas donghyun berhamburan keluar kecuali donghyun dan hyesun. “kau tidak ke kantin donghyun-a ?” tanya hyesun. “anii .. aku sedang tidak ingin, lalu kenapa kau tidak ke kantin ?” tanya donghyun, “aku bawa bekal ^^”.
--
Hyechan berjalan setengah berlari(?) menuju ke kelas donghyun. Ia sebenarnya ingin bercerita pada donghyun tentang semalam ia yang diminta jadi kekasih oleh jonghyun namun ditolaknya, “aku sudah punya namja yang kusukai..” hyechan beralasan. Namun, memang benar.. hyechan sudah menyukai bahkan bisa dikatakan mencintai namja itu, sahabatnya, kim donghyun.
“dong….hyun…….” ucap hyechan terbata saat masuk ke kelas donghyun. Hyechan melihat donghyun sedang disuapi oleh yeoja asing. Donghyun dan hyesun menyadari keberadaan hyechan. Mata hyechan memanas, dan hampir berair. Hyechan langsung menhentakkan kakinya dan pergi dari kelas donghyun. Donghyun mengerti itu langsung mengejar hyechan.
Donghyun tahu dimana hyechan berada disaat keadaan hatiny sedang buruk. Sebenarnya donghyun juga kurang mengerti kenapa hyechan terlihat begitu marah saat melihatnya disuapi oleh hyesun.
Donghyun melangkahkan kaki jenjangnya ke taman belakang sekolah. Dan benar saja, donghyun melihat hyechan sedang menangkupkan wajahnya ke lututnya dibawah pohon yang besar dan rindang daunnya. Donghyun menghampiri hyechan. Hyechan menangis, donghyun tidak tahu itu. Donghyun menyentuh pundak yeoja mungil itu. “hyechan? Gwenchana ?” tanya donghyun yang dibalas dengan anggukkan oleh hyechan.
Hyechan mengangkat kepalanya dan menatap donghyun. Kening donghyun mengerut heran, “matamu kenapa ? habis menangis ? siapa yang membuatmu menangis ? kenapa kau bisa menangis ?” tanya donghyun bertubi-tubi.
“oke, aku akan menjawab semua pertanyaanmu.. mataku bengkak karena menangis, yang membuatku menangis ? mungkin kau juga tahu … aku menangis karena melihat namja yang aku sukai bahkan aku cintai bersama yeoja lain ..” donghyun membulatkan matanya, tidak percaya.
“namja yang kau cintai mengkhianatimu ? jadi jjong tidak sungguh-sungguh mencintaimu bahkan sekarang dia bersama yeoja lain katamu ? aisshh .. awas saja sudah membuat orang yang berharga untukku menangis seperti ini..”
Bibir hyechan mengerucut, “kau belum mengerti rupanya ? aku menangis gara-gara kau !”
“eh ? kenapa aku ? kau kan yeojachingunya jjong ?”
“kata siapa ? semalam aku menolaknya…” donghyun terkejut dan mengingat perilaku jjong di rumah malam itu, pantas saja dia murung, ternyata cintanya ditolak. “jadi siapa namja yang kau cintai hyechan ?”
“aisshh .. kau benar-benar telmi ya ….! Aku mencintaimu ….! Dalam pelajaran kau begitu pintar, tapi dalam cinta, tidak kusangka kau begitu bodoh !”
“mwo ? bodoh ? jadi ku berani memanggil namjachingumu sendiri ini dengan sebuutan bodoh ?” donghyun menyeringai, hyechan langsung menghambur dan memeluk tubuh donghyun, “saranghae oppa …”
“nado saranghae chagi …”
**
Hari ini, 12 februari, donghyun dan hyechan sedang berkencan di taman yang berudara sejuk, ramah lingkungan(?). mereka duduk di kursi kosong.
“saengil chukka hamnida oppa^^” ucap hyechan tiba-tiba. Donghyun langsung terdiam. Baru kali ini ada yang mengucapkan selamat padanya selain dari harabeojinya. Bahkan disaat ulang tahunnya kali ini, keluarganya pergi berlibur ke pulau jeju karena sudah memasuki liburan sekolah. Dan seperti biasa, donghyun tidak diajak.
“gomawo chagi, kau yang pertama yang mengucapkannya padaku…”
“ah.. jeongmal ? keluargamu, apa mereka tdak mengucapkannya padamu ?”
“ne, mereka mana mungkin mengingat ulang tahunku..”
“waeyo ?” tanya hyechan, donghyun menjawabnya dengan senyuman. Donghyun menarik tangan hyechan. Donghyun menarik tangan hyechan sampai ke rumah nya. Donghyun membuka pintu rumahnya yang sepi. Donghyun membawa hyechan masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2.
Hyechan duduk di kursi yang ada di balkon kamar donghyun. Sedangkan donghyun membuka lemari baju nya dan mengambil kotak kecil pemberian harabeoji nya. Donghyun duduk di depan hyechan dan meletakkan kotak kecil itu di meja. “oppa, itu kotak apa ?” tanya hyechan penasaran. “molla.. oppa saja belum membukanya dari dulu saat oppa masih berumur 12 tahun..”
“eh kenapa begitu oppa ?”
“harabeoji menjelaskan, katanya oppa boleh membuka kotak ini bila oppa sudah mempunyai yeojachingu dan juga sudah berumur 17 tahun..”
Karena rasa penasaran yang begitu besar, donghyun membuka kotak yang sudah berdebu itu. Donghyun mengeluarkan isinya. Sebuah kalung. Kalung hati, kalung dengan liontin hati yang bisa dibagi 2. Donghyun membagi kalung itu menjadi 2 bagian. Donghyun memakaikan kalung berliontin sebelah hati di lehernya dan memberi isyarat pada hyechan untuk berdiri. Kemudian donghyun memasangkan kalung dengan liontin hati sebelah di leher hyechan. “ini berarti, hati oppa ada padamu, dan hatimu ada pada oppa…”
“ne oppa ^^” ucap hyechan sambil memeluk tubuh donghyun.
Donghyun melepas pelukan hyechan dan menatap hyechan lekat. Kedua tangan donghyun memegang pipi hyechan. “saranghae chagi …”, “nado saranghae oppa …” jawab hyechan yang disambut oleh senyuman dan kecupan hangat di bibir hyechan. Setelah tautan diantara mereka terlepas, mereka kembali berpelukan.
END

0 komentar:
Posting Komentar
coment please ^^