Jumat, 09 Maret 2012

FF | Decision | Between Forgive and Leave [ Sequel | Don’t Leave Me (I’m Sorry)]


Tittle : Decision | Between Forgive and Leave [ Sequel | Don’t Leave Me (I’m Sorry)]
Author : Okky Oktavia
Rating : G
Genre : Angst, AU, Romance, School Life
Length : Oneshot
Main Cast : Jo KwangMin, Jung JiHyun
Support Cast : jung jinyoung
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves. This story is mine
Warning : OC, OOC, typo(s), BadFic


**

Kwangmin benar-benar tidak menyangka hubungannya dengan jihyun akan berakhir secepat ini. kwangmin menyesali semua yang ia lakukan, memang ia yang salah. Ia berjalan menuju rumahnya dengan angkah yang berat. Ia merasakan ia mempunyai beban yang begitu berat. Kwangmin merasa sangat bersalah pada jihyun. sepanjang jalan, terbayang di benak kwangmin apa yang tadi siang ia bicarakan dengan Baro di ruang ganti.

Flashback

“kwangmin-a.. kau benar-benar pacaran dengan jihyun si kutu buku itu ?” Tanya Baro.

“ne.. waeyo ?” kwangmin balik bertanya.

“apa kau benar-benar mencintainya ?”

“em.. bagaimana ya … aku masih ragu sebenarnya…”

“ah.. jinjayo ? aku memang sudah tahu dari awal, kau mendekati jihyun dulu hanya untuk merasa lebih dekat dengan seohyun kan ? sebenarnya kau seuka seohyun kan ?” ucap Baro

“hehehe … iya juga sih.. tapi sekarang seohyun sudah mempunyai namjachingu..”

“lalu, kenapa kau malah menjadi namjachingu jihyun ?”

“itu karena, aku sangat kecewa pada seohyun.. seohyun sudah mempunyai namjachingu dan itu bukan aku…”

“jadi, kau selama ini hanya menjadikan jihyun sebagai pelarianmu saja ?”

“awalnya sih begitu …”

“awalnya begitu ? lalu sekarang ?” Baro bertanya lagi, sebenarnya kwangmin malas meladeni temannya yang satu ini karena terlalu banyak bicara.

“memang awalnya aku hanya menjadikannya sebagai pelarianku.. tapi itu setengah bulan yang lalu.. sekarang aku sudah mulai menyayanginya dan juga sudah mulai mencintainya …”

Flashback end

Kwangmin menendang batu kerikil di jalanan, frustasi. “eooteohkae….!!!” Teriak kwangmin di dalam hatinya.

Jihyun pov

Harusnya dari awal aku curiga kenapa kwangmin tiba-tiba mendekatiku. Harusnya aku berpikir, kenapa idol seperti kwangmin bisa mengatakan suka padaku, harusnya aku berpikir saat itu. Ternyata ia mempunyai tujuan yang begitu merugikanku. Menyebalkan. Kenapa orang yang mempunyai wajah se ‘innocent kwangmin bisa bersikap begitu jahat pada seseorang, tepatnya padaku. Kenapa ? apa salahku ? apa salahku sehingga aku hanya dijadikannya sebagai pelariannya ?  apa karena aku terlalu bodoh ? apa karena aku memang cocok untuk dijadikan sebagai pembuangan ? pelarian ? sungguh jahat.

Sampai sekarang pun, sejujurnya aku masih sangat mencintai kwangmin, tapi rasa sakit di hatiku lebih besar dari rasa cintaku padanya. Wajarkah aku memiliki perasaan demikian ? kurasa wajar. Dia yang memulai ini dan aku yang mengakhirinya. Menyebalkan.

Tapi, sebenarnya aku masih bingung dengan keputusanku. Apakah keputusan yang tepat untuk meninggalkan kwangmin ? atau keputusan yang terbaik adalah kembali pada kwangmin, mendengar penjelasannya, dan memaafkannya ?. pusing. Kurasa aku butuh istirahat untuk memikirkan ini.

“eomma, na wasseo …” aku masuk kedalam rumah dan langsung mencium aroma masakan eimma yang begitu menggoda hidungku. Sejenak, masalah hari ini aku lupakan.

Jihyun Pov end

-malam hari-

Jihyun membuka modul b.inggrisnya yang tebal dan memakai kacamata untuk membacanya. ‘dddrrrttt dddrrrttt’ jihyun mengambil hp nya yang ia letakkan di meja riasnya. Di layar hp, tertulis nama kwangmin sedang berusaha menghubunginya. Jihyun teringat lagi pada kejadian tadi, lalu jihyun membuka casing hp nya dan melepas battery nya.

“jihyuna-a ?” teriak eomma dari bawah.

“ne eomma ?!”

“ini ada telepon untukmu …”

“ne, aku akan kebawah, sebentar…”. Jihyun membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga untuk menerima telepon. “yeoseyo?”

“jihyun-a… mianhae… kumohon kembalilah padaku..”

“mwo ? setelah apa yang kau lakukan padaku ? kurasa tidak”

“kau bisa mendengar penjelasanku !”

“memangnya aku mau mendengarkanmu ? jangan terlalu percaya diri !” klik. Sambungan terputus. Jihyun kembali ke kembali ke kamarnya dan melanjutkan belajarnya yang tertunda.

Kwangmin Pov

“memangnya aku mau mendengarkanmu ? jangan terlalu percaya diri !” sambungan terputus. Apa yang harus kulakukan ? ini memang salahku. Aku memang bodoh, menyakiti jihyun yang tulus mencintaiku. Memang awalnya aku hanya menjadikannya sebagai pelarianku. Tapi aku mulai mencintainya akhir-akhir ini. apa yang harus kulakukan agar jihyun mau mendengar penjelasanku ? mau memaafkanku ? mau kembali padaku ?.

Kwangmin Pov end

Keesokan harinya, jihyun berangkat sekolah seperti biasanya. Sebenarnya ia enggan sekali untuk masuk sekolah hari ini. tapi, jihyun berpikir lagi, ia tidak mau sampai bolos sekolah hanya karena masalah perasaan. Jihyun melangkahkan kakinya dengan sangat malas. Jihyun masuk ke kelasnya dan langsung duduk di kursinya. Jihyun tidak memperdulikan namja yang duduk di belakang kursinya yang sedari tadi memerhatikannya.

“jihyun-a….” panggil kwangmin.

Jihyun tidak menoleh sedikitpun pada kwangmin. “aku tahu kau sangat marah padaku.. setidaknya dengarkan dulu penjelasanku walaupun kau.. Walaupun kau berat untuk memaafkanku...” jihyun tidak menggubris ucapan kwangmin. kwangmin menghembuskan nafasnya, berdiri dari kursinya dan langsung menarik tangan jihyun secara paksa.

Kwangmin membawa jihyun keluar dari kelas dengan langkah yang cepat. Jihyun terus saja meronta agar tangan yang digenggam kwangmin dilepaskan. Namun genggaman kwangmin begitu kuat hingga seberapa kuatnya jihyun meronta, genggaman kwangmin tak kunjung lepas.

Kwangmin menarik, menyeret jihyun tepatnya. Semua orang di koridor sekolah memerhatikan mereka. Namun kwangmin tidak menghentikan atau memelankan langkahnya sedikitpun. Ia dan jihyun sampai di bukit belakang sekolah dimana ia menyatakan cintanya pada jihyun setengah bulan yang lalu. Jihyun mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat dari genggaman kwangmin yang kuat. Jihyun terlihat kesakitan. Kwangmin melihat itu dan berusaha mengelus pergelangan tangan jihyun yang sakit. Tapi jihyun dengan cepat menepis tangan kwangmin. “mianhae..”

“untuk apa meminta maaf ? tidak ada gunanya..”

“kurasa minta maaf padamu ada gunanya.. mungkin saja dengan kau mau mendengar semua penjelasanku, lalu setelah itu memaafkanku, kau mau kembali menjadi yeojachinguku..”

Jihyun menatap kwangmin yang kini sedang duduk diatas rerumputan yang menari karena tiupan angin. Matahari yang baru muncul di timur, sinarnya menerpa wajah kwangmin di pagi hari itu. “sudah kubilang aku tidak butuh penjelasanmu”

“kalau tidak dijelaskan, kau selamanya akan salah paham padaku, semuanya akan tetap samar, dan pasti kau akan menyesal karena kau tidak mendengarkanku”

“walaupun aku mendengarkan semua penjelasanmu, aku takkan mudah memaafkanmu”

Kwangmin berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju jihyun yang sedang berdiri tak jauh darinya. Kwangmin berjalan semakin dekat. Dalam sekali tarikan (?), kwangmin memeluk tubuh mungil jihyun. “lepaskan!!”

“shireo..! kau yeojachinguku, aku berhak memelukmu seperti ini”

“mwo ? sudah kubilang kita selesai kemarin, apa kau tidak dengar huh ?”

Kwangmin semakin mempererat pelukannya, “listen to me jihyun-a..”

“shireo!”

“kemarin kau tidak mendengarkannya sampai akhir kan ? awalnya tujuan utamaku mendekatimu hanya untuk mendekati jihyun, tapi akhir-akhir ini aku merasakan perasaan yang lebih dari sekedar teman padamu jihyun-a.. kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada baro, kemarin aku berbicara soal itu dengannya..”. jihyun mendorong tubuh kwangmin. “aku tidak percaya padamu, dasar pembohong!” jihyun berlari meninggalkan kwangmin dan kembali ke kelas.

-pulang sekolah-

Jihyun bersikap sewajarnya pada seohyun, ia memang merasa sakit hati karena kwangmin yang menyukai seohyun. Tapi, jihyun tahu seohyun tidak tahu apa-apa tentang ini. kadang jihyun merasa iri melihat hubungan seohyun dan juga minwoo yang semakin hari semakin harmonis(?). tidak seperti hubungannya dengan kwangmin yang kandas di tengah jalan. Siang ini, jihyun malas pulang ke rumah karena percuma kalau ia pulang ke rumah, di rumah hanya ada oppa nya yang baru kembali dari Australia. karena orang tua nya pergi ke jepang untuk honeymoon kedua mereka.

“oppa, na wasseo…”

Oppa jihyun, jung jinyoung menyambutnya dengan senyuman hangat dan rentangan tangan. Jihyun masuk kedalam pulukan oppa nya, “oppa bogoshipo..”

“nado saeng.. bagaimana kabarmu sekarang ? kau sudah mempunyai namjachingu hmm ??” goda jinyoung. Jihyun langsung terdiam dan melepaskan pelukannya di tubuh oppa nya. “aku memang sudah memiliki namjachingu oppa, tapi berakhir kemarin..”. jinyoung merasa bersalah karena mengingatkan jihyun pada namjachingunya. “mian saeng ..”

“gwenchana oppa.. aku sudah melupakannya ko’…”

“jinja ?”

“ne.. oiya oppa, aku lapar.. buatkan aku makanan ya~”

“oke princess^^”

Sementara jinyoung memasak, jihyun mandi dan berdiam diri di kamar. Jihyun duduk di kursi sambil memandang langit yang sudah menguning di jendela kamarnya di lantai dua yang dibiarkannya terbuka. Di telinga jihyun masih terngiang penjelasan kwangmin tadi pagi. ‘apakah yang dikatakannya tadi pagi itu benar ? atau hanya alasan klasik agar aku percaya padanya ?’ pikir jihyun.

Jihyun memejamkan matanya menikmati suasana sore ini. “jihyun-a! ini makanannya!”. Jihyun membuka matanya dan turun dari kamarnya.

-malam hari-

Jihyun sedang berada di kamarnya sedangkan jinyoung sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Tokk tokk tokk. Pintu depan diketuk oleh seseorang yang belum diketahui siapa. Jinyoug bangkit dari duduknya dan membuka pintu. jinyoung melihat namja di depannya. “mencari siapa ?” Tanya jinyoung halus. “aku mencari jihyun, jihyunnya ada ?”.

Masih di depan pintu, jinyoung berteriak, “jihyun-a? kemari, ada yang mencarimu!”. Drap drap drap. Terdengar suara kaki menuruni tangga. Jihyun terkejut melihat siapa yang mencarinya. Jinyoung mengerti suasana saat itu, langsung masuk kedalam rumah dan membiarkan dongsaengnya berdua bersama namja tadi di ambang pintu.

“mau apa kau kemari ?”

“aku sudah menjelaskan semuanya padamu.. aku ingin kau kembali padaku.. aku mohon jihhyun-a..”

“aku tidak bisa”

“aku akan menunggumu sampai kau bisa…”

“kau tidak perlu menungguku.. aku tidak akan mengubah keputusanku..”

“tapi.. jihyun—“ perkataan kwangmin terhenti Karena jihyun menutup pintu rumahnya tepat di depan wajah kwangmin. kwangmin tetap menunggu di depan pintu rumah jihyun. kwangmin duduk di kursi yang ada di teras rumah jihyun. ia bertekad akan tetap menunggu jihyun disana sampai jihyun mau menerimanya kembali sebagai namjachingunya. Kwangmin tidak peduli angin malam di musim panas itu. Walau pun siang hari terasa panas, akan tetapi bila malam hari biasanya akan terasa sangat dingin. Kwangmin menggosok-gosokan tangannya lalu menempelkannya di telinganya sendiri.

jihyun masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang kusut. “nuguya ?” tanya jinyoung. “mantan ku oppa..” karena jihyun tidak ingin oppa nya banyak bertanya padanya, jihyun berlari ke kamarnya dan menutupnya rapat-rapat tak lupa ia menguncinya.

Jihyun berpikir, kwangmin mana mungkin menunggunya di luar di malam sedingin ini sampai jihyun mau menerima lagi kwangmin sebagai namjachingunya. Kini jihyun tidak percaya pada kwangmin, Karena kwangmin sudah membohonginya satu kali, maka seterusnya jihyun tidak percaya. Karena mala mini begitu dingin, jihyun merebahkan tubuhnya di kasurnya yang hangat, memejamkan matanya dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya sebatas dadanya.

Dalam mimpinya, jihyun melihat kwangmin yang sedang menggigil di teras rumahnya dan juga memohon-mohon agar jihyun kembali padanya. Namun di mimpinya, jihyun tetap menolak kwangmin.

**

Keesokan harinya (minggu pagi)

Jihyun bangun dan langsung mandi. Jihyun melihat oppa nya sedang menata makanan di meja makan. Mereka makan di meja makan, hanya berdua. “jihyun-a, tolong siram tanaman di halaman depan rumah..” titah jinyoung. “ne oppa^^” jihyun berjalan keluar rumah. Jihyun tidak percaya dengan penglihatannya sekarang. Kini jihyun sedang mekihat kwangmin sedang meringkuk di kursi panjang yang ada di teras rumahnya. Jihyun melihat wajah kwangmin begitu pucat, bibirnya sedikit membiru, mungkin itu karena efek tidur di luar semalaman. “omona! Kwangmin-a!! ireona!” jihyun mengguncang-guncang tubuh kwangmin. jihyun menempelkan punggung tangannya ke dahi kwangmin. “kenapa bisa sepanas ini?!” jihyun mulai khawatir.

Kwangmin dengan perlahan membuka matanya walaupun itu berat. “kwangmin-a? kau sudah bangun ? kajja, sebaiknya kita ke rumah sakit, ne ?” kwangmin mencoba bangkit dari tidurnya, jihyun memegang kwangmin agar kwangmin tidak terjatuh. “gwenchana.. aku hanya merasakan pusing.. aku tidak mau ke rumah sakit jihyun-a.. aku benci tempat itu.. aku ingin kau yang merawatku..”

“baiklah, asalkan kau sembuh saja..” jihyun memapah kwangmin yang sedang sakit. Jinyoung melihatnya, “wae ?” Tanya jinyoung. Jinyoung berjalan menghampiri kwangmin dan jihyun. “dia demam oppa, ini semua salahku.. dia menungguku semalaman di luar..” jinyoung menggantikan jihyun memapah kwangmin. jinyoung merebahkan tubuh kwangmin di kamar jihyun. “jihyun-a, sebaiknya kau mengompresnya dengan es.. oppa turun dulu, mau membuatkan bubur..” jihyun mengangguk dan langsung duduk disebelah kwangmin yang terlentang di kasurnya.

“mianhae.. kau seperti ini gara-gara aku..” ujar jihyun sambil mengompres dahi kwangmin dengan es balok yang dibungkus dengan kain handuk. Kwangmin tersenyum walaupun matanya masih tertutup. “gwenchana.. aku tahu sakit hati itu lebih sakit daripada fisikku yang sakit saat ini..”

Jihyun mengelus pipi kwangmin. “tetap saja aku merasa bersalah padamu..” kwangmin membuka matanya. “gwenchana.. yang penting kau sudah tahu bahwa aku akan menunggumu sampai kapanpun jihyun-a…”. mata jihyun berkaca-kaca, namun dengan sekuat dirinya, ia menahan agar air matanya tetap terbendung. “jihyun-a!~, buburnya oppa letakkan di meja makan ya, oppa mau pergi dulu!” teriak jinyoung dari bawah. “ne oppa..”

Kwangmin bangun dan duduk di kasur jihyun. “jihyun-a, dia siapa ?” Tanya kwangmin dengan nada menyelidik. “kau jangan bangun dulu, nanti kepalamu pusing kwangmin-a..” titah jihyun, namun kwangmin tetap saja duduk sambil menatap jihyun. “wa…waeyo ?”

“kau belum menjawab pertanyaanku.. dia siapa ?”

“dia oppa ku…” ekspresi kwangmin terlihat lega. “syukurlah.. kukira dia siapa..”

“jihyun-a.. mau kan kau memaafkanku ? aku memang salah.. tapi aku katakana sejujur-jujurnya, saat ini aku benar-benar mencintaimu…”

“entahlah, aku tak yakin …” sahut jihyun sambil memalingkan pandangannya.

“jihyun-a.. tatap aku …” jihyun kembali menatap kwangmin. jihyun merasa kini hatinya telah luluh oleh kwangmin. “kumohon maafkan aku….” Ucap kwangmin, dengan perlahan, kwangmin mendekatkan tubuhnya pada tubuh jihyun. “er.. aku mau mengambil bubur dulu..” jihyun berdiri dan turun dari kamarnya.

Jihyun menuruni tanggan sambil memegangi dadanya. ‘debaran yang selalu aku rasakan dulu saat aku berada di dekatnya.. aku merasakannya lagi.. apakah ini signal dari hatiku yang paling dalam untuk memaafkannya ? apakah itu keputusan yang tepat ?’ pikir jihyun.

Jihyun mengambil bubur di meja makan, tak lupa ia juga membawa segelas air hangat. Kemudian jihyun kembali ke kamarnya. Mata jihyun langsung membulat karena melihat keadaan kwangmin di kamarnya sedang mengelap hidungnya yang berdarah, ya, kwangmin mimisan. Jihyun meletakkan semangkok bubur dan segelas airnya di meja belajarnya.  “gwencahana?” Tanya jihyun khawatir. Kwangmin hanya tersenyum melihat perlakuan jihyun padanya.

“ne .. aku baik baik saja…”

“kau terlihat tidak baik.. kenapa hidungmu sampai mimisan ?”

“setiap demam, aku memang selalu begini, jandi tidak perlu khawatir, ne ?” kwangmin lagi-lagi menjawab dengan senyumannya sambil mengelap darah yang keluar dari hidungnya dengan kaos yang ia pakai.

“kalau begitu kita ke rumah sakit ya ?”

“aniyo.. tidak usah .. aku hanya perlu istirahat yang cukup..”

“omo.. bajumu banyak sekali noda darah, sebentar ya, aku mau mengambil dulu baju oppa..” jihyun berjalan ke kamar sebelah dan mengambil baju yang pantas di tubuh kwangmin, kemudian jihyun turun ke bawah dan mengambil sebaskom air hangat dan juga washlap. Lalu jihyun kembali ke kamarnya.

“kwangmin-a, lepaskan bajumu” perintah jihyun. kwangmin menurut. Kwangmin melepaskan bajunya. Lalu jihyun membasahi washlap dengan air hangat yang tadi ia bawa. Jihyun menusap tubuh kwangmin yang topless dengan washlap yang sudah dibasahi dengan air hangat. “ji…jihyun?”

“tak perlu berpikiran macam-macam, aku hanya ingin membuatmu nyaman saja.. percuma saja kan kalau bajumu diganti, dan tubuhmu tetap lengket oleh keringatmu sendiri ?” sahut jihyun sambil terus mengusap tubuh kwangmin sampai selesai.

“tapi, aku bisa melakukannya sendiri..”

“aniyo.. tidak boleh.. kau begini gara-gara aku.. aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang kuperbuat..”

Jihyun memberikan baju oppa nya pada kwangmin. kwangmin memakainya dan langsung duduk persandar pada ranjang jihyun. “sekarang makan dulu, ne ?” kwangmin menggeleng. “shireo…”

“seharusnya kau menghargai oppa ku yang susah payah membuatkan ini untukmu..”

“aku mau makan dengan satu syarat..”

“apa ?”

“maafkan aku…” kata kwangmin dengan nada sedikit memohon.

Jihyun mengembuskan nafasnya. “geurae.. makanlah ..”

“jinja ? kau memaafkanku ? yeesssss!!!”

“ppali, makan! Ini sudah dingin tahu!”

“ne chagi!^^”

“jangan memanggilku seperti itu, hanya namjachinguku yang boleh memanggilku seperti itu!” sahut jihyun sambil menyuapkan sesendok bubur pada mulut kwangmin. “uhukk” kwangmin tersedak. “chagi, minumnya… tolong..” jihyun memberikan segelas air pada kwangmin. “jangan memanggilku seperti itu, aku muak!”

Kwangmin menyerahkan gelas yang sudah kosong pada jihyun. “katanya kau sudah memaafkanku.. tapi kenapa bicaramu masih sinis seperti itu chagi ? kenapa hm ??”

“aku memang memaafkanmu, tapi bukan berarti aku menerimamu kembali sebagai namjachinguku!”

“yaaah…..” kwangmin cewa dan lanung menundukan kepalanya. “ini yo makan lagi..” jihyun mncoba menyuapi kwangmin lagi. “jangan melakukan ini padaku kalau kau tidak mempunyai perasaan padaku.. jangan perhatian padaku seolah-olah kau masih yeojachinguku!”

Jihyun tersentak dan langsung meletakkan mangkuk bubur di meja belajarnya dengan kasar. “baiklah ! lagipula aku juga sudah lelah !!” teriak jihyun dan berdiri dari kasurnya. Kwangmin menariknya hingga jihyun kembali duduk di kasurnya. Kini jihyun duduk membelakangi kwangmin. “mianhae..” kata kwangmin sambil melakukan back hug pada jihyun. jihyun menangis tanpa suara. Air matanya kini sudah mengalir menganak sungai di pipinya. Setetes air mata jatuh ke tangan kwangmin yang sedang memeluknya. Kwangmin melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh jihyun.

“mianhae atas kata-kataku tadi yang mungkin menyakitimu.. aku melakukan itu semata-mata karena aku begitu menyayangimu, bahkan lebih dari itu jihyun-a….”

Jihyun menatap kwangmin dengan air mata yang masih mengalir. “uljjima.. aku semakin merasa bersalah jika melihatmu menangis seperti ini..” kata kwangmin sambil menyeka air mata jihyun dengan ibu jarinya. “saranghae…”

“kau tidak mencintaiku, kau mencintai seohyun… aku tahu…”

“itu dulu jihyun-a… sekarang aku hanya mencintaimu..”

“kau bohong !”

“aku tidak bohong, kalau aku bohong, kau bisa potong leherku!!” jihyun sedikit tersenyum dengan candaan kwangmin. “ya.. jangan tersenyum seperti itu, aku tidak bercanda!” kata kwangmin, lalu kwangmin berusaha mencekik lehernya sendiri. Jihyun langsung mencegahnya, “jangan lakukan itu, jebal…” kwangmin melepaskan tangannya di lehernya sendiri.

Hening. Keduanya diam dan sibuk dalam pikirannya masing-masing. “jihyun-a..”

“ne ?”

“kumohon percayalah padaku.. aku masih ingin berada di sampingmu, aku ingin selalu berada di dekatmu, untuk menjagamu.. karena aku tidak ingin sesuatu apapun menimpamu..”

Jihyun menunduk. “angkat kepalamu dan tatap aku, aku mohon …”

“jihyun mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke bola mata kwangmin. “aku memberimu 2 cara untuk menjawab perasaanku.. jika kau menolak, yang kau lakukan adalah menampar pipiku, jika kau menerimaku, kau harus memelukku..”

Jihyun mengangkat tangan kanannya, dan melayangkan tangannya itu mengarah pada pipi kwangmin. kwangmin memejamkan matanya. Jihyun bukannya menampar kwangmin, jihyun hanya menempelkan tangannya di pipi kwangmin dan langsung memeluk tubuh kwangmin. kwangmin membuka matanya dan bernafas dengan lega lalu membalas pelukan jihyun.

“coba katakana padaku” pinta kwangmin.

“aku memaafkanmu kwangmin-a.. aku juga mau kau kembali mengisi hidupku.. aku mau kau kembali menjadi namjachinguku..”

“jinja ?” dalam pelukannya, kwangmin merasakan jihyun mengangguk. “tapi dengat satu syarat!”. Mereka melepaskan pelukannya. “apapun yang kau minta akan kuturuti chagi ..”

“selalu bersikap jujur, dan jangan pernah membuatku menangis!”

“oke princess^^”

**

Jinyoung Pov

ini sudah lewat jam 6 sore, dan aku baru pulang sekarang. Mungkin aku bisa disebut oppa yang tidak baik untuk dongsaengnya. Tapi, lagipula di rumah kah jihyun sudah ada yang menemani, siapa namanya ? ah.. aku belum tahu siapa namanya. Semoga saja mereka berbaikan dan menjadi sepasang kekasih lagi, dan jihyun bahagia. Itu yang kuharapkan.

Cklek. Pintu rumah tidak dikunci, aku langsung masuk saja. Kudengar suara tawa dari arah runag tengah. kuintip saja. Kulihat namja yang tadi sakit sedang tertawa bersama jihyun. tangan namja itu merangkul pundak jihyun. syukurlah mereka sudah baikan. Aku senang meliihat dongsaengku bisa tertawa seperti itu. Kuhampiri saja mereka. “kalian sudah berbaikan hm ?” tanyaku. Mereka hanya tersenyum. “syukurlah aku bahagia melihat kalian bahagia ^^, oiya, siapa namamu ?” tanyaku pada namja yang duduk di sebelah jihyun.

“kwangmin imnida ^^, mannaseo bangapseumnida hyung .. hyung, aku hanya sementara meminjam bajumu ^^” kata namja itu, namanya kwangmin, ia membungkukkan badannya beberapa derajat. Anak yang sopan ^^. “ne .. gwenchana ..” jawabku.

“ah .. aku naik dulu, kalian baik-baik ya ^^” kulihat mereka mengangguk pasti.

Jinyoung Pov end

“chagi.. oppa mu merestui kita ^^, aku senang ^^” ucap kwangmin sambil memeluk  tubuh jihyun. “senang sih senang, tapi kenapa kau memelukku seperti ini ?” kwangmin melepaskan pelukannya. “ahh.. yeojachinguku ini inginnya aku melakukan apa hm..?”

“apa ya ?” jihyun memasang tampang berpikir. “kau terlalu lama berpikir chagi” kwangmin memegang dagu jiyun dan mengecup bibirnya singkat. Seketika wajah jihyun memerah sempurna. “apa yang kau lakukan huh ?!>///

“aku hanya mengecup bibirmu, mau lebih ?” goda kwangmin.

“shireooo!!!!” teriak jihhyun sampai jinyoung turun dari kamarnya karena merasa kw=hawatir dengan keadaan jihyun. “kau kenapa saeng ?” Tanya jinyoung khawatir.

“ini hyung, aku mncium jihyun, tapi dia menolak…” jawab kwangmin jujur dan pasrah.

“oh.. kukira ada apa.. teruskan saja ^^” kata jinyoung lalu kembali lagi masuk ke kamarnya.

Kwangmin tersenyum seduktif pada jihyun. “oppa mu sudah menyerahkanmu padaku chagi …”

“shireo!!!!~” teriak jihyun


-END-

Ini bener-bener ending yang paling gaje .. maafkan ya readers ^^….

1 komentar:

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template