Minggu, 04 Maret 2012

FF | That Man | OneShot


Tittle : That Man
Author : Okky Oktavia | Keii’s
Genre : AU, Angst, Friendship, Romance, School life
Rating : G
Length : Oneshot
Main Cast :
1.      Lee ChanHee (ChunJi)
2.      Han MinChan
BackSong : HyunBin – That Man
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves. This story is mine.



That Man

Satu laki-laki mencintaimu. Laki-laki yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Ia mengikutimu seperti bayangan setiap hari. Laki-laki itu menangis dan tertawa. Betapa.. berapa lama lagi laki-laki itu harus tetap sendiri. Cinta ini datang seperti angin. Cinta ini seperti seorang pengemis. Jika dia terus seperti ini apa kau akan mencintai laki-laki itu ?. hanya datang sedikit lebih dekat, sedikit lebih. Jika laki-laki itu mengambil satu langkah lebih dekat denganmu, maka kau mengambil dua langkah mundur. Laki-laki yang mencintaimu adalah yang berada di sebelahmu, bahkan sampai sekarang. Laki-laki itu sebenarnya mempunyai pribadi yang pemalu. Jadi dia belajar bagaimana bisa tertawa. Hati laki-laki itu penuh dengan luka. Laki-laki itu ingin menjadi kekasihmu.

Aku berteriak bahwa laki-laki yang mencintaimu adalah aku.

That Man


“minchan ?” panggil chunji pelan, “ne ?” sahut minchan dengan suara yang tak kalah kecil, lebih dari bisikan, mungkin hanya sebuah gerakan dari mulut mungil minchan, namun chunji mengerti.

“saranghae..” ucap chunji. “babo !” minchan hanya memeletkan lidahnya pada teman sebangkunya itu lalu kembali fokus memerhatikan seonsaengnim yang sedang menerangkan pelajaran. Chunji hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Chunji tidak kehabisan akal, dia menulis sebuah kata pada secarik kertas kecil, sebuah kata yang biasanya sangat sulit diucapkan namun dia dengan mudah selalu mengucapkannya. Chunji membentuk kertas itu menjadi sebuah bulatan kecil, dan menggelindingkannya ke teman sebangkunya, minchan.

Minchan tidak menghiraukan kertas yang digelindingkan itu, ia terus fokus pada pelajaran, sedangkan chunji hanya menatap minchan dengan tatapan berharap agar minchan mau memungut kertas pernyataan cintanya.

“Lee ChanHee!!! Sebenarnya gurumu itu aku atau minchan, huh ? apa wajah minchan sebegitu miripnya dengan papan tulis dan semenarik rumus matematika, hingga kau terus memerhatikannya ?!!” omel Kibum seosaengnim.

That Man

Seperti istirahat di hari-hari sebelumnya, minchan selalu mengisi waktu istirahatnya untuk membaca buku di halaman belakang sekolah yang sejuk karena banyak pohon yang rindang. Sebelum membaca buku, minchan memakan bekal yang sengaja ia bawa dari rumah. Dengan sumpit nya, minchan mengambil sebuah telur dadar gulung, dan hendak memasukkannya kedalam mulutnya, namun mulut seseorang mendahuluinya. Chunji, dia memakannya, kini jarak wajah mereka begitu dekat. Chunji tetap menatap minchan. Wajah minchan memerah. “kau mengangguku, sana pergi” titah minchan. Chunji menjauhkan wajahnya dan duduk disamping minchan.

“minchan, kau tahu ?”

“ani ..”

“aku kan belum mengatakannya..”

“baiklah, apa ?”

“saranghae ..”

“setiap hari aku mendengarnya, aku bosan” jawab minchan sambil membuka novelnya. Chunji menghela nafas panjang, mencoba untuk bersabar menghadapi sifat yeoja yang disukainya itu. “lalu, aku harus bagaimana ?”

“molla, itu kan urusanmu, jadi aku tidak peduli..”

“dasar ice princess, semakin dingin sikapmu padaku, aku semakin mencintaimu” bukannya kesal, chunji malah tersenyum dan mencubit pipi minchan. Minchan kini menatap chunji, chunji balas menatapnya sambil tersenyum. “you’re so beautiful to me girl” ujar chunji. Wajah minchan memerah. Entah malu atau apa.

“walau hatimu belum membalas perasaanku, tapi tubuhmu, terutama wajahmu lebih merespons tatapanku..”

“babo!”

“aku bodoh, karena aku terlalu mencintaimu, otteohkae ? apakah salah ?”

Minchan terdiam. “kajja, bel masuk sudah berbunyi..” ajak chunji sambil menggenggam tangan minchan dam menariknya ke kelas.

Selama jam pelajaran dimulai, chunji selalu menyempatkan memerhatikan minchan yang sedang fokus, dan terkadang memotret minchan, tentunya minchan tidak sadar itu. Setelah puas memandangi wajah minchan, chunji kembali fokus ke pelajaran.

That Man

Chunji memang tetangga minchan sejak mereka masih kecil. Balkon kamar mereka yang sama-sama di lantai 2, berhadapan. Jika jendela kamar minchan terbuka, chunji tidak pernah melewatkan memerhatikan minchan.

“minchan, kajja kita pulang !” ajak chunji.

“duluan saja, aku masih harus menyalin tulisanku..” jawab minchan.

Chunji keluar kelas, ia tidak mengiyakan akan pulang duluan, chunji menunggu minchan di halte bus yang berada tepat disamping sekolah mereka. Chunji duduk di halte dengan earphone yang menempel di kupingnya.

Tak lama kemudian, minchan muncul dari gerbang sekolah dan berjalan menuju halte bus, dimana chunji berada. Sesampainya di halte, minchan mengerutkan keningnya, ia heran mengapa chunji duduk di halte sambil memejamkan matanya, apa chunji ketiduran ? atau terlalu menghayati lagu yang ia dengar ? entahlah.

Minchan menyentuh bahu chunji. “ya, ireona, kenapa kau tidur disini ?”. chunji membuka matanya. “ah .. mian, kau sudah selesai rupanya, kajja kita pulang..” chunji menarik tangan minchan dan masuk ke bus yang baru saja berhenti dihadapan mereka. Minchan menurut saja, toh ia percaya chunji tidak akan macam-macam padanya.

Keadaan bus yang memang penuh, membuat chunji dan minchan berdesakan di dalam bus. Chunji menarik minchan kedalam pelukannya. Niat chunji baik, ia hanya ingin melindungi yeoja yang ia cintai, chunji tidak mau sampai ada hal buruk terjadi pada minchan, apalagi saat ia ada disamping minchan. Minchan terkejut dan sedikit meronta didalam pelukan chunji. “aku tidak akan macam-macam padamu, aku hanya ingin melindungimu, apa tidak boleh ?” tanya chunji, minchan tidak meronta seperti tadi, ia merasa nyaman dalam pelukan chunji sampai bus berhenti di halte dekat rumah mereka.

That Man

“eomma, aku berangkat dulu..” pamit minchan. Minchan membuka gerbang rumahnya dan menemukan chunji yang sedang menunggunya. “ah .. akhirnya muncul juga, kajja !” tanpa minchan izinkan, chunji sudah menarik tangan minchan.

Mereka berjalan, dengan chunji yang masih memegang tangan minchan. Mereka berjalan dalam keheningan. “hey minchan..” ucap chunji.

“ne ?”

“kenapa kau tidak pernah menjawab perasaanku ?”

“molla …. Apakah jawabanku begitu penting untukmu ?”

“tentu saja ..”

Mereka kembali diam. Kembali sibuk dalam lamunannya masing-masing. Mereka terus diam hingga mereka sampai di sekolah. Minchan duduk di bangkunya, begitupun dengan chunji, ia duduk di sebelah minchan.

Di kelas sudah ramai, murid-murid sudah  berdatangan. “akan ada murid baru, yeoja, katanya dia sangat cantik!” setiap murid namja yang baru datang selalu berkata seperti itu. Tak lama kemudian, seonsaengnim datang dengan seorang yeoja. Benar saja, yeoja yang cantik. Yeoja itu bertubuh tinggi, langsing, rambut sepunggungnya yang bergelombang membuat penampilan cantiknya semakin sempurna.

Semua murid namja terkesima dengan kecantikan murid baru itu. Hanya satu namja yang terlihat tidak peduli, chunji. “annyeonghaseyo ^^, nan kim chaerin imnida” chaerin memperkenalkan dirinya. Lalu, seonsaengnim menyuruh chaerin duduk di bangku yang kosong, bangku yang berada didepan bangku minchan dan chunji.

“annyeong ^^, chaerin imnida” sapa chaerin pada chunji dan minchan. “annyeong, minchan imnida”, “annyeong, chunji imnida^^”

Chaerin kembali menghadap ke depan. Karena seonsaengnim akan memulai pelajaran. Kalau dilihat-lihat, tatapan chaerin pada chunji sungguh aneh, bukan tatapan yang biasanya. Namun chunji tidak memperdulikannya, baginya minchan adalah satu-satunya yeoja yang ia cintai saat ini.

That Man

Akhirnya waktu yang disukai para pelajar tiba. Waktu istirahat. Minchan tetap di kelas, begitupun dengan chunji dan juga, err.. chaerin. “chunji-a, bisa temani aku berkeliling di sekolah ?” pinta chaerin. “ah.. bagaimana ya ..” chunji menimbang-nimbang permintaan chaerin. “ayolah…” chaerin memasang wajah memelas. “ah .. baiklah ..” akhirnya chunji meng’iya kan permintaan chaerin.

Chunji menemani chaerin berkeliling sekolah. Mereka berjalan berdampingan. Membuat semua mata yang memandang merasa iri. Semua mata yang memandang itu menganggap chunji dan chaerin sangat cocok menjadi sepasang kekasih.  Minchan menghela nafasnya. Bukan karena tidak suka melihat keakraban chunji dan juga chaerin, tapi karena ia merasa matanya sangat lelah karena ia terus membaca novelnya.

That Man

-pulang sekolah-

Minchan langsung melangkahkan kakinya keluar sekolah. Ia tidak melihat chunji menunggunya. Tapi ia mendengar kalau chunji pulang bersama chaerin, walaupun rumah mereka tidak dekat, tapi rumah mereka satu arah. Minchan menghela nafasnya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang selalu ada disampingnya.

Bus lewat, mkinchan langsung masuk ke bus itu, karena ia ingin cepat sampai di rumah, ingin cepat membasuh tubuhnya dengan air di hari sepanas ini dan langsung memejamkan matanya di ranjang nya yang nyaman.

Sesampainya di rumah, minchan langsung mandi dan langsung duduk di balkon kamarnya. Minchan menatap balkon yang ada di seberang balkon kamarnya, balkon kamar chunji. Terlihat seperti tidak berpenghuni. Mungkin chunji belum pulang dari bersenang-senangnya bersama chaerin, si murid baru.

-Malam hari-

Minchan sedang membereskan meja belajarnya dan memasukan buku pelajaran hari esok kedalam tas punggungnya. ‘ddrrrrtttt dddrrrrrrttttt’. Minchan meraih ponsel yang tergeletak di meja belajar.

“yeobseyo ?”

‘yeobseyo, minchan ?’

“ne .. ada apa ?”

‘aniyo …’

“kalau begitu aku tutup ya ?”

‘jangan, oh, baiklah, tutup saja, tapi kau keluar kamarmu ya, aku tunggu..’

Minchan menutup telepon dari chunji dan keluar dari kamarnya. Di balkon kamarnya, minchan melihat ke balkon kamar chunji, tidak ada siapa-siapa. “dasar namja tukang mempermainkan orang, untung saja aku belum menjawab peryataannya”gumam minchan. Minchan berbalik dan hendak kembali masuk ke kamarnnya. “minchan!” panggil seseorang, minhan yakin kalau yang memanggilnya itu adalah chunji.

Minchan berbalik. “mau apa ?”

“aniyo.. aku hanya ….—“

“kalau tidak ada apa-apa jangan memanggilku ..”

“baiklah kalau itu maumu .. padahal aku belum selesai berbicara..”

Minchan masuk ke kamarnya. Chunji juga kembali ke kamarnya. ‘mianhae chunji .. aku tidak pantas untukmu .. kau terlalu sempurna untuk yeoja sepertiku .. aku, bila kujawab pernyataanmu, aku sungguh merasa sangat tidak pantas berada di dekatmu ..’ batin minchan.

‘minchan.. aku sangat mencintaimu .. tapi sepertinya kau memang benar-benar tidak tertarik padaku .. apa yang harus kulakukan agar kau bisa sedikit saja melihat kearahku ?’ batin chunji lalu menutup tubuhnya dengan selimutnya.

That Man

Chunji : cinta, menurutku, cinta itu adalah sesuatu yang sangat layak untuk diperjuangkan. Cinta itu pantas dirasakan oleh siapa saja. Cinta itu tidak memandang status ataupun kasta. Cinta itu adalah sebuah ketulusan. Cinta itu bisa menerima seseorang apa adanya, tidak memaksakan seseorang sesuai kehendak kita.

Minchan : cinta itu adalah sesuatu yang bisa diibaratkan dengan kaca yang sangat tipis. Sedikit saja cinta itu dikhianati, maka mungkin saja akan retak dan mungkin juga bisa pecah. Jatuh cinta memang indah, setiap merasakan cinta, pasti akan mengalami sakit hati. Atau mengalami sakit hati terlebih dahulu, lalu merasakan yang namanya cinta.

That Man

Beberapa bulan kemudian..

Hubungan Chaerin dan chunji semakin dekat. Bahkan ada yang mengatakan kalau mereka memang sudah menjadi sepasang kekasih. Beberapa bulan kemarin, minchan sudah sangat jarang mendengar chunji mengatakan ‘saranghae’ padanya. Minchan berpikir, mungkin saja chunji memang benar-benar menjadi kekasih chaerin. Minchan tidak mau melarang siapapun untuk dekat dengan siapapun. Ia tidak mau mengatur kehidupan seseorang.

Namun selama beberapa bulan terakhir ini, minchan selalu merasakan kehilangan sebagian hidupnya. Minchan selalu merasa hampa.

Minchan berangkat sekolah dengan jalan kaki seperti biasanya, satu yang tidak biasa, yaitu tidak ada chunji disampingnya. Minchan terus melangkahkan kakinya hingga ia melihat gedung sekolahnya.

Minchan masuk ke kelas. minchan melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya. Minchan menemukan chunji sedang dipeluk chaerin, dan sesaat kemudian, chaerin mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir chunji. Minchan sangat terkejut. Dada minchan terasa sesak. Entah kenapa minchan selalu merasakan sesak dan juga mata terasa perih bila melihat chunji dan chaerin begitu dekat.

Minchan berbalik dari kelasnya, namun ia tak sengaja menendang tong sampah yang berada di dekat pintu kelasnya. Sontak, hal itu membuat chaerin melepaskan pelukannya. Chaerin dan chunji melihat kearah pintu. minchan yang ditatap chunji dan juga chaerin menjadi salah tingkah. “ah.. mianhae … kalian lanjutkan saja, aku mau keluar..” ujar minchan lalu melangkahkan kakinya cepat. Ia menuju ke halaman belakang sekolah yang sepi.

Minchan tidak tahu alasannya kenapa ia harus lari hanya karena melihat chunji dan chaerin sedang mengumbar kemesraan mereka. Minchan duduk di bawah pohon, dimana ia selalu duduk disana seperti biasanya. Akibat melihat kejadian itu, minchan memutuskan untuk tidak masuk kelas sampai jam pelajaran berakhir, karena ia merasa perasaannya sedang tidak bisa diajak kompromi untuk mengikuti pelajaran hari ini. walaupun sebenarnya hari ini ada ulangan psikologi, tapi masa bodoh, pikir minchan.

“kenapa aku seperti ini ?” ucap minchan sambil memeluk lututnya dengan air mata yang mengalir, membuat anak sunngai di pipinya.

Chunji Pov

Aishh.. dasar yeoja gila .. kenapa melakukan hal seperti itu padaku ? omo …. First kiss ku direbut si yeoja gila ini . selain gila, yeoja ini seperti srigala berbulu domba. Diluarnya saja terlihat innocent seperti seohyun snsd, tapi dalamnya, dasar wanita iblis!. Kenapa menciumku ? minchan juga melihatnya sedang menciumku. Aishh.. bagaimana aku menjelaskan padanya?

Jam pelajaran hampir dimulai, tapi, kemana minchan ? heran, kenapa yeoja seperti minchan tidak masuk kelas hanya karena melihatku dicium si yeoja gila itu.

-Pulang sekolah-

Sampai pelajaran usai, aku tidak melihat minchan. Sebenarnya dia kemana ? apa dia pergi gara-gara dia melihatku dicium yeoja tidak waras itu ?. aha.. mungkin dia cemburu, dan itu artinya dia sudah mulai memiliki rasa yang sama denganku !

ChunJi Pov end

Sepulang sekolah, chunji terus mencari minchan. Ia mencoba untuk pencarian terakhirnya, ke taman belakang sekolah. Chunji menghembuskan nafas lega karena ia melihat sesosok yeoja yang dicintainya sedang duduk dibawah pohon dimana mereka biasa duduk bersama. Minchan duduk dibawah pohon dengan memeluk lutut dan  menelengkupkan wajahnya ke lutut.

“ya.. minchan, sedang apa disini ?” minchan mendongkak dan melihat chunji dihadapannya. Wajah chunji yang tadinya khawatir kini terobati. Minchan tidak menjawab pertanyaan chunji. “kau mau apa kesini ?” minchan bertanya balik. “aku mencarimu ..” sahut chunji.

“jinja ?”

“ne .. kau sebenarnya kenapa minchan ? sampai tidak masuk kelas seharian ini ?”

“gwenchana .. aku hanya malas dan juga aku belum mengerjakan tugas yang seonsaengnim berikan ..” ucap minchan beralasan.

“jinja ? bukan kah kau cemburu melihatku bersama chaerin ?”

“wae ? untuk apa aku cemburu padamu ?” minchan berdiri dan berjalan meninggalkan chunji. Chunji mengikuti minchan dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah minchan. “ya, kenapa kau mengikutiku ?” seru minchan.

“aku juga ingin pulang, bukankah rumah kita searah ?”. minchan diam, dia tidak meladeni chunji yang terus saja berbicara. Minchan memutuskan untuk jalan kaki. Chunji mengikutinya. “minchan, kenapa tadi pagi kau pergi begitu saja ?” tanya chunji memecah keheningan diantara mereka berdua.

“aku ….”

“ya, kau kenapa ?”

“molla.. pagi tadi aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku … aku merasa hatiku begitu sesak, mungkin hanya gejala asma..”

Chunji membuang nafasnya dan menggenggam tangan minchan. “kau tahu tidak yang kau rasakan tadi pagi itu apa ?”

Minchan menggeleng kecil, “aniyo..”

“kau jatuh cinta padaku, kenapa kau tidak tahu ?”

“karena, baru kali ini aku merasakan yang seperti ini ..”

“ah jinja ?”

“ne .. jatuh cinta padamu ? apa itu benar ? ah .. kurasa itu tidak mungkin ..”

Chunji menggaruk kepalanya dengan tangan kanannya. ‘kenapa kau tidak jujur pada hatimu sendiri ?’ batin chunji bertanya-tanya. Rumah semakin dekat, namun chunji masih belum melepaskan genggamannya ditangan minchan. “chunji-a, bisa lepaskan tanganmu ?” pinta minchan.

“shireo.. minchan, sebentar saja tatap mataku..”

Minchan menatap mata chunji. Minchan melihat ada keteduhan dan ketulusan dimata chunji. “saranghae minchan …” chunji mengungkapkan(lagi) perasaannya. Sedetik kemudian, chunji dengan cepat mendekatkan wajahnya ke wajah minchan, lalu mengecup bibir  minchan. Walaupun hanya sebentar, hal itu membuat minchan membelalakan matanya. ‘bukk’ minchan memukul bahu chunji dengan tasnya. “nappeun !!” seru minchan, lalu masuk kedalam rumahnya.

Chunji menatap punggung minchan yang berjalan memasuki rumahnya. Chunji tersenyum sambil memegangi bibirnya. ‘aigo.. barusan aku menciumnya .. ah … rasanya …. Menyenangkan … kenapa bibirnya begitu manis? Membuatku seperti kecanduan saja ..’ pikir chunji lalu memasuki rumahnya.

Malamnya…

‘dddrrrrtttt dddrrrrttttt ddddrrrrttttttttt’ handphone minchan yang terletak diatas kasurnya bergetar. Tertera dengan jelas di Lcd hp minchan, Chunji.

“yeobseyo ?”

“minchan saranghae …”

“ya, kalau kau hanya mau mengucapkan itu, lebih baik kau tidak usah menelepon ku.. mengganggu saja ..”

“ahaha .. mianhae … tapi, memang hanya itu yang ingin aku katakan padamu ..”

“aku tutup ya ?”

“baiklah .. setelah kau tutup, keluar lah dari kamarmu dan tunggu aku di balkon kamarmu..”

“ne ..”

Minchan menutup sambungan teleponnya dan berjalan ke balkon kamarnya. Ia duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Tak lama kemudian, chunji muncul di balkon kamarnya sendiri. Jarak antara balkon kamar minchan dan balkon kamar chunji hanya 1 meter saja, jadi dengan mudah chunji melompat dari balkon nya ke balkon kamar minchan.

“ya! Apa yang kau lakukan sih ? apa kau tidak tahu, itu sungguh berbahaya ..!!” omel minchan.

“kau mengomeliku seperti itu, serasa kau sudah menjadi yeojachinguku .. hehe..”

“mwo ??”

“ahaha.. bagaimana ?”

“bagaimana apa ? aku tidak mengerti ..”

Chunji menarik nafas panjang dan menghembuskannya. “sekali lagi aku katakan padamu.. minchan .. saranghae .. would you be my girlfriend ?”

“aku …..”

“eolmana eolmana deo neoreul.. ireohke baraman bomyeo honja..(betapa, berapa banyak lagi yang harus kutatap sendirian ?) I baramgateun sarang (cinta ini seperti angin).. I gojigateun sarang(cinta ini seperti seorang pengemis).. gyesokhaeya niga nareul sarang hagenni .. oh ..(jika ku terus seperti ini. akan kah kau mencintaiku ?) jogeumman gakkai wa jogeumman (hanya datang sedikit lebih dekat sedikit lebih).. hanbal dagagamyeon (jika ku mengambil satu langkah lebih dekat denganmu).. du bal domangganeun (maka kau mengambil 2 langkah mundur).. neol saranghaneun nan jigeumdo yeope isseo geu namjan umnida (ku yang mencintaimu adalah sebelahmu.. bahkan sekarang laki-laki itu menangis..)” chunji bernyanyi dihadapan minchan dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya yang tirus.

“chunji-a.. uljjima ……” titah minchan. “aku ini sebenarnya begitu cengeng minchan .. hanya.. hanya karena kau tidak membalas perasaanku, aku sampai menangis seperti ini ..”

Hati minchan tersentuh karena melihat chunji benar-benar tulus mencintainya. Ingin rasanya minchan memeluk chunji saat itu juga. Tapi minchan berpikir, apakah wajar kalau seorang yeoja memeluk namja duluan ? memeluk namja yang tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, minchan urungkan niatnya itu.

“kau benar-benar mencintaiku chunji-a ?”

“harus berapa kali lagi aku katakan padamu ?”

“benarkah ?”

“ne.. apa jawabanmu ?” chunji mengusap pipinya yang basah karena air matanya.

“I think I …….”

“What ? palli-a …..”

“I think I love you ..” ujar minchan dengan wajah bersemu merah lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya, meninggalkan chunji yang kini telah tersenyum bahagia. “akhirnya..” ujar chunji seraya tersenyum simpul.


That Man

“minchan, ireona..! itu ada yang mencarimu !” seru eomma dari luar kamar minchan.

“enggh… nuguya eomma ? kenapa mencariku di minggu pagi ini ? bilang saja aku masih tidur..”

“kau yakin ? tapi, tadi namja itu bilang dia namjachingumu .. geurae.. akan eomma suruh pergi ..”

Mata minchan terbuka sepenuhnya. “jangan eomma ! bilang padanya, sebentar lagi aku turun !”

Minchan segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamar mandinya dan memakai pakaian seadanya lalu turun kebawah menemui namjachingunya.

Minchan melihat chunji sedang duduk di kursi ruang tamu. Chunji melihat minchan langsung tertawa terbahak-bahak. Minchan mengerutkan keningnya, dan melihat keadaan dirinya, apakah ada yang salah dengan dandanannya. Tidak ada yang salah. Lalu minchan mengeluarkan cermin dari saku bajunya, “aigoo~!!!!!!!!” minchan kembali berlari masuk kedalam kamarnya.

Minchan kembali menghampiri chunji setelah ia ‘menata’ kembali wajahnya yang semula seperti buah kesemek. Maksudnya, wajah minchan belepotan bedak, karena memakainya dengan terburu-buru.

“mau apa kesini ?!”

“hwe .. apakah salah aku berkunjung ke rumah yeojachinguku sendiri dan berniat untuk mengajaknya jalan-jalan ?”

Minchan terdiam. Lalu eomma minchan muncul membawa baki dengan susu 2 susu cokelat hangat diatasnya. “itu tidak salah chunji-a… berkunjunglah kemari kapanpun kau mau..” eomma minchan menimpali perkataan chunji. Chunji tersenyum manis sekali karena ia telah mendapatkan restu dari orang tua minchan.

Eomma minchan meletakkan 2 susu cokelat itu di meja ruang tamu, “minumlah sebelum kalian pergi ^^” suruh eomma minchan. “ne ..” sahut minchan dan chunji serempak. Eomma minchan kembali pada aktivitasnya dan membiarkan chunji dan minchan berada di ruang tamu.

“kajja, kita jalan-jalan !” ajak chunji seraya menarik tangan minchan keluar rumah. Minchan menurut saja karena ia tidak diberikan waktu sedikitpun untuk menolaknya. Tapi, apa salahnya sekali saja tidak menolak chunji, pikir minchan.

Chunji mengajak minchan untuk menghirup segarnya udara seoul pagi ini di taman. Taman begitu sepi, mungkin karena hari ini adalah hari libur, jadi kebanyakan orang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah.

“chagiya ….” Panggil chunji.

“kau memanggilku ?” tanya minchan polos.

“ne .. siapa lagi ..”

“ah .. kenapa memanggilku ?”

“aniyo .. emm .. aku … aku …. Aku mencintaimu …”

“aku tahu .. kau selalu mengatakannya padaku bukan ?”

Tatapan minchan kembali lurus menatap luasnya taman. Chunji memegang dagu minchan dan membuatnya menatap chunji. “waeyo ?” tanya minchan. Chunji tidak menggubris minchan. “apa yang mau kau lakukan ?” tanya minchan saat wajah chunji terus mendekat ke wajahnya. “jangan mencium—“ ucapan minchan terpotong karena kini bibir chunji telah menempel sempurna di bibir minchan. Minchan berusaha melepaskan ciuman chunji dengan mendorong pelan tubuh chunji.

Minchan pasrah karena sekuat apapun dia mendorong chunji, chunji terus saja menahannya. Kini mata minchan ikut terpejam dan menikmati apa yang dilakukan namjachingunya. Menyadari minchan sudah mulai menikmati apa yang chunji lakukan, chunji mulai menghisap bibir bawah dan atas minchan bergantian, sesekali ia melumat dan menggigit kecil bibir minchan.

Dengan sekuat tenaga minchan mendorong tubuh chunji, dan berhasil. Chunji tersenyum manis pada minchan yang sedang mengusap bibirnya yang basah karena saliva yang meluber(?) keluar saat mereka berciuman tadi.

“kenapa kau melakukan itu padaku ?!” seru minchan.

“karena aku namjachingumu ..!” sahut chunji.

“hanya itu ? ckk .. jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi padaku …!!” minchan berdiri dan berjalan memunggungi chunji. Lalu chunji berdiri dan mengejar minchan. Sudah dekat dengan minchan, chunji memeluk minchan dari belakang dan meletakkan dagu nya di pundak minchan.

“satu lagi alasannya kenapa aku melakukan hal seperti tadi, itu karena akulah satu-satunya namja yang mencintaimu, yang selalu ada untukmu.. dan kau adalah satu-satunya yeoja untukku… aku melakukan hal seperti tadi untuk  membuktikan bahwa aku memang milikmu dan kau milikku ..” jelas chunji.

“saranghae …..” bisik chunji tepat di telinga minchan.

“nado saranghae …..”

END

0 komentar:

Posting Komentar

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template