Jumat, 20 Januari 2012

My Baby Loved | chapter 3 | My Past is Re-Imagined

Tittle : My Baby Loved | chapter 3 | My Past is Re-Imagined
Author : Okky Oktavia | Keii’s
Rating : G
Genre : AU, Romance, Angst
Length : chaptered (3 of ?)
Cast :
1.      Han Minchan (OC)
2.      Jo YoungMin
3.      Han MinWoo (OC)
4.      Jo KwangMin
5.      Lee Chanhee (ChunJi)

*cast akan bertambah atau berkurang (?) di chapter yang lain*
Warning : OOC, typo(s), gaje


**

Previous Chapter …….

“minchan ?” panggil seorang namja yang melintas di depan minchan, youngmin dan minwoo. “minchan, kau sudah menikah ?” tanya namja itu lagi.
“aku ………”
Youngmin menatap namja itu penasaran. Youngmin tidak segan-segan memegang tangan minchan di depan namja itu. Namja itu terlihat tidak suka. Youngmin melakukan itu karena merasa namja itu mempunyai satu hubungan dengan minchan yang tidak diketahuinya.

Chapter 3 begins now !!
My Baby Loved | My Past is Re-Imagined

“minchan-a, dia suami mu ? cih .. mirip anak kecil …” cibir Chanhee. Minchan menunduk dan youngmin semakin erat memegang tangan minchan. Lalu minchan berdiri dan menatap langsung ke mata namja yang ada di depannya, lee Chanhee, namja yang sama sekali youngmin tidak mengenalnya, bahkan mengetahuinya saja tidak.
“aku belum menikah Chanhee-ah…” kata minchan tegas. Chanhee memicingkan matanya ke kereta bayi yang ada di depan youngmin. “jangan kau tanya itu anak siapa, aku hanya menemukannya di depan apartemenku..” jelas minchan tanpa diminta oleh Chanhee. “aku tidak tanya” kata Chanhee singkat.
“ah mianhae Chanhee-ssi, bisa kau tinggalkan kami ? kau menghampiri kami hanya untuk mengajak berdebat …” youngmin berdiri dari duduknya. Chanhee memasukkan kedua tangannya ke saku celana nya dan memamerkan smirk nya. “bahkan sekarang kau tidak memanggilku chunji lagi .. geurae .. aku akan pergi .. geundae, antara aku dan minchan masih ada banyak hal yang perlu dibicarakan .. arraseo minchan-a ? nanti akan kuhubungi lagi” Chanhee berlalu dari hadapan youngmin dan minchan. Minchan dan youngmin kembali duduk di kursi itu sambil menikmati pemandangan yang sedikit tertunda akibat kejadian tadi.
Terlihat jelas, minchan tidak menikmati pemandangan indah sore ini sejak namja yang bernama Chanhee tadi muncul di hadapannya. Melihat keadaan minchan yang seperti itu, youngmin merangkul pundak minchan dan menyandarkan kepala minchan di bahu nya.
Minchan berdiri dari duduknya, “kajja youngie, kita pulang .. kasihan kwangmin di apartemen .. minwoo juga terlihat sudah lelah..” ajak minchan dengan senyum tulus, walaupun terlihat jelas, setulus apapun senyum minchan pada saat ini, hatinnya pasti sangat tertekan. Youngmin membalas ajakan minchan dengan senyumnya, lalu berdiri dan mendorong kereta minwoo, “kajja…”.

--

‘cklek’. Pintu apartemen terbuka. “ah.. hyung, noona.. akhirnya kalian pulang .. lihatlah pekerjaan ku .. ini pasti meringankan beban noona membereskan apartemen ini .. iya kaan ?” kata kwangmin sambil memamerkan hasil kerja nya, membereskan apartemen, kepada minchan dan youngmin. Minchan tersenyum lebar setelah melihat hasil pekerjaan kwangmin. barang-barang minwoo yang dibawakan jung ajusshi yang tadi terletak di ruang tengah kini sudah ditempatkan di kamar minchan, ranjang minwoo yang juga dibawakan jung ajusshi yang juga tadi terletak di ruang tengah, kini sudah di jejalkan di kamar minchan. Kenapa kwangmin meletakan barang-barang minwoo di kamar minchan, terutama ranjang nya ? itu karena kwangmin tahu, kalau minwoo tidur di kamar hyungnya, lalu bangun di tengah malam, sekeras apapun tangisan minwoo, takkan membangunkan hyungnya, si raja tidur ini.
“gomawoyeo kwangmin-ah.. ^^”
“ah .. geurae … kalau begitu, youngie, kau urus minwoo ya .. kwangmin, kau lelah kan ? aku akan memasak ^^” kata minchan semangat. Youngmin tersenyum ‘akhirnya dia sedikit melupakkan kejadian tadi, syukurlah ..’ batin youngmin.
Kwangmin berjalan menghampiri minchan dan kwangmin memeluk minchan erat. Minchan membulatkan mata nya. “gomawo noona^^”. Pelukan kwangmin terlepas karena youngmin menarik baju kwangmin dengan kuat. “aisshh.. kau ya, beraninya kau memeluk temanku ..” kata youngmin. “jiah .. teman apa teman tuh ..” cibir kwangmin sambil menghampiri kereta minwoo dan menggendong minwoo yang sedang bermain sendiri di kereta nya.
“kajja minwoo-a.. main sama hyung saja.. appa mu lemot .. lihat saja tuh ..” minwoo hanya tertawa di pangkuan kwangmin. minchan langsung bergegas ke dapur, karena tidak ingin kedua teman baru nya menunggu.
Kwangmin berjalan ke ruang tengah dengan menggendong minwoo dan youngmin mengikutinya. “hyung, umur minwoo berapa bulan ?” tanya kwangmin sambil mendudukkan minwoo di atas lantai yang beralas karpet. Youngmin dan kwangmin juga ikut duduk di lantai beralas karpet itu. “8 bulan .. waeyo ?” tanya youngmin sambil mengotak ngatik handphone nya.
Kwangmin mendengus, “ya hyung, kau tidak tahu ? seharusnya bayi dengan umur begitu, harusnya jangan banyak di gendong, harusnya sudah mulai diajarkan berjalan.. minwoo sudah bisa duduk kan ? berarti tahap selanjutnya adalah tumbuh gigi atau berjalan dulu ..” jelas kwangmin. youngmin hanya manggut manggut dengan tangan yang masih bermain dengan handphone nya. “hyung kau menggerti tidak sih ?!”. “ne, aku mengerti .. aku akan mengajarinya berjalan ..” jawab youngmin, kwangmin tersenyum puas.
Minwoo merangkak mendekati youngmin dan mencoba berdiri dengan berpegangan pada lutut youngmin. Youngmin membantu minwoo berdiri. Setelah minwoo berdiri, tapi keseimbangan minwoo hilang, minwoo kembali terduduk di lantai. Youngmin dan kwangmin tersenyum melihat minwoo. Sudah jatuh, tapi tidak menangis, anak pintar.
Youngmin mengangkat tubuh mungil minwoo dan mendudukannya di paha nya. “hyung, apa kau berniat mencari orang tua minwoo ?” tanya kwangmin. youngmin sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan kwangmin. “mollayeo .. aku merasa sayang pada anak ini … yah .. walaupun aku tahu kalau minwoo ini bukan anakku ..” jawab youngmin.

--

Minchan selesai memasak. Ia hanya memasak 3 mangkuk ramen. Minchan membawa nya ke ruang tengah. “ini,, mianhae .. aku hanya memasak ramen ..” kata minchan. “ah , gwenchana noona .. ini sudah lebih dari cukup” kata kwangmin sambil membawa 1 mangkok ramen di baki. “minwoo-a, kemari, kajja kita makan ^^..”. minwoo kecil menoleh kearah minchan dan langsung bergerak merangkak ke arah minchan. Ketika minwoo merangkak lebih dekat kearah minchan, minwoo langsung mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada tangan minchan yang terulur kearah minwoo. Minchan tersenyum lebar “aa.. anak umma rupanya sudah mau belajar berjalan ya ..? kalau begitu ayo kita ke dapur ^^” kata minchan sambil menuntun minwoo dengan memegang kedua tangan minwoo dan berjalan menuju dapur.
Di ruang tengah tersisa kwangmin dan youngmin. Kwangmin tersenyum aneh pada youngmin yang sedang memakan ramen nya. “ya, kalau kau menatapku sambil tersenyum aneh seperti itu, bagaimana aku bisa melanjutkan makan ?” seru youngmin.
“kau kenapa sih ?” tanya youngmin.
“ahaha.. aniyo hyung … aku hanya berpikir, minchan noona itu tipe wanita yang keibuan, dia juga cantik, aku hanya merasa aneh pada hyung, apa hyung tidak pernah tertarik padanya ?”
Mata youngmin membulat sempurna. “mwo ? tidak mungkin lah .. aku hanya menganggapnya sebagai teman .. dan minchan juga menganggapku teman”
“oh … begitu ya hyung.. berarti kalau aku menyukai minchan noona, hyung tidak marah kan ?”
“te… tentu saja tidak, untuk apa aku marah ?” sebenarnya youngmin menjawab seperti itu agak ragu, karena kalau dibilang youngmin itu menyukai minchan, itu tidak mungkin, dan kalau dibilang youngmin itu tidak menyukai minchan, tapi kenapa hati youngmin agak kurang menerima perkataan kwangmin tadi.
“hyung ? kenapa kau melamun ?” tanya kwangmin sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah tampan youngmin. “ah aniyo .. hanya saja akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiran..” jawab youngmin. “aa.. hyung memikirkan minchan noona ya ?” tebak kwangmin.
“mwo ? dasar dongsaeng so’ tahu ..”
“ah.. berarti benar ya..”
“aisshh .. bukan, aku bukan memikirkan itu ! aisshh sudah lah terserah kau saja.. berbicara denganmu tidak akan selesai sampai kapanpun !” kata youngmin sambil berdiri dan hendak ke dapur, menyimpan mangkok ramen yang sudah bersih dari isinya.
“eh hyung, muka mu merah tuh .. hehe ..” ledek kwangmin. youngmin mempercepat langkahnya menuju dapur.

--

Youngmin menemukan minchan sedang menyuapi minwoo yang sedang duduk di kursi khusus bayi di dapur. Youngmin mencuci sendiri mangkoknya. Setelah selesai, youngmin menghampiri minchan yang ternyata sudah selesai menyuapi minwoo.
“anak appa rupanya sudah selesai makan ^^, sini main sama appa, kasihan umma, kelihatannya lelah .. ne ?” youngmin langsung mengangkat minwoo dari kursinya. “channie, lebih baik kau tidur .. ne ? kau terlihat sangat lelah ..” suruh youngmin. Minchan mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamarnya.

--

Kwangmin Pov

Sudah kuduga.. memang terlihat jelas youngmin hyung memang menyukai minchan noona. Tapi, secepat itu kah youngmin hyung melupakan yeoja yang begitu dicintainya dulu sehingga membuat youngmin hyung pindah dari rumah? Aisshh .. ternyata ..
Kulihat minchan noona berjalan lemah menuju kamarnya. Dia terlihat sangat lelah. Kasihan, mungkin dia terlalu lelah mengurus minwoo dan juga youngmin hyung. Minchan noona masuk kamarnya dan juga menutup pintunya.
Aku penasaran, apa yang dia lakukan di kamar. Kulangkahkan kakiku menuju pintu kamar minchan noona. Kubuka dengan perlahan pintu kamarnya agar tidak menimbulkan suara. Pintu sedikit terbuka dan minchan noona tidak menyadarinya.
Kulihat posisi minchan noona tengkurap di kasurnya. Dan juga aku mendengar tangisan disana. Apa ini efek karena kecapekan ? ahh.. tidak mungkin. Lantas, minchan noona kenapa menangis ? apa karena youngmin hyung menyakitinya ? ah, apa itu mungkin ? kurasa tidak .. atau gara-gara diputuskan namjachingu nya ? aku rasa itu tidak mungkin, karena selama ini minchan noona selalu diam di apartemen, mengurus apartemen, minwoo dan youngmin hyung.
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, namun tidak ada satupun aku menemukan jawabannya. Aisshh.. sudahlah .. aku menyerah.. sebaiknya aku tanya langsung saja pada youngmin hyung.
Aku berbalik dan keluar dari kamar minchan noona, lalu menutup kembali pintunya secara pelahan. Jalan ku agak cepat menuju dapur. Itu karena aku khawatir dengan keadaan minchan noona. Mungkin karena aku menyukainya. Hehe . tapi, itu hanya sekedar perasaan suka, tidak lebih. Aku suka minchan noona yang keibuan, yang sabar, yang bisa mengurus youngmin hyung.
“hyung, minchan noona kenapa ? dia menangis di kamarnya, itu ulah hyunng ya ?” tanyaku pada youngmin hyung yang sedang berusaha membuat minwoo tidur di gendongannya. “ssssttt” . aku pun langsung diam. Kulihat, minwoo sudah terlelap di pangkuan youngmin hyung. Dan  youngmin hyung langsung menidurkannya di kamarnya, karena kamar minchan noona pintunya tertutup. Mungkin hyung tidak mau mengganggu minchan noona.
Youngmin hyung kembali ke dapur setelah menidurkan minwoo. Di wajahnya tersirat perasaan khawatir. “ya! Benar minchan menangis?” tanya youngmin hyung.
“ne, untuk apa aku bohong ? itu ulah hyung ?”
“mwo ? aku tidak tahu apa-apa.. apa mungkin gara-gara …..”
“gara-gara apa hyung ?
“nanti saja kuceritakan, akan kupastikan dulu, aku akan berbicara dengan minchan sekarang.. tolong jaga minwoo, kalau dia bangun, tolong buatkan dia susu dan buat dia tidur lagi, ne ?”
Aku mengacungkan jempolku pada youngmin hyung tanda setuju.

Kwangmin Pov End

Youngmin membuka kamar minchan dan menutupnya kembali. Youngmin mendengar minchan menangis. Benar apa yang tadi kwangmin katakan. Youngmin duduk dipinggiran kasur minchan dan mengelus puncak kepala minchan. “channie, kau ada masalah ? mungkin kau bisa berbagi denganku, agar kau bisa merasa lebih lega ..” tawar youngmin. Minchan bangun dari posisi tidurannya yang tengkurap lalu menyeka air mata yang hendak keluar dari sudut mata nya.
Youngmin memegang pundak minchan. “berceritalah padaku, mungkin itu akan membuat perasaanmu lebih baik..”
Minchan duduk bersila di kasurnya, youngmin juga ikut duduk seperti minchan. Mereka duduk berhadap-hadapan. “kau mau mendengarkan ceritaku youngie ? jeongmal ?”
“ne .. ceritalah kalau itu membuatmu lebih baik ..”
“emm .. baiklah .. ini semua ada kaitannya dengan namja yang tadi sore..” minchan memulai cerita nya. “dia, lee chan hee, tapi aku biasa memanggilnya chunji, mantan namjachingu ku waktu aku masih kuliah setahun yang lalu .. sebernarnya aku yang memutuskan dia.. karena kupikir dia memang mengkhianatiku ..” lanjut minchan. Youngmin sedikit terkejut karena sebab minchan menangis adalah namja yang tadi sore muncul di hadapan mereka. Tapi youngmin mencoba untuk tenang dan mendengarkan cerita minchan untuk mengetahui kepastian dan kebenarannya.

-FlashBack-

Minchan sedang menunggu chunji di parkiran, karena mereka memang janjian untuk pulang bersama. Entah sudah berapa kali minchan melirik jam tangannya. Chunji tidak kunjung datang. Sudah 26 menit minchan menunggu di tempat parkir. Padahal cuaca sangat panas. Terik matahari membuat keringat mengucur deras di pelipis minchan.
Minchan mengecek hp nya, mungkin saja ada telepon atau hanya sekedar sms dari chunji, namjachingu nya. Hasilnya nihil, tidak ada satu panggilan atau satu pesan pun dari chunji. Yang dirasakan minchan saat ini adalah sedikit rasa kecewa dan juga gerah. Karena ia terlalu lama menunggu chunji di tempat yang panas dan juga cuaca sepanas ini.
Minchan melangkahkan kaki nya ke toilet yang ada di kampus. Minchan membasuh wajahnya yang kepanasan di washtafel. Lalu menata kembali rambutnya yang agak acak-acakan. Minchan keluar dari toilet dan memutuskan untuk menunggu chunji di taman. Minchan duduk di kursi yang berada di bawah pohon yang rindang, kini minchan bisa terlindungi dari terik sinar matahari.
Minchan kembali melirik jam tangannya dan mengecek hp nya. Hasilnya masih tetap sama seperti yang tadi. “aisshh .. kalau memang dia akan pulang duluan atau ada janji dengan siapapun, ya tinggal bilang saja .. aku tidak akan marah atau apa .. tapi, baiknya dia menghubungiku dulu, karena aku bisa-bisa lumutan karena terlalu lama menunggunya” keluh minchan dalam hatinnya.
Minchan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Minchan agak menyipitkan matanya, apakah yang dilihatnya itu benar-benar chunji atau mincahn hanya salah lihat. “oppa…….” Kata minchan lirih setelah melihat seorang namja yang sangat ia cintai sedang berpelukan dengan seorang yeoja. Air mata kembali menggenang di mata indah minchan.
Minchan bangkit(?) dari duduknya dan langsung pulang ke rumah. Ia merasa sangat sakit hati (sangat sakit hati sekali pake banget*plakk#author eroro*). Di perjalanan pulang, minchan terus saja menyeka air mata nya yang hampir jatuh. Ia tidak peduli pada orang-orang yang memerhatikannya. Yang minchan inginkan sekarang adalah kembali ke rumahnya untuk menenangkan diri.
Tidak butuh waktu yang lama, minchan sampai di rumahnya. Ia langsung masuk setelah memberi salam pada umma nya. Minchan tidak memberi salam pada appa nya, karena percuma saja, appa tiri minchan itu tidak pernah peduli pada minchan. Minchan langsunng naik ke lantai 2, ke kamarnya untuk menenangkan diri dan juga hatinya yang terasa sakit, rasanya bahkan bisa lebih sakit dari pada luka karena sayatan pisau.
Minchan menagis di kamarnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal agar tangisannya tidak terdengar keluar. Minchan begitu sakit hati karena melihat namja yang sangat ia cintai selama 3 tahun ini menyakitinya, mengkhianatinya di belakangnya, tega.
‘ddrrrrtttt dddrrrtttt drrrrttttt’ handphone minchan terus bergetar. Ada telepon masuk. Minchan bangkit dan melihat siapa yang menelepon. Di layar handphone minchan tertera nama ‘chunji oppa’. Sebenarnya minchan enggan mengangkat telepon dari namjachingu nya itu. Tapi minchan selalu memikirkan perasaan orang lain yang mungkin saja tidak memerhatikan perasaannya.
“yeobseyo ?” sapa minchan
‘yeobseyo ? chagi, kenapa kau pulang duluan sih ? tadi katanya mau pulang bareng ?’
“ah .. oppa mianhae .. aku tadi disuruh umma agar pulang cepat” jawab minchan bohong.
‘oh begitu ya … bagaimana sebagai gantinya kita bertemu di kafe biasa .. bagaimana ? sekarang aku jemput ya ?’
“baiklah, tapi aku bisa berangkat sendiri kesana oppa .. oppa pergi saja duluan, ne ?”
‘ne, aku tunggu ya .. saranghae chagi …’
‘klik’ minchan tidak membalas kata-kata ‘saranghaeyo’ yang dilontarkan chunji. Minchan langsung menutup teleponnya.
Minchan berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mandi, agar dia tidak terlihat habis menangis. Setelah minchan selesai mandi, minchan langsung ke kamarnya dan bersolek seadanya.
Minchan turun dan berpamitan kepada umma nya, song xian yang masih cantik seperti remaja, yang begitu bodoh mau menikah dengan seorang pengusaha besar, lee sooman.
Minchan keluar rumah dan berjalan menuju kafe dimana ia dan chunji biasa bertemu. Kali ini minchan tidak naik bus untuk pergi kesana. Minchan sengaja berjalan kaki agar chunji merasa kalau menunggu itu menyebalkan. Minchan sampai ke kafe bestfriend ½ jam kemudian. di luar kafe, ia melihat chunji sedang melirik jam tangannya, dan di wajahnya tersirat perasaan kesal, namun perasaan khawatir lebih jelas tergambar di wajah chunji.
Minchan masuk ke kafe dengan langkah malasnya dan langsung duduk di hadapan chunji. “chagi, kenapa kau lama sekali ? kau sudah membuatku menunggu …” protes chunji dengan nada manja nya.
Minchan tersenyum miris. “begitulah rasanya bila menunggu terlalu lama, aku juga kesal tadi ..”
“em.. chagi, apa maksudmu ? aku sama sekali tidak mengerti…”
“hehe .. kau tidak mengerti ya ? kau tidak mengerti bagaimana rasanya menunggumu terlalu lama, di tempat yang begitu panas.. dan juga kau tidak mengerti rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai ..”
“mianhae kalau aku membuatmu menunggu terlalu lama, tapi apa maksudmu dengan mengkhianati?”
“aku ingin kita putus saja .. siang tadi, kau terlihat begitu mencintainya sampai memeluknya di taman .. aku mengerti .. aku ingin kita putus, mungkin dengannya kau lebih bahagia .. aku pulang dulu, annyeong.. kuharap kita bisa menjadi teman”. Minchan keluar dari kafe, dan berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi yang lewat. Chunji mengejarnya.
“chagi! Dengarkan aku ! kau salah paham ! tolong dengarkan dulu penjelasanku ! sebenarnya yeoja itu …………….” Kata kata chunji terpotong, karena minchan sudah masuk ke dalam taksi yang baru saja lewat.


-FlashBack end-

“begitulah … sampai sekarang aku masih belum bisa melupakannya.. dan mungkin saja aku massih mencintainya ..” minchan mengakhiri ceritanya. Dada youngmin sedikit merasa sesak mendengar kata kata terakhir minchan yang mengatakan kalau minchan massih mencintai namja yang bernama chunji itu.
‘tokk tokk tokk’
“ada apa kwangmin-ah ?” tanya youngmin
“itu ada tamu hyung, tapi aku belum membuka pintu apartemennya, aku takut yang mengetuk pintu itu maling hyung…”. Youngmin membuka kamar minchan.
“ya, mana mungkin orang mau maling itu pakai ketuk pintu segala..” kata youngmin.
“biar aku saja yang membuka pintu…” kata minchan sambil mengikat rambut sebahu nya.
Minchan berjalan menuju pintu apartemen. Sedangkan youngmin dan kwangmin berjalan menuju ruang tv untuk menonton acara favorit mereka, pikachu vs winnie the pooh*haha*.
Minchan memegang handle pintu dan. ‘cklek’. Pintu apartemen terbuka. Minchan mendpati seorang namja yang sebenarnya masih ia cintai, tapi rasa sakit hati yang namja itu ukir di hati minchan lebih besar dari rasa cinta minchan yang begitu besar kepada namja itu.
“mau apa kau kesini ?!” tanya minchan sinis.
“aku ………….”


-TBC-

0 komentar:

Posting Komentar

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template