Selasa, 20 Maret 2012

FF | Love is | Jo KwangMin | OneShot


Tittle : Love is…
Author : Okky Oktavia
Rating : PG-13
Genre : AU, Romance
Length : Oneshot
Cast : Jo KwangMin, Park SoYoung (OC)
Support Cast : Park JunYoung (OC), Lee Taemin, No MinWoo
Summary :  “yang kutahu, cinta itu adalah bisa menerima pasangannya apa adanya, bagaimana sikap pasangannya, bagaimana kelakuan pasangannya, bagaimana penampilan pasangannya, bagaimana tutur katanya.. itulah yang membuatku masih mempertahankan perasaanku padamu dan tidak akan berubah selamanya!”
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves. This story is mine
Warning [!!] : OOC, typo[s], BadFic



**

“aku tidak menyukaimu !!” seru taemin didepan wajah soyoung.

“wa… wae ?”

“aku tidak suka penampilanmu ! kau ini yeoja, tapi kenapa penampilanmu seperti namja ! selalu memakai celana jeans dan baju berwarna gelap! Ditambah lagi rambutmu yang seperti namja! Jika kau berpacaran denganku, orang lain akan mengira kalau aku lah yang jadi yeoja!” soyoung mengangguk mengerti.

“kalau rambutku panjang, dan penampilanku berubah, apa kau mau menjadi namjachinguku ?”

“mm.. akan kupertimbangkan!”

~4 years later~

Soyoung berubah dari soyoung yang dulu. Penampilannya kini berubah, dari style yeoja tomboy menjadi style yang lebih feminim. Tapi hanya penampilannya, sifatnya tidak berubah sama sekali. Namun didepan orang lain, apalagi di depan namja, ia selalu menjaga image nya. Ia selalu berpura-pura menjadi yeoja yang benar-benar feminim. Berjalan dengan kaki yang merapat, tidak mengangkang layaknya namja, berbicara halus, dan selalu menebar senyum. Sungguh itu adalah sebuah kebohongan yang membuat diri soyoung sendiri tersiksa.

Ini semua gara-gara taemin yang 4 tahun lalu menolaknya hanya karena penampilannya dan rambutnya yang pendek bagaikan namja. Sekarang soyoung sudah memanjangkan rambutnya selama 4 tahun terakhir ini. tapi, sosok taemin menghilang begitu saja. Setelah dicari informasi, ternyata taemin pindah ke kanada dan melanjutkan study di sana.

“huh.. menyebalkan.. sudah 4 tahun ini aku selalu hidup dalam kebohongan, aku merasa tersiksa.. tapi aku melakukan ini demi taemin, tapi kemana dia sekarang ? meninggalkanku begitu saja~ menyebalkan” gumam soyoung sambil menendang kerikil di jalanan. “kenapa yeoja cantik sepertimu menggerutu sepanjang jalan ?” ujar sebuah suara di belakang tubuh soyoung yang membuat langkah soyoung terhenti. Soyoung menoleh dan mendapati seorang namja tampan, sangat tampan.

Dilihat dari seragamnya, namja itu sekolah di seoul performing arts seoul. “wae ? apa yeoja sepertiku tidak boleh kesal ?” suara soyoung sedikit meninggi. “ahaha.. aniyo.. aku semakin penasaran padamu, kenapa yeoja sepertimu bisa bicara dengan nada tinggi begitu” ujarnya lagi.

“semakin penasaran padaku ? jangan-jangan kau selalu mengikutiku ya? Dasar stalker” tuduh soyoung. Namja itu terkekeh. “ani, aku bukan stalker, hanya saja kebetulan setiap pulang sekolah aku selalu berjalan di belakangmu” jawabnya santai.

“itu sama saja” ucap soyoung, kali ini suaranya mulai lembut, menunjukkan sikapnya yang feminism, padahal itu hanya untuk menjaga penampilannya saja. Masa penampilan sudah cute, tapi gaya bicara mirip preman? Sungguh tidak lucu. “omo~ neomu kyeopta~” ujar namja itu. Wajah soyoung bersemu merah.

“boleh aku tahu namamu ?”

“soyoung, Park soyoung”

“aku kwangmin, jo kwangmin” kata namja yang bernama kwangmin itu sambil mengajak soyoung bersalaman. “boleh aku meminta nomor hp-mu ? aku ingin lebih mengenalmu ..” soyoung memberikan hp nya pada kwangmin.

“ige, gomawo”

“ne cheonma”

**

Soyoung Pov

Kenapa aku memikirkan manja tadi ? err.. siapa namanya ? kwangmin ? ah iya. Kenapa aku memikirkannya ? padahal setiap namja yang mendekatiku selama aku di sma, aku tidak pernah memikirkannya sampai seperti ini. apa jangan-jangan…. Ah .. tidak mungkin ! tidak boleh!!!!!!!

Tokk

Tokk

Tokk

Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini ? menggangguku saja. Tidak tahu yan aku sedang senang ?

Soyoung Pov end

Soyoung dengan langkah berat bangun dari tidurannya dan berjalan membukakan pintu. “aissh.. kau, mau apa ?”

“noona~ kau galak sekali, padahal kalau di depan namja selain aku dan appa selalu bersikap lembut, tapi sekarang ? see.. pakaianmu saja sudah seperti preman berambut panjang -,-“ kata junyoung, park junyoung, namdongsaeng soyoung sambil menatap noona nya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang, kalau di rumah, soyoung selalu berpakaian bagaimana dia aslinya, tomboy, namun dengan rambut panjangnya yang selalu diikatnya, sampai tidak ada sehelai rambutnya yang menyentuh leher jenjangnya. Badannya selalu berkeringat jika ada rambut yang menyentuh lehernya, kata soyoung.

“ya~ kau sebenarnya mau apa kesini ? membawa buku setebal itu ? mau menghinaku ya!?” junyoung menghela nafasnya, berusaha untuk sabar menghadapi noona nya yang seperti ini. “ini, aku mau belajar akuntansi pada noona.. banyak yang tidak aku mengerti”

“oh~ kukira ada apa .. mau membayarku berapa ?” Tanya soyoung dengan gaya preman yang sedang memalak anak tidak berdosa. “aissh noona~ kalau tidak mau, aku akan mengadukanmu pada eomma biar eomma memotong uang saku mu!”

“haiisshh.. ne dongsaeng.. kita mau belajar dimana ?”

“di atap ! ya dikamar noona lah !”

(skip>>>)

“gomawo noona kau sudah mengajariku dan membantu mengerjakan pr ku” ujar junyoung.

“ne! tapi bukannya aku yang mengerjakan pr mu? Ckk…”

“haha.. gomawo, noona memang cantik.. kekeke~”

“dasar! Sudah sana pergi ke kamarmu!” junyoung menurut dan berjalan ke kamarnya yang berada di sebelah kamar soyoung.

‘blamm’ soyoung menutup pintunya rapat dan menguncinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Dipikiran soyoung kembali terbayang wajah namja yang bernama kwangmin. soyoung sesekali melihat layar hp nya, ia berharap ada nama kwangmin yang menghubunginya. Hasilnya ? tidak ada sama sekali. Soyoung tidak ambil pusing, ia langsung menutup mata nya dan tertidur.

**

“eomma, aku berangkat” pamit soyoung. “hey~ berangkat bersama dongsaengmu, ne ?”

“shireo eomma, dia kan berbeda sekolah denganku!”

“tapi searah kan ?”

“ne, tapi aku—“

“sana junyoung, kau berangkat bersama noona mu” junyoung berjalan menghampiri noona nya yang menunggunya di gerbang rumah dengan ekspresi kesal.

“kau seperti anak kecil saja, sudah kelas 1 sma tapi masih tidak berani berangkat sekolah sendiri”

“kalau bukan eomma yang memaksa pun, aku tidak akan mau pergi ke sekolah bersama preman sepertimu” soyoung menjitak kepala dongsaengnya.

Junyoung mengelus kepalanya yang dijitak noona nya, “aissh.. noona~ ini di jalan, bagaimana kau ini, ini bisa merusak penampilanmu sekarang, penampilan sudah cute tapi kelakuanmu itu, masih seperti preman” soyoung membenah dirinya dan kembali berjalan dengan gaya yang cute yang membuat junyoung yang meliht tingkah noona nya itu ingin muntah di tkp.

Junyoung sudah sampai di sekolahnya dan masuk tanpa pamitan pada noona nya yang menemaninya sepanjang jalan, “dasar dongsaeng kurang ajar” rutuk soyoung. Lalu soyoung kembali meneruskan berjalan beberapa blok lagi untuk sampai di sekolahnya, youngdong highschool.

(skip>>>)

-istirahat-

Soyoung berdiam diri di kelasnya di waktu istirahat, tidak biasanya. Biasanya kalau ia tidak pergi ke kantin, ia selalu diseret banyak namja untuk menemani namja-namja itu mengobrol hal-hal yang sebenarnya sangat tidak penting. Namun apa daya, soyoung sudah dikenal sebagai yeoja yang cute sejak ia masuk ke youngdong highschool. Niat awalnya ia hanya melakukan ini demi taemin, tapi orang-orang sudah terlanjur memberinya label cute, jadi soyoung menjalaninya dengan rasa terpaksa.

Soyoung mengotak-ngatik hp nya. ‘dddrrttt dddrrrttt’. Hp nya bergetar, ada panggilan dari nomor tidak dikenal. Soyoung mengangkatnya dengan perasaan yang sama sekali tidak penasaran, namun ia berharap yang menghubunginya sekarang adalah kwangmin.

“yeobseyo?” ucap soyoung dengan suaranya yang se’cute mungkin.

“yeobseyo, ini soyoung?”

“ne, ini siapa ?”

“aku taemin, kau masih ingat aku ?” soyoung langsung membulatkan matanya tidak percaya. “ne, aku masih ingat, ada apa menghubungiku ?”

“syukurlah kau masih mengingatku, aku baru kembali ke korea, dan aku sangat ingin bertemu denganmu, boleh ?”

“ne, kapan dan dimana ?”

“setelah kau pulang sekolah saja, masalah tempat, lihat saja nanti, aku akan menjemputmu nanti, sekolahmu dimana ?”

“youngdong highschool”

“oh disana.. nanti aku akan menjemputmu .. see you”

Soyoung menutup flip hp nya. ‘setelah 4 tahaun, kau baru mnghubungiku ? namja sialan-.-‘ geutu soyoung dalam hati. Tentu dalam hati, karena kalau ia menggerutu apalagi jika sambil berteriak-teriak, reputasinya sebagai yeoja di sekolah akan hancur. Soyoung tidak mau itu semua terjadi.

‘dddrrrrttt dddrrtttt’ hp nya kembali bergetar. Tertera nama junyoung babo. “yeobseyo?”

“noona~ tidak usah galak begitu”

“aissh, ada apa ? ppali, sebentar lagi waktu istirahatku hamper habis”

“ani, sepulang sekolah atau nanti malam, bantu aku belajar lagi ya~”

“mwo ? shireo! Cari saja guru privat mu sendiri! Sunbae mu di sekolah bisa kan ?!” soyoung memutuskan sambungannya.

-pulang sekolah-

Soyoung sedang mengemas buku-buku nya. “soyoung-ah, kau mau pulang ya ? mau kuantar ?” tawar namja yang bernama minwoo dengan senyuman manisnya. Soyoung membalas senyumannya. “mianhae minwoo-a, aku tidak bisa, aku ada janji dengan seseorang saat ini..” jawab soyoung lalu berjalan meninggalkan minwoo. Sebelum benar-benar mennggalkan kelas, soyoung menoleh dan tersenyum manis pada minwoo, “lain kali mungkin bisa, jangan kapok menawariku ya~”. Minwoo tersenyum senang. “of course my princess”. Soyoung kembali berjalan menuju gerbang sekolah.

Ia berjalan seanggun mungkin, karena jarak dari kelas menuju gerbang lumayan jauh, dan itu melewati lapangan basket, tentu disana banyak namja, dan soyoung harus menjaga image nya. Sepanjang jalan ia selalu menebar senyum pada namja yang juga tersenyum kepadanya.

“soyoung-ah!” teriak seorang namja di gerbang sekolah yang memakai jeans putih dan t-shirt putih yang dibalutnya dengan blazer warna abu-abu. Semua mata yang ada disana tertuju pada namja itu dan juga pada soyoung. Dan tidak sedikit siswa lain berkomentar, “seorang puteri yang mendapatkan seorang pangeran, itu memang pantas”.

Soyoung berjalan dengan cepat menghampiri namja itu, yang ternyata adalah taemin. “annyeong soyoung-ah” sapa taemin dengan memandangi soyoung dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan itu membuat soyoung merasa risih. Taemin membukakan pintu mobil untuk soyoung, soyoung pun masuk.

@kedai ice cream

Soyoung dan taemin berhenti di depan kedai ice cream, mereka masuk dan duduk di salah satu meja disana. “mau pesan apa ?” Tanya taemin pada soyoung ketika seorag waitress menghampiri mereka, “terserah kau saja” jawab soyoung, sebenarnya ia begtu menggilai ice cream, namun di depannya kini ada taemin, jadi dia harus menjaga image nya. “kalau begitu aku pesan macca ice cream dan spagetty ice, masing-masing 2 ya” ujar taemin pada waitress itu.

“sebenarnya kenapa kau mengajakku kemari ?” Tanya soyoung.

“ani, aku hanya merindukanmu, kau sudah banyak berubah ya ?”

“maksudmu ?”

“sekarang kau sangat girly, aku suka.. rambutmu juga..”

“gomawo”

“bahkan tutur bahasamu saja berubah, apa ini semua untukku ? kau berubah demi mendapatkan cintaku kan ?” soyoung kesal, sebenarnya rasa cintanya pada taemin sudah hilang semenjak kepergian taemin ke kanada. Soyoung tersenyum pahit. “sayang sekali aku berubah bukan untukmu, ini keinginanku, kau jangan terlalu percaya diri! Aku pulang !” seru soyoung lalu berjalan meninggalkan taemin. Taemin pun tidak mengejar soyoung, karena tidak ada niatan sama sekali ia menemui soyoung dan menerima cintanya.

Soyoung berlari dengan cepat, karena ia ingin cepat sampai di rumahnya. Jangan kira soyoung menangis sekarang. Yang ada soyoung sekarang menggerutu sepanjang jalan, “namja babo! Pd sekali dia, memangnya aku masih mencintainya ? cih.. mana mungkin!”

“aku pulang !!” seru soyoung ketika ia sampai di rumah. Ia berjalan dengan cepat menuju kamarnya lalu mandi agar pikirannya lebih tenang.

**

‘dddrrtttt dddrrrtttt’

Soyoung meraih hp nya yang ia sengaja simpan di meja belajarnya. Ternyata ada pesan.

From : xxx-xxxxxx
Annyeong soyoung-ah, ini aku kwangmin, mian aku baru bisa menghubungimu sekarang. Kau sedang apa?

Soyoung menyimpan nomor dan membalas pesan kwangmin.

To : kwangmin
Aku sedang kesal

From : kwangmin
Waeyo ? aku mengganggumu ya ? kau bisa cerita padaku

To : kwangmin
Ne begitulah.. kau benar-benar mau mendengarkan ceritaku ?

Kwangmin tidak membalas pesan soyoung, namun kwangmin menelepon soyoung dan soyoung pun akhirnya menceritakan semua tentang taemin dari awal soyoung menembaknya hingga kejadian tadi siang. Namun satu yang soyoung tidak ceritakan, ia tidak menceritakan sikap aslinya kepada kwangmin. ia hanya bilang kalau taemin hanya meminta soyoung untuk memanjangkan rambut.

“dia seperti itu bukan mencintaimu, karena dia tidak bisa mencintaimu apa adanya, jika dia tulus mencintaimu, ia tidak perlu mengubahmu”

“ahah.. ne.. kau benar kwangmin-ah.. aku tutup teleponnya ya, aku harus menghafal, bye”

“bye.. see you~”

Seiring soyoung menutup teleponnya, pintu kamar soyoung terdengar ada yang mengetuuk. “masuk!”

Pintu terbuka dan muncul seorang namja, junyoung. “ada apa ?”

“aku tidak mengerti soal geografi noona~ bisa ajarkan ?”

“aduuh.. baiklah… tapi ini terakhi kalinya ya~ besok-besok menta saja diajari pada orang lain”

**

Seminggu kemudian

Soyoung dan kwangmin semakin dekat. Setiap hari mereka pulang bersama. Dan sering berjalan berdua, hingga di hati masing-masing tumbuh rasa yang tidak pernah diharapkan. Rasa cinta. Soyoung masih saja selalu bersikap anggun di depan kwangmin, ia melakukan itu karena tidak ingin kwangmin menjauhinya. Ia tidak ingin kwangmin meninggalkannya seperti taemin meninggalkannya dulu. Ia tidak mau semua itu terjadi.

“soyoung-ah, hari minggu, maaf ya, aku tidak bisa jalan denganmu sesuai janjiku, aku ada tugas untuk membimbing hoobae ku di sekolah dan aku harus ke rumahnya untuk membantunya belajar” soyoung tersenyum, berusaha untuk tersenyum. Padahal di dalam hatinya ia kesal setengah hidup pada kwangmin, tapi ia memakluminya, kwangmin bukan ingin meninggalkannya, tapi hanya sedang sibuk diperintah seonsaengnim di sekolahnya. Mengajari hoobae nya ? kwangmin mau saja diperintah seperti itu, kalau aku jadi dia, aku sudah menolaknya, batin soyoung.

“ne, gwenchana..” ucap soyoung lembut. “jinja ? gomawo^^, aku janji akan menemanimu untuk minggu depan nya lagi untuk mengganti hari minggu besok” kwangmin berjanji pada soyoung dengan menggenggam tangan soyoung erat, lalu mencium pipi soyoung. Wajah soyoung memerah, dan tangannya langsung mengelus pipinya yang dicium kwangmin. “mianhae, aku hanya terlalu senang kau begitu mempercayaiku” ujar kwangmin, masih menggenggam tangan soyoung.

‘apa jika kwangmin tahu sifatku yang sebenarnya ia tidak akan memperlakukanku seperti ini ? apa dia akn meninggalkanku seperti taemin dulu meninggalkanku ? sebenarnya aku sangat tersiksa dengan terus membohongi orang-orang.. tapi apa boleh buat, aku melakukan ini agar semua orang menghargaiku, terutama kau kwangmin! sebaiknya aku harus tetap bersikap seperti ini agar kwangmin selalu berada disisiku. Aku tidak mau dia meningglkanku.. tidak.. tidk boleh !’ pikir soyoung.

Kwangmin menatap soyoung yang duduk disampingnya. “kau melamun ?” soyoung langsung tersadar dari pikirannya yang semrawut. “ah.. ani.. hehe..”

“soyoung-ah, sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.. tapi kau jangan marah ya..” soyoung mengangguk dan berdo’a di dalam hatinya, ‘kumohon kau jangan berbicara kau akan meninggalkanku!’

“yaksok ?”

“ne.. mau bicara apa ?”

“saranghae soyoung-ah..” soyoung langsung menatap kwangmin. mencari kepastian dimata kwangmin. “jinja ?” kwangmin mengangguk pasti. “aku berjanji aku tidak akna meninggalkanmu, apa jawabanmu ?”

“nado saranghae, kwangmin-a..” jawab soyoung. Kwangmin tersenyum bahagia, sesaat kemudian ia memeluk tubuh soyoung sangat erat. Seolah olah ia tidak mengijinkan soyoung pergi kemana pun.

“panggil aku oppa, ne ?”

Soyoung mengangguk, “ne oppa”

**

Minggu, 08.59 kst

Minggu pagi. Hari yang begitu tenang. Soyoung belum bangun dari tidur nyenyak nya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia sangat malas untuk bangun, apalagi setelah ia mengetahui jum’at kemarin kemarin kalau kwangmin tidak akan mengajaknya jalan di hari minggu ini.

Tokk tokk tokk

“soyoung-ah! Bangun dan cepat mandi ! eomma mau pergi dulu! Di rumah ada tamu, jadi sebaiknya kau layani tamu dengan baik, arra ? kalau kau tidak mau kau tahu sendiri akibatnya!” seru eomma dibalik daun pintu kamar soyoung. Dengan sangat malas, soyoung menjawab, “ne eomma, arraseo..”

Eomma soyoung pun pergi karena ada acara arisan bersama tetangga-tetangganya. Soyoung dengan malas turun untuk mandi. Ia mendengar percakapan namja di ruang tamu, salah satu suara ynag ia dengar adalah suara junyoung, dongsaengnya, “itu tamu junyoung mengapa aku yang harus melayaninya ?” gumam soyoung lalu masuk ke kamar mandi.

Soyoung keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju yang biasa ia pakai bila sedang berada di rumah. Celana pendek selutut berwarna hitam dan t-shirt bergambar robot dengan warna dasar putih, tak lupa ia mengikat dan menggelung rambutnya tinggi-tinggi, ia bisa kepanasan jika ada rambut yang menempel di lehernya.

Baru setengah jalan ia menaiki anak tangga, terdengar teriakan dongsaengnya dari ruang tamu, “noona~! Bawakan minuman dan juga makanan untukku dan juga untuk sunbae ku!”

“ne!!” soyoung balas berteriak.

“jangan lama ya noona~!!”

“naa babo !!”

Soyoung dengan kesal mempersiapkan apa yang tadi dongsaengnya minta. Ia membawanya ke ruang tamu. Ia melihat sunbae dongsaengnya sedang menunduk, fokus pada buku yang ia baca. Dan juga sunbae dongsaengnya itu duduk membelakangi soyoung. “ige, dasar tukang perintah ! lain kali ambil sendiri dongsaeng babo!” sunbae dongsaengnya menoleh dan menatap soyoung dengan tatapan tidak percaya.

Soyoung pun balas menatap sunbae dongsaengnya yang ternyata adalah kwangmin. kwangmin menatap soyoung dari ujung kaki sampai unjung kepala, kwangmin benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Soyoung yang sekarang ia lihat adalah soyoung yang sikap dan kelakuannya berbalik dari sikap dan kelakuan soyoung bila ia sedang dihadapan kwangmin. “soyoung-ah ?” panggil kwangmin tidak percaya.

Dengan langkah cepat, soyoung meninggalkan ruang tau dan mengunci dirinya di kamar kesayangannya yang ia cat dengan warna dark blue.

Junyoung menatap noona nya yang begitu cepat meninggalkan ruang tamu dan juga menatap kwangmin, sunbae nya dengan tatapan seolah-olah bertanya –apa hubungan kalian?-.

“sunbae kau mengenalnya ?” Tanya junyoung.

“ne, aku mengenalnya, di noona mu ?” kwangmin balik bertanya.

“ne, sunbae ada hubungan apa dengan noona ku ? aku baru sekali ini melihat noona yang galak terpaku begitu saja gara-gara tatapan seseorang..”

“dia.. dia yeojachinguku..”

“jinja ??!!! aku tidak percaya sunbae..”

“itu benar.. tapi di hadapanku dia benar-benar berbeda dengan soyoung yang aku lihat barusan!”

“dia memang seperti itu kalau berada di rumah sunbae, kalau di luar, dia begitu anggun, dia hanya jaga image..”

“bisa kau ceritakan semua tentang noona mu yang bersikap seperti itu ?” pinta kwangmin.

“tentu !”

Junyoung menceritakan semuanya kepada kwangmin dan kwangmin pun mendengarkannya dengan baik. Junyoung mulai menceritakan dari noona nya yang mengubah penampilan dan juga sifatnya karena ditolak taemin, menceritakan noona nya yang selalu bersikap kasar dan juga galak bila berada di rumah namun tidak ketika berada di luar.

Soyoung pov

Babo!!! Aku bersembunyi dibawah selimut tebalku. Pertahanan yang selama ini aku bangun langsung runtuh. Kwangmin oppa mengetahui semuanya, dan sekarang oasti dongsaeng sialan itu menceritakan tentang sifatku yang berbalik dari biasanya! Pasti dia menceritakan semuanya ! konsekuensinya apa ? pasti kwangmin oppa akan memutuskan hubungan ku dengannya, karena dua alasan, karena telah berpura-pura dan satu yang lebih fatal. Aku membohonginya tentang sifatku ini. baiklah aku sudah siap menerima resiko apapun. Memang semua ini dari awal adalah salahku. Maka aku sendiri yang akan bertanggung jawab.

Soyoung pov end

**

Malam, 20.00

Alunan music game angry birds mengalun dari hp soyoung. Tanda ada yang meneleponnya. “kwangmin oppa” gumam soyoung. Soyoung tidak merani mengangkan teleponnya. Karena ia tahu kwangmin pasti akan meminta ia menjelaskan semuanya lalu memutuskan hubungannya, soyoung belum siap akan semua itu. Soyoung membiarkan hp nya terus bordering. Lalu soyoung menutup matanya dan berdo’a semoga ini semua adalah mimpi.

Keesokan harinya

Soyoung bangun dengan wajah dan rambut yang kusut. Ia melihat hp nya, “26 missed calls” gumam soyoung. Ia bergegas untuk mandi. Lalu soyoung pergi ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.

Soyoung berjalan untuk menempuh perjalanannya ke sekolah. Ia berjalan melewati sokolah dongsaengnya yang juga merupakan sekolah kwangmin. ia melirik pada namja yang sedang berdiri di gerbang sekolah itu, soyoung menyadari kalau namja itu adalah kwangmin, ia mempercepat gerak langkah kakinya. Kwangmin juga menyadari kalau yang lewat barusan adalah soyoung, “soyoung-ah !!” teriak kwangmin. namun soyoung sama sekali tidak menjawab bahkan menoleh pun tidak, yang soyoung lakukan adalah mempercepat langkah kakinya.

--

Saat pulang sekolah pun soyoung menghindari kwangmin yang terus saja memanggil namanya ketika kwangmin berjalan di belakang soyoung. Soyoung terus mempercepat langkahnya, hingga ia sampai di rumah.

“noona~ ini ada surat dari kwangmin sunbae, katanya kau tidak mengangkat teleponnya, jadi ia menitipkan surat ini padaku” ujar junyoung. “tidak usah, aku sudah tahu pasti isinya, kau buang saja” sahut soyoung lalu oergi ke kamarnya. “dasar” gerutu junyoung.

Sudah hampir seminggu soyoung selalu menghindari kwangmin. ia belum siap mendengar kata ‘putus’ dari kwangmin. ia belum siap kehilangan kwangmin dari sisinya. Selama itu pula soyoung tidak pernah mengangkat telepon dari kwangmin.

Di sekolah, soyoung selalu bersikap sebagaimana ia bersikap biasanya. Namun di rumah, ia tidak kasar ataupun galak sebagaimana anggapan junyoung padanya, soyoung sekarang lebih banyak diam dan juga mengurung diri di kamar. Soyoung sering telat makan, badannya kini semakin kurus.

Soyoung memakai hotpants nya dan memakai hoodie nya, lalu berjalan keluar dari kamarnya. “mau kemana ?” Tanya eomma, “aku mau ke rumah harabeoji, besok libur jadi aku ingin menenangkan ikiran disana..” jawab soyoung. “ne, hati-hati.. kau sudah beli tiket pesawatnya kan ?”

“ne.. aku pergi dulu eomma, junyoung awas kau menyusahkan eomma, kubunuh kau!” pesan soyoung dan junyoung mengangguk. Kemudian soyoung pergi keluar rumah dengan menggendong tas punggungnya yang berisi pakaian dan juga perlengkapan lain.

Ia bergegas berangkat ke bandara karena ia mengambil penerbangan malam ke pulau jeju dimana harabeoji dan halmeoni nya tinggal.

Keesokan hari

Liburan sekolah sudah menghampiri para pelajar. Saat keadaan matahari masih belum panas, kwangmin memutuskan untuk pergi ke rumah soyoung.

Tokk

Tokk

Tokk

Seorang yeoja paruh baya membukakan pintu untuk kwangmin, “bukannya sekarang libur mengajari junyoung ?” Tanya eomma soyoung dengan senyum ramah nya. Kwangmin membalas senyumannya. “ani, aku kemari untuk mencari soyoung, dia ada ?”

“baru saja semalam ia pergi untuk berlibur ke pulau jeju” kwangmin tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “boleh aku meminta alamatnya ?” eomma soyoung memberikan alamat rumah orang tua nya dimana sekarang soyoung sedang berlibur disana. Tepatnya sedang menghindari kwangmin.

Tanpa menunggu waktu lama, kwangmin langsung pergi ke pulau jeju.

**

Setelah sampai, kwangmin pergi dengan taksi ke alamat yang diberikan eomma soyoung. Kwangmin sampai di rumah yang ia tuju. Rumah yang besar yang terletak di dekat pantai. kwangmin mengetuk pintu rumah itu. Lalu seorang namja lanjut usia dengan keriput dimana mana tersenyum kepadanya, “mencari siapa nak ?” Tanya namja tua itu, yang ternyata adalah harrabeoji soyoung.

“aku mencari soyoung, dia ada ?”

Lagi-lagi kakek itu tersenyum. “sore hari dia biasa berada di pantai dan menunggu matahari terbenam” ujar kakek itu. “gomawo” kwangmin membungkukkan badannya beberapa kali untuk rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua.

Tanpa membuang banyak waktu, kwangmin berjalan menelusuri pantai mencari sosok yeoja yang sedang ia cari. Kwangmin menemukan seorang yeoja dengan penampilannya yang tomboy, kwangmin yakin itu adalah soyoung, namun kwangmin melihat ada yang beda dari yeoja itu. Rambutnya. Kini rambut soyoung yang dulu panjangnya sepinggang, berubah menjadi sebatas bahu nya saja.

Kwangmin berjalan semakin mendekat pada soyoung. Kwangmin berdiri tepat dibelakang soyoung. “kenapa kau menghindariku ? kau membenciku ?” Tanya kwangmin sambil menatap indahnya pemandangan pantai di sore hari. Yeoja itu, soyoung, menoleh dan menatap seorang namja yang berbicara barusan, “kwangmin oppa?” panggilnya.

Kwangmin ikut duduk di sebelah soyoung. Kwangmin menatap yeoja nya itu, “kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau menghindariku selama ini ? sekarang kau malah pergi kesini tanpa mengabariku”

“aku—“

“kenapa kau berpura-pura dihadapanku ?! kenapa kau menyembunyikan dirimu yang sebenarnya ? sejujurnya aku kecewa padamu !!” kwangmin membentak soyoung. Soyoung yang mempunyai mental seperti namja, dia tidak bergetar sama sekali, apalagi menangis, hal itu adalah hal yang selalu ia hindari.

“lantas ? kau mau apa ? aku sudah tahu kau pasti akan membenciku dengan seifatku yang seperti namja ini kan ? kau mau apa ? memutuskanku ? geurae !! aku terima !! kau sama saja seperti namja kebanyakan!” soyoung balas membentak kwangmin lalu berjalan meninggalkan kwangmin disana.

Kwangmin berdiri dan mengejar soyoung. Sudah dekat jarak diantara mereka, kwangmin dengan mengumpulkan keberaniannya memeluk soyoung dari belakang. “aku memang kecewa padamu, tapi cintaku padamu lebih besar.. jadi dengan sangat mudah aku bisa memaafkanmu, aku juga sudah mengetahui semuanya, tentang taemin atau siapapun itu dari dongsaengmu, aku tahu itu yang mengubah dirimu, aku mengerti”

“lepaskan aku!” kwangmin tetap pada posisinya.

“kubilang lepaskan aku !!! apa kau tidak dengar ?”

Kwangmin melepaskan pelukannya dan memegang bahu soyoung lalu membalikkan tubuh soyoung agar posisi mereka berhadapan. “saranghae!”

“kau bohong! Kau tidak mencintaiku sejak kau tahu aku yang sebenarnya”

“soyoung-ah, dengar, yang kutahu, cinta itu adalah bisa menerima pasangannya apa adanya, bagaimana sikap pasangannya, bagaimana kelakuan pasangannya, bagaimana penampilan pasangannya, bagaimana tutur katanya.. itulah yang membuatku masih mempertahankan perasaanku padamu dan tidak akan berubah selamanya!”

Soyoung terdiam dan menatap kwangmin yang lebih tinggi darinya. “jeongmal ?”

“ne.. kau bisa pegang janjiku, janjiku adalah janji seorang namja, seorang namja tidak akan menjilat ludahnya sediri!”

“aku mau bukti” ucap soyoung.

“aku akan menikahimu !”

“mwo ? kita kan masih sma oppa !”

“kita menikah setelah lulus nanti ! sekarang aku akan memberitahu harrabeoji dan halmeoni mu !” ucap kwangmin sambil berlari menuju rumah harrabeoji dan halmeoni soyoung.

“ya ! oppa tunggu !!” soyoung mengejar kwangmin yang berlari. Kemudian kaki soyoung tersandung batu dan terjatuh, lalu soyoung meringis kesakitan. Kwangmin menyadari soyoung yang tidak mengejarnya lagi, kwangmin menoleh dan kwangmin melihat soyoung yang agak jauh darinya sedang duduk diatas pasir sambil memegangi kakinya. Kwangmin dengan cepat menghampiri soyoung.

“gwenchana ?” Tanya kwangmin khawatir.

Soyoung menatap kwangmin yang mengkhawatirkannya. “ahahaha! Kau tertipuuu~”

Soyoung terus menertawakan kwangmin yang tertipu olehnya. Karena soyoung terus saja tertawa, kwangmin membungkam bibir soyoung dengan bibirnya, sekejap soyoung langsung diam. Kwangmin melepaskan tautan bibirnya dengan bibir soyoung. “1 sama! Sekarang aku akan melamarmu~ hahahaha” kwangmin kembali berlari menuju rumah dan kini soyoung mengejarnya lagi. “ya!!!! Jo kwangmiiiiiiin!!!!!”


END

1 komentar:

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template