Tittle : Only you, nothing else
Author : Okky Oktavia
Rating : T
Genre : AU, Romance
Length : doubleshot
Main cast : Kim jihyun (OC), LuHan (EXO-M)
Support cast : find it by yourself xP
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves. LuHan © SM Entertainment and themselves
Warning[!!] : OC, OOC, BadFic, Typo[s]
[a/n] 1. yang nggak suka nggak usah baca. Daripada baca ntar ujung-ujungnya mutah(?) ato bash nggak jelas. 2. Ini hanya fanfiction, hanya imajinasi author ^^. 3. Ceritanya, luhan itu orang korea ya xD. 3. Mian kalo alurnya kecepetan.. hehe.. author suka yang cepet2 kayak rapp nya chanyeol(?) *digampar*
Previous part
“oppa, aku ingin bertanya kepadamu, boleh ?” Tanya jihyun pada luhan saat mereka sedang makan siang bersama. Luhan menelan makanannya. “ne, tapi habiskan dulu makanannya..” perintah luhan.
“ne..” jihyun mulai menyuapkan sendok demi sendok makanan.
.
.
“mau bertanya apa ?” Tanya luhan saat makanan mereka sudah habis.
“eng… aku mau bertanya, kenapa oppa menyukai yeoja sepertiku ?”
“………”
“kenapa oppa menyukai yeoja sepertiku ? lihatlah, aku mempunyai pipi chubby.. kenapa oppa menyukaiku?” luhan mengacak rambut jihyun dengan senyuman yang selalu menempel.
“benar kau ingin tahu ?” Tanya luhan meyakinkan.
“ne”
“kau itu lucu….” Ucap luhan.
“jinja ??” mata jihyun berbinar mendengar jawaban dari luhan.
“seperti babi^^” lanjut luhan
“………………..”
Part 2 (Ending)
‘PLAKK’
Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi putih luhan. “hya~! Apa yang kau lakukan ?!” protes luhan dengan suara sama persis dengan suara minseok. “oppa? Suaramu mirip suara minseok oppa ==”
“aku memang minseok! Aku oppamu!” tiba-tiba wajah luhan berubah menjadi wajah minseok.
.
.
Jihyun terbangun dari mimpi anehnya dan mendapati minseok, oppa nya sedang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya sambil berkacak pinggang. Jihyun mengucek matanya yang masih penuh dengan oleh-oleh darri alam mimpi. Jihyun menatap oppanya dengan tatapan bertanya-tanya. “oppa, kau kenapa ?” Tanya jihyun yang masih terduduk di kasurnya.
“kau yang kenapa ? tidur tapi berteriak-teriak” jawab minseok.
“ahh.. jinja ?? memangnya aku berteriak apa oppa ?”
“kau berteriak –dasar kangguru bodoh!- dan juga berlaga seperti sedang menampar orang, kau bermimpi apa ?” Tanya minseok.
Jihyunn menggeleng pelan. “entahlah.. mimpiku aneh dan juga rumit.. sekarang jam berapa oppa ?”
“jam 10. Waeyo ?” Tanya minseok dengan wajah yang santai.
“mwo ? jam 10 ?! aku ada kuliah pagi oppa! Kenapa oppa tidak membangunkanku ?!” protes jihyun.
“aku sudah membangunkanmu dari tadi ! kau saja yang seperti kerbau pemalas!”
“aku lebih rela dipanggil bakpao pemalas==”
“aishh.. sudahlah.. oppa mau pergi dulu, ada janji. Kau bolos saja, tanggung.. hehe.. jaga rumah ya ?!” jihyun mengangguk terpaksa.
Jihyun Pov
Tidak kuliah. Membosankan. Apa yang harus kulakukan ? jalan-jalan keluar ? aku tidak mempunyai teman. Teman ? ah iya, aku kan mempunyai namjachingu. Hamper saja aku melupakan luhan oppa. Yeojachingu macam apa aku ini. ah, sebaiknya aku meneleponnya.
Baru saja aku membuka contact list. Dan bodohnya aku, aku belum mempunyai nomornya. Sama sekali tidak terpikir olehku. Aku harus melakukan apa ? aku sangat bosan. Minseok oppa juga belum kembali. Dia kemana ? ah.. molla. Aku tidak bisa kemana-mana kalau minseok oppa belum kembali. Aku kan diperintahhnya untuk menjaga rumah. Dan aku tidak boleh kemana-mana. Dasar kejam, kenapa bakpao memenjarakan adik bakpao nya.
Author Pov
Jihyun duduk di sofa sambil menonton televise. Tidak ada acara yang menarik. Dari tadi jihyun terus memindahkan chanel. “aku lapar” gumamnya. Jihun berdiri dan berjalan ke dapur. Jihyun membuka pintu kulkas. “aigo~ kenapa tidak ada makanan.. aku lapar” jihyun kembali ke ruang tv. Jihyun mencari kontak oppa nya, minseok.
“yeobseyo, oppa.. aku lapar” ucap jihyun dengan nada mengenaskan.
“kau tinggal makan, apa susahnya!” sahut minseok di seberang sana.
“tapi tidak ada makanan di kulkas oppa..”
“kau tinggal membelinya ke super market!”
“tapi, tapi, tadi kan oppa menyuruhku menjaga rumah..” kata jihyun pasrah.
“aigo~ kau benar-benar bodoh.. tinggal kunc pintu rumah dank au bisa pergi”
Jihyun menepuk keningnya, “ah ne.. gomawo oppa^^” jihyun memeutuskan sambungan telepon, lalu meraih kunci rumah yang terletak di atas tv.
.
.
Jihyun masuk kedalam super market dan memilih makanan yang ia inginkan. Ia membeli banyak snack, lalu membawanya ke kasir dan membayarnya. “hari ini aku akan kenyang .. haha” ujar jihyun ketika keluar dari super market.
Jihyun sengaja berjalan kaki untuk sampai di rumah karena ia ingin menghilangkan rasa bosan dengan berjalan-jalan di luar. “aku mau kue beras” gumam jihyun sambil melirik pedagang kue beras di tepi jalan.
“tapi aku bisa gemuk, lebih baik jangan” jihyun kembali berjalan menelusuri trotoar. Jihyun berjalan melewati banyak toko dan caffe. Jihyun selalu melirik setiap tempat yang ia lewati. Satu caffe yang membuat jihyu tertarik untuk terus memerhatikannya. Bukan karena desain caffe yang menarik, tapi karena seseorang yang sedang duduk di caffe itu yang membuat jihyun terus menatap caffe itu.
Jihyun menatap seorang namja yang sangat ia kenal bebrapa har kemarin, luhan. Jihyun menatap luhan yang berada di caffe itu. Luhan sedang duduk dengan kepala menunduk dan seorang yeoja di sampingnya. Yeoja yang kemarin membentak jihyun di kampus gara-gara ia tahu jihyun berpacaran dengan luhan.
Luhan terus menundukan kepalanya. Jihyun terus memerhatikan luhan dari luar. Tiba-tiba yeoja yang membentak jihyun mengecup pipi luhan. Dan luhan langsung menatap yeoja itu. “ada yang bisa saya bantu ? saya perhatkan dari tadi anda hanya menatap dari luar ?” seorang waiter menegur jihyun. “aniyo..” jihyun membungkukkan badannya dan berjalan menjauhi caffe itu.
**
Jihyun melangkahkan kakinya ke dalam kampus dengan semangat. Tubuhnya semangat namun hatinya masih lesu mengingan kejadian yang dilihatnya kemarin.
Jihyun sampai di kelasnya. Dan ia melihat yeoja yang bersama luhan kemarin. Choi jinri. Ia sedang bergosip dengan teman-temannya. Jihyun duduk di kursinya dan membuka novelnya.
“kemarin aku berkencan bersama LUHAN!!” jinri mulai berbicara keras dan member penekanan saat menyebutkan nama Luhan. Jihyun terkejut mendengarnya namun ia berusaha untuk tetap tenang. “kemarin aku juga mengecup pipinya dan kalian ingin tahu bagaimana reaksinya?” jinri berbicara lagii. “ne, kami ingin tahu” timpal teman-temannya dengan suara yang nyaring.
“dia menatapku dalam, ia tersenyum, dan ia mencoba menciumku, namun aku menolaknya.. mana mungkin aku menerima ciuman darinya di tempat umum, aku kan juga punya malu.. haha” jihyun semakin menunduk, ia tahan cairan bening yang berusaha ia tahan. ‘aku tidak boleh menangis, kim jihyun yeoja kuat.. jihyun harus mendengarkan kata-kata minseok oppa, kata minseok oppa, aku tidak boleh cengeng karena apapun’ ucap jihyun dalam hati.
Jinri dan teman-temannya keluar kelas karena mereka merasa sudah puas membuat jihyun tambah pikiran dengan pembicaraan mereka. Jihyun terus menundukan kepalanya. Bahkan dosen berkicau di depan kelas tidak ia perhatikan.
**
Jihyun berjalan dengan langkah gontai keluar dari kampusnya. Seperti biasa ia duduk di halte bus, menunggu bus yang lewat. Jihyun mengeluarkan ipodnya tak lupa dengan headset yang selalu ia bawa kemana-mana. Novel yang belum selesai ia baca pun dikeluarkan. Jihyun fokus pada novel dan music yang ia dengarkan. Hingga jihyun tidak menyadari kehadiran seorang namja yang kin sedang berdiri di hadapannya.
Namja itu tersenyum kecil dan mengacak rambut jihyun pelan, hingga yang dielus mendongkakkan kepalanya dan tersenyum tipis. Hanya tersenyum tipis, tidak ada senyuman lebar dari jihyun untuk luhan sepert kemarin lusa. “kajja, kita pulang^^” luhan menarik tangan jihyun menuju sepeda nya. Jihyun hanya mengikuti luhan tanpa berkata sepatah katapun.
Jihyun duduk di boncengan sepeda luhan. Dan luhan meraih tangan jihyun dan melingkarkannya di pinggangnya seperti kemarin-kemarin. Namun seiring jalannya sepeda, jihyun melepaskan pegangannya di pinggang luhan dan lebih memilih untuk berpegangan pada jok sepeda yang di duduki luhan.
“kenapa kita turun disini oppa ?” tanya jihyun pelan. Mereka berada di sebuah daerah yang sejauh mata memandang mereka hanya melihat hamparan rumput hijau dan bermacam-macam bunga liar yang tumbuh dimana-mana.
“kau kenapa hmm ? kau ingin cepat pulang ? wae ? kau tidak mau bersamaku ?”
“akan kujawab satu persatu, hehe” luhan ikut tersenyum karena melihat senyuman jihyun.
“oppa bertanya kenapa, sejujurnya aku tidak apa-apa. Kedua oppa bertanya apa aku ingin cepat pulang, dan memang aku ingin pulang tapi jika oppa ingin aku menemani oppa di sini, aku akan menemani oppa. Pertanyaan ke 3 sepertinya sudah terjawab, jawaban pertanyaan ke 4, aku mau bersama oppa asalkan oppa juga mau bersamaku” jawab jihyun panjang lebar, membuat luhan terkikik karena mendengarkannya.
“aku selalu ingin bersamamu chagi~, kemarin kau kemana hmm ??” Tanya luhan saat mereka sedang duduk bersebelahan di bawah pohon yang memayungi tubuh mereka dari sinar matahari yang panas. “kemarin aku di rumah..” jawab jihyun.
“kau tidak kuliah ?” jihyun mengangguk. “ne, aku terlambat bangun..” jawab jihyun seadanya.
“chagi~ kau kenapa ? apa kau sakit ? tidak seperti biasanya kau diam seperti ini ?” Tanya luhan khawatir. Luhan merangkul pundak jihyun sampai tidak ada jarak diatara mereka. “gwenchana~ aku hanya sedang tidak mau banyak bicara”
“mau pulang ?” jihyun mengangguk dan melepaskan rangkulan luhan. Jihyun berdiri dan berjalan meninggalkan luhan. Luhan berdiri lalu mengikuti jihyun. “kuantar.. aku khawatiir padamu..” luhan menggenggam tangan luhan.
.
.
“omawo sudah mengantarkanku pulang, oppa hati-hati di jalan” ujar jihyun masih dengan senyuman kecil lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Luhan terus saja menatap jihyu hngga yeoja itu masuk kedalam rumahnya. Luhan terus menatap pintu rumah jihyun yang tertutup. Hingga pintu rumah jihyun terbuka dan muncul seorang namja yang begitu mirip dengan jihyun. namja itu yang tak lain adalah minseok, oppa jihyun berjalan mendekati luhan yan masih setia berdiam di depan rumah jihyun. “mian, kau ini siapanya jihyun ? tadi kau mengantarnya pulang kan ?” Tanya minseok.
“aku luhan, namjachingu jihyun” jawab luhan.
“aku minseok, oppa jihyun. sebaiknya kau masuk dulu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan” kata minseok, luhan mengangguk dan menyusul minseok dari belakang.
Luhan duduk di kursi ruang tamu setelah dipersilahkan oleh minseok. Minseok pergi ke dapur, dan kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan dengan minuman di atasnya. Diberikannya minuman itu kepada luhan, “gomawo” ucap luhan, minseok mengangguk dan tersenyum, lalu duduk di hadapan luhan.
“em.. sebenarnya apa yang akan kau bicarakan ?” Tanya luhan.
“ani, sebenarnya aku hanya ingin bertanya padamu satu hal..”
“ne ?”
“apa kau merasa jihyun berubah hari ini ?” Tanya minseok dengan wajah serius.
“sebenarnya hanya satu yang kurasakan berbeda pada diri jihyun. hari ini dia tidak banyak bicara seperti biasanya..” jawab luhan dengan wajah lesu.
“kau tidak tahu dia kenapa kan ? kau ingin tahu ?” luhan mengangguk.
“jika jihyun bersikap berbeda dari biasanya, itu tandanya ada sesuatu yang membuat hatinya sakit, ada sesuatu yang mendorongnya untuk menangis..” jelas minseok lirih. Luhan mengangguk mengerti.
Luhan pamit pulang pada minseok karena memans sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Luhan sudah mengerti kenapa jihyun banyak diam hari ini. dan juga luhan sudah menemukan penyebab jihyun menjadi seperti ini.
1 week later
Jihyun duduk di kursinya sambil mengerjakan laporannya yang belum selesai. Sudah seminggu ini dia tidak banyak bicara kepada siapapun. Bahkan ketika bersama luhan ataupun minseok, ia hanya berbicara seadanya, tidak seperti jihyun yang biasa.
Tiba-tiba jinri dan teman-temannya datang dan bergosip seperti biasa. Mereka berbicara dengan suara nyaring, membuat orang yang berada di dalam kelas merasa terganggu dengan suara bising yang ditimbulkan jinri dan teman-temannya.
Tidak ada yang berani menegur jinri dan teman-temannya itu, karena bila ditegur, mereka akan semakin membuat kelas lebih bising. “kalian tahu ? kemarin luhan oppa mengajakku kencan ke caffe baru di dekat kampus, itu sangat menyenangkan !” pekik jinri kegirangan.
Jihyun semakin tertunduk dan jari-jari tangannya mulai kasar menekan-nekan keyboard laptopnya. Jinri mendelik pada jihyun dan ia merasa puas dengan reaksi yang ditimbulkan jihyun akibat dari ulahnya.
“kemarin juga, luhan oppa mentraktirku makan, lalu dia menyuapiku, bukankah itu sangat romantic huh ? aku tahu sebenarnya luhan oppa itu sangat menyukaiku!” jinri kembali bercerita dengan suara cemprengnya.
“jinja ?” terdengar suara seorang namja di pintu kelas. semua orang di kelas langsung terdiam dan semua pandangan tertuju pada namja itu. Jinri terlihat gelisah akibat kehadiran namja itu. ‘kenapa dia bisa ada di sini ?’ batin jinri bertanya-tanya. Namja itu, yang ternyata luhan, berjalan kearah jihyun yang sedang duduk dengan kepala menunduk. Luhan berdiri di samping jihyun.
“semua yang dikatakan yeoja itu” ujar luhan sambil menunjuk jinri dengan tangannya.
“semua yang dikatakannya, semua yang dikeluarkan dari mulut manisnya itu, semua yang dikatakannya tentangku, itu adalah bohong ! aku tidak pernah melakukan semua itu padanya! Aku hanya mengajarinya belajar bahasa mandarin, aku tidak melakukan hal apapun selain itu! Jika aku melakukan semua itu, sungguh aku telah mengkhianati seseorang yang sangat berharga untukku” lanjut luhan sambil merangkul pundak jihyun.
Jinri yang menjadi ‘tersangka’ utama hanya diam, terpaku di tempatnya. Dengan perlahan raut wajah jinri berubah, semula berwarna putih, kini berwrna merah padam karena ia merasa sangat malu karena kebohongan yang dibuatnya terbongkar. Dengan langkah cepat jinri berjalan keluar diikuti teman-temannya.
**
Luhan membawa jihyun ke padang rumput yang pernah dikunjunginya bersama jihyun seminggu yang lalu. “kau sudah tidak marah lagi padaku kan ?” Tanya luhan sambil menggenggam tangan jihyun. meraka berhenti berjalan. Jihyun memosisikan tubuhnya menghadap luhan. “aku tidak pernah marah padamu^^” jawab jihyun.
“jinja ? tapi, aku tahu dari oppa mu jika kau banyak diam, berarti kau sedang marah dan juga sering menangis .. mianhae..” luhan tertunduk.
“aku memang banyak menangis seminggu ini.. aku memang marah, tapi aku benar-benar tidak bisa bersikap seperti ini lebih lama padamu..”
“mian, ini semua salahku.. mianhae chagi~”
“tidak perlu meminta maaf.. oppa tidak salah.. haha.. aku saja yang terlalu bodoh mempercayai perkataan jinri, hingga aku seperti ini^^”
“syukurlah..” ucap luhan ega.
Luhan berjongkok dan mengambil setangkai bunga liar yang tumbuh diantara rrerumputan. “ini namanya easter lily flower, bunga ini sangat indah dan juga cerah.. untukmu ^^” luhan menyelipkan setangkai bunga lily berwarna kuning itu di bando yang dikenakan jihyun. “neomu yeppeo” ujar luhan. Jihyun hanya tersenyum tersipu malu.
Luhan meraih tubuh jihyun dan memeluknya erat. “mulai sekarang, jangan terlalu percaya pada ucapan tak bermutu dari orang lain, ne ? apapun yang orang katakan, jangan percaya, karena cintaku hanya untuk dirimu, tidak untuk yang lain .. only you, nothing else~!” jihyun tersenyum dan mengangguk.
Luhan melepaskan pelukannya. Mereka duduk di bangku kayu yang berada tak jauh dari mereka. “oppa, aku mau bertanya padamu satu hal, boleh ?”
“bertanya beribu-ribu hal pun akan kuperbolehkan..”
“kenapa oppa menyukaiku ? kenapa oppa mencintaiku ?” Tanya jihyun.
“kau itu lucu^^” jawab luhan.
“jinja ??” mata jihyun berbinar mendengar jawaban luhan. Namun jihyun teringat kembali pada mimpinya, dimana luhan mengatakan kalau jihyun itu lucu mirip babi. Mata berbinar jihyun kini lenyap sudah.
“kau itu lucu seperti boneka^^” jihyun akhirnya bisa bernafas lega.
“seperti boneka jjinbang milikku xD” lanjut luhan.
“mwo ? kau menyamakanku dengan boneka bakpao huh ??” jihyun mencubit pinggang luhan. “aww!! Ahaha.. aku hanya bercanda xD, mau tahu jawabanku ?” jihyun berhenti mencubit luhan. “ne, palliwa~!”
“aku menyukaimu, aku mencintaimu tanpa alasan.. aku tidak mempunyai alasan untuk menyukaimu ataupun mencintaimu”
“maksudnya ?”
“aku mencintaimu, aku tidak tahu karena apa.. tapi yang aku tahu aku mencintaimu apa adanya.. jika aku mencintaimu karena kau cantik, itu bukan cinta, itu nafsu~ kekekeke~!”
“jeongmal ?” Tanya jihyun. luhan mengangguk. Jihyun memeluk tubuh luhan erat. “saranghae oppa~” ucap jihyun.
“nado saranghae” sahut luhan dan membalas pelukan jihyun.
**
“my love for you only, not for others, only you nothing else” Luhan.
**
END

bagus :)
BalasHapuskekeke..
blog walking nih :D
gomawo ^^
HapusAaa ngefly sendiriu,u
BalasHapus