Sabtu, 03 Maret 2012

FF|Finaly, I Love You|OneShot

Tittle : Finaly, I love you
Author : Okky Oktavia
Rating : T
Genre : AU, Angst, Romance
Length : OneShot
Main cast : Lee ChanHee/ChunJi Teen Top, Han MinChan (OC)
Support cast : Cha SunWoo/Baro B1A4, Sunny SNSD, KiBum Super Junior
Disclaimer : para tokoh bukan milik author, mereka milik tuhan, milik keluarga mereka, dan milik agensi mereka masing-masing. Fanfic ini ASLI milik author !
Warning : OOC, typo(s), BadFic, CrackFic


**

Saat kenaikan kelas di seoul highschool, seperti biasa yang menjadi juara umum  adalah salah satu dari 2 murid mereka yang sangat berprestasi, yaitu han minchan dan lee chanhee yang biasa dipanggil dengan nama chunji. Tahun ini yang meraih posisi pertama itu adalah chunji. Semua orang selalu berkomentar tentang mereka, komentar yang positif.

“hebat ya, chunji dan juga minchan.. mereka selalu menempati posisi pertama dan kedua saat kenaikan kelas .. mereka juga selalu sekelas, tapi, kenapa mereka tidak pacaran saja ya ? padahal mereka terlihat sangat serasi bila sedang berdiri bersebelahan” komentar murid-murid.

Minchan mendengar hal itu hanya menanggapinya seperti angin lalu. “aku tidak mau berpacaran dengan chunji.. tidak akan ..” gumam minchan. “jeongmal ?” Tanya seseorang yang berdiri dibelakang tubuh minchan. Chunji. Minchan membalikan tubuhnya agar ia berhadapan dengan namja yang paling menyebalkan menurutnya untuk saat ini. karena menurut pandangan minchan, chunji telah merebut posisi pertama juara umum, minchan masih tidak terima ia menjadi orang yang prestasinya turun.

“ne! tidak mau dan tidak akan, Lee chanhee!” seru minchan. “em.. lihat saja … pasti tidak lama dari sekarang kau bisa terpikat dengan pesona yang dipancarkan seorang Lee Chanhee!” ucap chunji. “mwoya ? kau ini mempunyai rasa percaya diri yang terlalu tinggi! Kalau kau ingin semua itu terwujud, sana, bermimpilah di tempat tidurmu !”

“he ? kau benar-benar tidak tertarik sedikitpun padaku ?”

“ne.. sudah kutegaskan tadi..”

“waeyo ?”

“kau merebut peringkat pertama dariku!”. Chunji tersenyum pada minchan. Senyuman yang katanya bisa membuat yeoja-yeoja yang melihatnya serasa terbang di awang-awang. Tapi, reaksi yang ditimbulkan minchan hanyalah ekspresi aneh, karena minchan tidak mengerti arti dari senyuman chunji tersebut.

“aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku dalam waktu beberapa hari ini!” ujar chunji.

“mwo ? kau terlalu percaya diri ! aku tidak akan mungkin mudah jatuh cinta pada seorang namja, apalagi padamu!” sahut minchan lalu pergi meninggalkan chunji di tempatnya.

‘lihat saja, kau pasti akan terpikat olehku Han Minchan !’ gumam chunji.

**

‘ting tong ting tong’ chunji menekan sebuah benda kecil di pintu rumah minchan . tak lama kemudian, muncul seorang yeoja paruh baya, dilihat dari wajahnya, yeoja itu mirip dengan minchan, hanya saja, yeoja ini lebih dewasa dan juga tidak keras kepala seperti minchan. Yeoja yang ternyata adalah mrs.han, eomma minchan tersenyum pada chunji.

“mencari siapa ?” Tanya nya lembut.

“aku mencari minchan ajjhuma .. minchan nya ada ?”

“ada, silahkan masuk dulu, nanti ajjhuma panggilkan minchan dulu ..”

“ne .. gomawo ajjhuma…”

“em .. ngomong-ngomong, kau ini siapanya anakku ya ?” Tanya mrs.han penasaran.

“nan Lee chanhee imnida, panggil saja aku chunji, aku namjachingu minchan” mrs.han awalnya terkejut karena ternyata anak semata wayangnya itu sudah mempunyai pilihan untuk mendampingi hidupnya. “kau anak yang sangat sopan, aku setuju jika minchan mempunyai namjachingu sepertimu ..” ujar mrs.han lalu berjalan menuju lantai 2 dimana ia mengira minchan masih bergelung dengan selimutnya di minggu pagi ini. chunji tersenyum kemenangan.

--

“minchan, ireona !”

“aku sudah bangun eomma !” sahut minchan dari dalam kamar.

“kau sedang apa ? cepat turun ada yang mencarimu..”

“aku sedang belajar eomma.. baiklah, aku akan turun ..”. cklek. Pintu kamar minchan terbuka. Minchan melihat eomma nya tersenyum  aneh padanya. “eomma, waeyo ?”

“aniyo .. ternyata kau sudah dewasa minchan, eomma sangat setuju kalau dia yang menjadi pilihanmu ^^”. Minchan mengerutkan keningnya, minchan memang benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan eomma nya. Untuk memastikan, minchan langsung turun dan berjala ke ruang tamu. Minchan terkejut setengah hidup setelah melihat siapa yang dimaksud eomma nya.

“ya, untuk apa kau kesini ?”

“aku hanya berkunjung..”

“ah .. sudah terbaca dari wajahmu, kau kemari pasti ada tujuan yang aneh-aneh kan ? dasar serigala berbulu karpet!”

“minchan, jangan seperti itu pada namjachingumu sendiri ^^” ujar mrs.han sambil meletakan minuman di meja ruang tamu, lalu kembali ke ruang tengah.

“mwoya ? namjachingu ? eomma, dia sama sekali bukan namjachinguku !” seru minchan.

“kalau iya juga tidak apa-apa” balas mrs.han, yang terdengar seperti teriakan dari ruang tengah.

“apa tujuanmu sebenarnya ?” Tanya minchan dengan nada menyelidik.

Chunji tersenyum, “ini kan hari libur, aku hanya ingin mengajakmu bermain seharian, kau mau ?”

“shireo ..”

“ayolah ….”

“aishh.. baiklah .. tunggu sebentar, aku mau mengganti baju dulu..” kata minchan lalu naik ke lantai 2 dan mengganti bajunya. Tak perlu waktu lama, minchan turun dari lantai 2 dan langsung pergi keluar rumah bersama chunji setelah berpamitan pada orang tuanya, tentu saja mrs.han mengijinkan minchan diajak keluar oleh chunji, karena mrs.han sangat menyukai chunji menjadi pendamping minchan.

Chunji mengajak minchan mengelilingi pusat kota, membeli makanan, nonton film, karaoke, tempat yang terakhir mereka kunjungi adalah sungai han. Walaupun cuaca panas, mereka tetap berdiri disana dan menatap keindahan sungai berair jernih itu. “ya.. kenapa kau mengaku sebagai namjachingu ku di depan eomma ?” Tanya minchan. Chunji tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari sungai han.

“kau benar-benar penasaran ?”

“ne, tapi aku sudah tahu pasti kau hanya ingin mempermainkanku saja, iya kan ? tapi jangan harap aku terbuai oleh omonganmu”

Chunji menatap minchan yang berdiri disebelahnya sambil menatap lurus sungai han. “tapi, bagaimana kalau aku benar-benar ingin menjadi namjachingumu ?!” minchan balas menatap chunji. “mwo ? memangnya aku percaya ? aku juga tidak bodoh dalam hal seperti ini..”

Chunji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “kajja, kita ke taman saja, disini panas, aku kurang suka panas, membuatku berkeringat dan sukar untuk berpikir..” ajak chunji sambil menarik tangan minchan menuju taman di dekat sungai han.

Chunji dan minchan duduk di sebuah kursi di taman. Mereka memilih kursi yang berada di bawah pohon agar mereka tidak tersorot oleh sinar matahari. Beberapa menit berlalu. Mereka menatap luasnya taman dalam keheningan, sibuk dengan pikirannya sendiri. Tangan chunji mulai bergerak dengan pelan untuk memegang tangan minchan. Akhirnya chunji berhasil memegang tangan minchan, bukan hanya memegang, chunji menggenggam erat tangan minchan.

“minchan, tatap aku .. kumohon …” minchan menatap chunji. “waeyo ?”

“aniyo ..”

Keduanya kembali terkurung dalam keheningan sampai minchan meminta chunji untuk mengantakannya pulang. Setelah mengantar minchan pulang, chunji kembali pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan diri untuk sekolah esok hari.

**

Minchan melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Minchan menelusuri setiap rak buku, mencari buku yang ia butuhkan. Sampai di sudut perpustakaan minchan menemukan buku yang ia butuhkan. Minchan hendak berbalik tapi ada tangan yang menahan tubuhnya. tangan itu memeluk pinggang minchan. “kenapa kau tidak tertarik sedikitpun padaku ?” bisik chunji di telinga minchan. Minchan melepas paksa tangan chunji yang melingkar di pinggangnya. Minchan berbalik, posisinya kini menghadap ke tubuh chunji. “karena kau tidak mempunyai daya tarik di mataku”

“apa yang harus kulakukan agar aku menarik di matamu ?”

“kau tidak perlu melakukan apa-apa, karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah menarik di mataku”

Chunji tersenyum seduktif, “apa setelah melakukan ini, kau tidak akan tertarik padaku ?”. chunji langsung menyaret minchan dan menempelkan tubuh minchan di sudut perpustakaan yang sepi. Tubuh minchan terhimpit oleh kedua tangan chunji yang menempel di tembok perpustakaan. Dengan gerakan yang cepat, chunji membuka kacamata yang ia kenakan bila ia sedang membaca buku dan menempelkan bibirnya di bibir minchan. Minchan terkejut dan matanya terbelalak. Minchan tidak menyangka kalau chunji akan melakukan hal seperti ini padanya, tidak menyangka yang merebut first kiss minchan adalah chunji, rival nya di sekolah.

Chunji memperdalam ciumannya. Chunji melumat bibir minchan, sesekali menggigitnya, menghisap bibir atas dan bawah bergantian, lalu menjilati bibir minchan. “hen…tikan…….” Ucap minchan di sela-sela chunji menjilati bibirnya. Dengan sisa tenaga yang masih minchan miliki, minchan mendorong tubuh chunji dan memukul bahu chunji dengan buku yang daritadi masih ia pegang. “kurang ajar!!” seru minchan lalu berlari meninggalkan chunji di sudut perpustakaan.

Di sudut perpustakaan, chunji tersenyum sembari mengusap bibirnya. ‘akan kudapatkan dirimu minchan’ kata chunji dalam hati.

--

Minchan berjalan cepat menuju kelasnya. Sepanjang jalan, minchan menggerutu tidak jelas gara-gara apa yang chunji lakukan padanya tadi di perpustakaan. ‘kenapa ada orang yang menyebalkan seperti chunji ?” gerutu minchan.

“minchan, mana buku yang tadi seonsaengnim suruh kamu bawa dari perpustakaan ?” sunny seonsaengnim menagih pada minchan. Minchan menepuk jidatnya sendiri. “aku lupa membawanya seonsaengnim, aku akan membawanya..” kata minchan dan berbalik dari kelas, namun langkahnya terhenti karena melihat chunji yang sedang berdiri di pintu kelas. “minchan, ini bukumu, tadi kau menjatuhkannya..” ujar chunji, lalu berjalan mendekati minchan dan memberikan buku itu pada minchan, dan kembali duduk di bangkunya. Minchan menyerahkan buku sosiologi pada sunny seonsaengnim, kemudian minchan berjalan dan duduk di bangkunya, di belakang bangku chunji.

Saat sunny seonsaengnim sedang menerangkan pelajarannya di depan, chunji menoleh kearah minchan, “bagaimana rasanya ?” Tanya chunji dengan disertai wink special untuk minchan. Minchan bergidik ngeri setelah chunji memberikan wink padanya, “babo” kata minchan, lalu chunji kembali menghadap ke depan, memerhatikan yeoja mungil nan berumur itu menerangkan materi pelajarannya.

--

Bel tanda usai seluruh pelajaran telah berbunyi dengan nyaringnya. Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Minchan keluar sambil membetulkan posisi bando yang bertengger di kepalanya, merapikan poni nya yang sedikit berantakan. ‘grep’. Ada tangan yang menggenggam pergelangan tangan minchan. Orang itu tiada lain tiada bukan adalah chunji. Minchan menoleh, chunji hanya tersenyum. “mwo ?”

“temani aku jalan-jalan, ne ?” pinta chunji.

Dengan malas, minchan menjawab, “baiklah .. walau kutolak pun, kau akan tetap memaksaku, iya kan ?”

“hehe .. kajja!” chunji menarik tangan minchan keluar dari gedung megah yang diberi nama sekolah itu.

Chunji membawa minchan ke pantai yang berada tidak jauh dari sekolah mereka. “untuk apa kau membawaku kemari?” Tanya minchan sambil memerhatikan pemandangan pantai di siang hari yang sangat panas ini. “sudah kubilang aku mengajakmu untuk menemaniku jalan-jalan” jawab chunji.

Minchan menghela nafasnya, “tujuanmu yang sebenarnya, aku tahu selain hanya menemnimu, kau mempunyai tujun yang kau sembunyikan ? benar kan ??”

“yeoja pintar ^^” chunji mengacak rambut minchan. Minchan menyingkirkan tangan chunji dan membenarkan rambutnya yang acak-avakan akibat ulah chunji. “ppali, katakana tjuanmu yang sebenarnya…”

“kita duduk disana…” ajak chunji sambil menunjuk sebuah pondok tak jauh dari mereka, “sudah kubilang aku tidak suka panas, panas itu menghambat seluruh kegiatanku..” lanjut chunji. Mereka pun berjalan ke pondok itu dan duduk bersebelahan disana.

“bagaimana ?” Tanya chunji yang tidak dimengerti minchan.

“bagaimana apa ? aku tidak mengerti, pertanyaanmu seperti orang yang tidak sekolah saja..”

Chunji mengerucutkan bibirnya, “bagaimana perasaanmu sekarang ?”

“awalnya, aku kesal..”

“mwo ?”

“aku belum selesai bicara babo! Awalnya memang aku kesal, tapi setelah mengetahui kau membawaku kemana, dan melihat pemandangan pantai, perasaanku seperti terlahir kembali, hatiku menjadi ringan, seolah tidak ada beban ….” Jelas minchan sambil tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.

“akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum.. aku sangat suka melihatmu tersenyum..” chunji menatap minchan yang sedang tersenyum, minchan balas menatap chunji ketika ia sadar kalau chunji memerhatikannya. “kenapa menatapku seperti itu ?” Tanya minchan dengan nada menyelidik.

“aku suka senyumanmu, natural dan sangat cantik..” puji chunji. Wajah minchan tiba-tiba memerah. Minchan menyadari wajahnya sudah agak panas gara-gara tatapan chunji, langsung memalingkan pandangannya kearah lain.

**

“annyeonghaseyo ^^” sapa kibum seonsaengnim yang baru masuk dengan suaranya yang lantang, namun tetap memamerkan deretan giginya yang putih dan rapih. “annyeong sam!” seru semua murid di kelas. “hari ini kita kedatangan murid pindahan dari jepang, tepatnya dari Okinawa..” semua siswa hanya memerhatikan dengan baik. “silahkan masuk!” suruh seonsaengnim pada murid baru yang masih berdiri di luar kelas.

Dengan slow motion, seorang namja dengan rambut blonde masuk kedalam kelas. suasana kelas masih hening tak berubah, namun yang berubah adalah tatapan semua yeoja di kelas yang berubah menjadi tatapan cinta. Semuanya begitu,  kecuali minchan, ia bukan menatap namja itu dengan tatapan cinta, tapi menatapp namja itu dengan tatapan terkejut juga muka yang memerah.

“annyeonghaseyo, nan cha sunwoo imnida.. aku orang korea asli, karena keluargaku yang tinggal di jepang, aku ikut mereka setelah aku lulus dari smp, dan sekarang keluargaku kembali ke korea, dan aku pindah sekolah kesini.. mannaseo bangapseumnida..” namja yang bernama cha sunwoo itu menjelaskan tentang asal-usul dirinya dan membungkukkan badannya beberapa derajat.

“nado bangapseumnida” kata seluruh murid di kelas. sunwoo berjalan menuju bangku kosong disamping bangku minchan. Sunwoo menyimpan tasnya dan langsung menatap kedepan, karena kibum seonsaengnim sedang menerangkan materi pelajarannya. Disampingnya, minchan menatap sunwoo dengan tatapan rindu, namun sunwoo tidak menyadarinya. Chunji melihat michan menatap sunwoo dengan tatapan yang tidak biasa. Chunji merasa cemburu karena baru kali ini ia melihat minchan menatap seorang namja dengan tatapan seperti itu. ‘apa arti tatapan minchan ?’ pertanyaan itu terus melayang di otak chunji. Sesekali chunji membenarkan letak kacamatanya dan kembali focus memerhatikan pelajaran.

“kau kembali sunwoo oppa.. sudah lama ya, akhirnya kau kembali .. apakah kau berubah ? apakah perasaanmu padaku telah berubah?” batin minchan.

Bel istirahat berbunyi. “karena bel sudah berbunyi, pelajaran usai, dan jangan lupa kerjakan tugas individual yang kuberikan tadi, khusus untuk sunwoo, kau bisa belajar bersama 2 murid berprestasi disini, kau bisa belajar dengan minchan atau dengan chunji!” jelas kibum seonsaengnim sambil menunjuk minchan dan chunji. Pandangan sunwoo mengikuti tongkat penunjuk yang digunakan kibum seonsaengnim menunjuk minchan dan chunji. Sunwoo baru menyadari, kalau ia sekelas dengan minchan, teman se-smp nya dulu, yeoja babo dan ceroboh, yeoja yang ia tolak saat menyatakan cinta padanya. ‘kau berubah minchan, sekarang kau cantik dan juga kau pintar..’ pikir sunwoo.

Flashback

Siang itu, sunwoo sedang membaca buku di taman belakang sekolah, minchan berjalan dengan sangat perlahan mendekati sunwoo. Minchan akan menyatakan perasaannya pada sunwoo. Karena minchan berpikir kalau memendam rasa itu sama saja dengan bersiap untuk merasakan sakit hati, jadi minchan memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada sunwoo siang itu.

Minchan berdiri di depan sunwoo, “oppa…” panggil minchan. Sunwoo menghentikan acara membaca buku nya dan menatap minchan yang berdiri di depannya. “aku..” minchan berhenti berkata karena tatapan sunwoo yang tajam padanya, seolah-olah macan yang akan menerkam mangsanya. Minchan tidak menyerah, ia terus berusaha mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada sunwoo. “oppa, saranghae ..” ucap minchan akhirnya. Minchan serasa kehilangan beban berpuluh-puluh ton di hatinya. Namun minchan belum bisa bernapas lega karena ia belum mendengar sepatah kata pun yang diluncurkan dari bibir sunwoo.

“mianhae, aku tidak bisa” jawab sunwoo sambil berdiri dan pergi meninggalkan minchan di taman. ‘krakk’ hati minchan terasa terbelah menjadi dua. Ia sekarang merasakan yang namanya sakit hati. Minchan duduk di kursi dimana tadi sunwo duduk. minchan menatap luasnya tamman seraya berpikir, “kenapa sunwoo oppa menolakku? Apa karena aku…… bodoh dan juga ceroboh ?” piker minchan.

Memang, keadaan minchan saat itu adalah yeoja yang bisa dibilang bodoh, ia beruntung bisa naik kelas walaupun dengan peringkat terbawah di kelasnya. “aku harus berubah !” tekad minchan.

Flashback end

Sejak saat itu, minchan berusaha keras, ia terus belajar dan akhirnya, keadaan seperti sekarang, minchan menjadi salah satu diantara 2 siswa berprestasi di sekolahnya. Sebenarnya minchan masih menyimpan sedikit rasa pada sunwoo, namun yang ia rasakan sekarang, entah hanya perasaan kagum, suka, atau cinta, minchan masih merasakan bingung dengan perasaannya. Karena sekarang ia terkadang juga merasakan debaran yang ‘berbeda’ saat ia sedang bersama chunji.

Chunji mengangguk saat ia disuruh untuk belajar dan mengerjakan tugas individual bersama minchan atau chunji, setelah kibum seonsaengnim melihat sunwoo mengangguk, ia keluar dari kelas. tentu saja sunwoo akan memilih belajar bersama minchan ketimbang dengan chunji. Sunwoo merasa tatapan chunji padanya begitu aneh, berbeda dengan tatapan yang lain.

Sunwoo menyeret kursinya ke bangku minchan. Minchan sedikit dikejutkan dengan kehadiran sunwoo di sampingnya. Sunwoo merasakan chunji masih menatapnya dengan tatapan anehnya. “annyeong minchan, sudah lama tidak bertemu .. bagaimana kabarmu ?” Tanya sunwoo sekedar untuk berbasa-basi. Chunji merasa minchan gugup saat namja itu menyapa nya, chunji berpikir, apakah namja itu punya hubungan khusus dengan minchan ?

“aku baik, oppa sendiri bagaimana ?”

“aku, seperti yang kau lihat..” minchan hanya tersenyum simpul mendengar jawaban dari sunwoo. Chunji semakin menatap sunwoo. Kali ini sunwoo membalas menatap chunji. “ya! Apa arti tatapanmu padaku ? sedari tadi kau terus menatapku ? jangan-jangan kau menyukaiku, benar?” seru sunwoo pada chunji yang duduk di belakang minchan. Kini mata chunji terbelalak. Chunji berdiri dan menyeret kursinya kedekat bangku minchan. Chunji tersenyum kecil sambil duduk dihadapan minchan dan sunwoo. “mwo ? menyukaimu ? jangan terlalu percaya diri, aku ini masih normal !”

“lantas, kenapa kau menatapku seperti itu ?”

Minchan hanya menyaksikan perdebatan kedua namja yang ada di dekatnya. “aku hanya tidak suka kau dekat-dekat dengan minchan” ujar chunji.

“wae ? kau siapanya minchan ?”

“aku namjachingunnya!” ucap chunji tegas. Minchan tidak percaya chunji mengatakan hal itu dengan tegas. “mwo ? namjachingu ? sejak kapan kau menjadi namjachinguku ?” Tanya minchan dengan gugup. “see ? minchan saja tidak mengakuimu sebagai namjachingunya, kau jangan terlalu percaya diri! Aku tegaskan ya, aku ini adalah namja yang disukai minchan, arra ?” jelas sunwoo.

Minchan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sunwoo. Chunji lebih terkejut mendengar itu. ‘jadi itu alasannya kenapa dia terus menolakku’ batin chunji. “walaupun dia menyukaimu, aku tetap tidak suka kau berdekatan dengannya !” seru chunji, kemudian meninggalkan kelas.

“dia benar-benar namjachingu mu ?” Tanya sunwoo.

“ani..”

Sunwoo tersenyum. Sunwoo berpikir, minchan terlihat agak pendiam sekarang. “minchan, kau menyukainya ?”

Minchan sangat bingung sekarang. Bisa dikatakan masih tertulis sunwoo di hatinya, namun ia juga bingung mengartikan debaran setiap ia bersama dengan chunji. “aku .. tid.. tidak…. Aku tidak menyukainya, waeyo oppa ?”

“aniyo .. hanya saja, aku merasakan kalau aku menyukaimu ..” minchan terkejut karena secara tiba-tiba sunwoo menyatakan perasaanya. “aku ….”

“kau menyukaiku kan minchan ? bukankah dulu seperti itu ?”

“jangan mengambil kesimpulan sendiri oppa, aku masih bingung dengan perasaanku sendiri ..”

“umm.. kalau begitu aku memberimu waktu satu minggu untuk menjawab perasaanku, semoga tidak mengecewakanku ..” minchan mengangguk. Setelah selesai membicarakan hal yang sebenarnya tidak penting, sunwoo mulai belajar dengan minchan, dan mereka langsung mengerjakan tugas yang di berikan kibum seonsaengniim di sisa waktu istirahat hari itu. Sunwoo merasa bahwa aminchan kini benar-benar berubah, minchan sekarang  berubah menjadi yeoja yang pintar, calm, dan ia selalu focus, tidak ceroboh seperti dulu.

**

 Pulang sekolah, minchan berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Minchan terlihat sedang melamun, ia tidak memerhatikan jalan. Sepertinya minchan masih memikirkan perasaanya. Minchan sedang memikirkan sebenarnya cintanya itu untuk siapa. Minchan menyebrang jalan raya tanpa melihat sisi kiri dan kanan, minchan tidak menyadari ada truk besar yang melaju kencang kearahnya. “minchan !!!!” teriak seorang namja, namun minchan tidak menghiraukan teriakan itu.

Seorang namja berlari menuju minchan yang sedang berjalan pelan di tengah jalan, padahal truk itu beberapa meter lagi akan menarbak tubuh minchan. Namja itu berlari sekencang mungkin, dan langsung mendorong tubuh minchan yang sedang berjalan, alhasil minchan selamat dari truk itu dan kini minchan tersadar. Sekarang posisi minchan berada diatas tubuh seorang namja, chunji. Minchan melihat tubuh chunji lecet karena bergesekan dengan aspal. Minchan melihat ekspresi wajah chunji yang meringis menahan rasa sakit. Chunji tersenyum setelah melihat minchan dalam keadaan baik-baik saja. “kau tidak terluka kan ?” Tanya chunji masih dengan ekspresi menhan sakit yang lumayan. Posisi mereka masih tetap seperti tadi, minchan berada diatas tubuh chunji. Minchan tersadar dan langsung berdiri dari tubuh chunji.

Chunji berusaha untuk berdiri. Minchan membantu chunji untuk berdiri. “kenapa kau melamun saat menyebrang ? kalau kau tertabrak bagaimana ?”

“jangan pikirkan hal itu, aku baik-baik saja, sekarang  pikirkan dirimu, lihatlah, tubuhmu penuh dengan goresan luka, masih saja mengkhawatirkanku.. kalau terjadi apa-apa padamu, semuanya salahku..” omel minchan sambil memapah chunji. Minchan membawa chunji ke rumahnya. Minchan tidak tega membiarkan chunji pulang ke rumahya sendirian, karena itu minchan membawa chunji ke rumahnya dan mengobati luka-luka yang ada di tubuh chunji. Baju chunji robek di bagian punggung, karena terlalu keras bergesekan dengan aspal. Kulitnya memerah.

Sesampainya chunji di rumah minchan, chunji langsung didudukan di kursi ruang tamu. Keadaan rumah minchan sepi, karena orang tua minchan sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di pulau jeju untuk seminggu ke depan. Minchan berjalan ke kamarnya dan mengambil kotak p3k, dan juga air hangat dan wash lap dari dapur. Minchan  menyimpan barang yang tadi ia bawa di ruang tengah, lalu minchan ke ruang tamu dan memapah chunji untuk berjalan ke ruang tengah.

“lihatlah .. bajumu sampai robek.. untung saja bukan kulitmu yang robek, kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku..” ujar minchan. “ani .. aku melakukan ini semata-mata untuk menyelamatkanmu dari bahaya.. aku tidak mau kalau kau terluka sedikitpun, karena aku benar-benar menyayangimu, bisa dikatakan lebih dari itu ..”

“jadi kau benar-benar serius padaku ?” Tanya minchan yang kini duduk di sebelah chunji. “tentu saja, memangnya dari awal aku terlihat mempermainkanmu ?” minchan terdiam. “lepaskan pakaianmu..” suruh minchan. “eh ?”

“jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin membersihkan luka yang ada di punggungmu.. ppali..” dengan perasaan malu, chunji membuka bajunya. Kini chunji topless dihadapan minchan. Seketika muncul semburat merah di pipi minchan. “menghadap kesana !” minchan menyuruh chunji untuk memunggunginya. Minchan mulai membersihkan luka yang ada di punggung chunji dengan menggunakan washlap yang telah dibasahi air hangat yang dicampur dengan antiseptic. “aww… pelan-pelan..” kata chunji. “Sekarang menghadap kesini” minchan menyuruh chunji menghadap kearahnya. Minchan membersihkan luka yang ada di siku tangan chunji. Sesekali chunji tersenyum melihat minchan yang mengurusnya secara telaten dan juga senang karena melihat minchan yang khawatir padanya.

“tunggu sebentar, mungkin ada baju milik sepupuku, mungkin kau bisa memakainya, tunggu, aku akan mengambilnya..” minchan berdiri namun kembali duduk karena chunji menahannya. “tetaplah di sampingku..” . kini mereka duduk berhadapan.

“minchan, kau tahu ? sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita sekelompok saat masa orientasi dulu..”. minchan terkejut, ternyata sudah lama chunji mencitainya.

“sampai sekarang pun akan tetap seperti itu .. perasaanku tidak akan berubah..” ujar chunji lalu tubuh chunji yang topless memeluk tubuh minchan. “ya, apa yang kau lakukan ? nanti lukamu akan terasa semakin sakit..”

“gwenchana … demi dirimu, mati pun aku rela..”

“apa yang kau katakan? Jangan berkata seperti itu lagi ! aku tidak suka kau berbicara seperti itu, seolah-olah kau akan pergi meninggalkanku !” kata minchan dengan air mata ynag sudah mengalir. “uljjima.. geurae.. aku takkan bicara seperti itu lagi.. uljjima ..” chunji mengusap air mata yang mengalir di pipi minchan dengan ibu jarinya. “uljjima, bukankah sudah kubilang aku sangat suka melihatmu tersenyum! Mulai saat ini, jangan pernah lagi menangis dihadapanku, arraseo ?” minchan mengangguk.

“chunji… sepertinya kau benar …” ujar minchan.

Chunji yang sedang mengusap pipi minchan mengerutkan keningnya, “benar soal apa ?”

“kau benar, sekarang aku merasakan perasaan yang dari dulu selalu aku sangkal”

“kau mencintaiku ?”

“hem…” minchan mengangguk. Chunji tersenyum bahagia, begitupun dengan minchan. “terbukti, pesnona lee chanhee pasti akan mencairkan hati han minchan yang beku bagaikan es di kutub ..”

“sifatmu kembali, narsis seper—“ ucapan minchan terhenti karena chunji menempelkan bibirnya di bibir minchan. Chunji mencium bibir minchan sambil tersenyum. Chunji terus mengecup bibir minchan sampai minchan membalas ciumannya. Chunji memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut minchan. Setelah itu chunji melumat bibir minchan, menghisap bibir atas dan bawah, dan sesekali menggigit pelan bibir bawah minchan.

Ciuman mereka terlepas karena paru-paru mereka sudah meminta pasokan oksigen. “aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi padamu..” ujar minchan. “jeongmal ? kalau begitu jangan lari ya…”

‘aku sudah tahu kalau hal seperti ini akan terjadi’ batin minchan. Chunji mendorong pelan tubuh minchan agar telentang di sofa. “aaahhhh…” desah minchan saat chunji menindih tubuhnya. Finnaly, mereka ‘melakukannya’.

**

Di kelas saat istirahat, minchan sedang belajar bersama sunwoo, karena sunwoo murid baru, dan setiap ada tugas, pasti sunwoo disuruh belajar bersama minchan atau chunji, tapi sunwoo lebih memilih belajar bersama minchan. Sunwoo duduk di samping minchan. Lalu chunji masuk ke kelas. “sudah kubilang aku tidak suka kau berada di dekat yeojachinguku cha sunwoo !!!” seru chunji. Sunwoo tersenyum, senyum meremehkan. “mwo ? yeojachingu ? kau mengaku-ngaku lagi ? sudah kubilang minchan ini adalah yeoja yang mencintaiku..”

“mian oppa, tapi aku memang benar-benar yeojachingunya, eotte ?”. kini chunji tersenyum puas. “mwo ? bukankah kau mencintaiku ?”

“tapi itu kan dulu, saat masih smp, sekarang aku hanya mencintai chunji oppa…”

“wae ??!!” Tanya sunwoo penasaran.

“pesonanya membuatku buta.. aku tidak bisa berpaling darinya..” kata minchan.

Minchan berdiri dan berjalan menghampiri namjachingunya, chunji. “kajja oppa, kita ke kantin, aku lapar…” kata minchan sambil menggandeng lengan chunji manja. Chunji tersenyum. “kajja chagi, oppa juga lapar ..”. sunwoo menatap mereka dengan tatapan iri.

“nasibku bagaimana ? aku harus jadi namjachingu siapa ? siapa yang mau jadi yeojachinguku ??!! Ä_Ä


END

0 komentar:

Posting Komentar

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template