Kamis, 08 Maret 2012

FF | Don’t Leave Me (I’m Sorry)

Tittle : Don’t Leave Me (I’m Sorry)
Author : Okky Oktavia
Rating : G
Genre : Angst, AU, Romance, School Life
Length : Oneshot
Main Cast : Jo KwangMin, Jung JiHyun
Support Cast :
Warning : OC, OOC, typo(s), BadFic


**

Menjadi orang yang pendiam itu rasanya menyenangkan dan juga menyedihkan. Menyenangkan karena tidak terlalu banyak bicara dan juga jarang terlibat masalah karena terpelesetnya lisan. Menyedihkan karena tidak terbuka pada orang lain selain orang tua sendiri, dan juga hanya bisa diam melihat seseorang yang dicintai bersama orang lain, tidak bisa berbicara dengan lancar karena gugup menguasai.

Jung Jihyun, yeoja pendiam di kelasnya. Menyukai seorang namja yang bernama Jo Kwangmin, namja terkenal seantero sekolah. Idola seluruh yeoja, tipe namja ideal. Mempunyai sikap yang baik, apalagi terhadap yeoja. Namun itu hanya penampilan luar yang ‘menjual’. Tapi, entah bagaimana sifatnya yang sebenarnya, apakah sesuai dengan parasnya ?. entahlah, hanya tuhan yang tahu dan waktu juga bisa mengungkapkan semuanya.

Jihyun tidak pernah berani mengatakan bahwa ia menyukai seorang jo kwangmin. bahkan pada sahabatnya sendiri ia tidak menceritakannya. Ya, jihyun mempunyai sahabat yang bernama ahn seohyun, yeoja yang sikapnya lawan dari sikap jihyun. seohyun itu yeoja yang ceria, dan juga terlalu hyper. Hanya seohyun yang mau berteman dengan jihyun, entah itu tulus atau seohyun hanya ingin memanfaatkan jihyun. entahlah..

Jihyun selalu memerhatikan kwangmin dari jauh. Di mata jihyun, kwangmin itu bagaikan bintang yang paling bersinar diantara beribu-ribu bintang.  Jihyun selalu gugup bila ia berada di dekat kwangmin, misalnya bila ia dan kwangmin berada dalam satu kelompok ketika berdiskusi. Jihyun seolah-olah menjadi gagap bila ia berada di dekat kwangmin.

“jihyun-a? kenapa melamun ?” Tanya seohyun sambil duduk di samping jihyun.

“ani…” jawab jihyun sambil menggoreskan pena nya di kertas, hanya coretan-coretan tidak jelas.

“ya.. jangan terlalu banyak melamun, kemarin saja, ayam tetanggaku mati karena banyak melamun..” jihyun hanya tersenyum tipis. Lalu seohyun kembali ke bangkunya yang ada disamping bangku jihyun.

Kwangmin dan teman-temannya masuk ke kelas. itu membuat jihyun semakin menundukkan pandangannya, ia selalu menyembunyikan perasaannya. Kwangmin memang duduk di belakang bangku jihyun. kwangmin berjalan dengan santai melewati jihyun yang sedang menunduk karena tidak ingin bertemu pandang dengan kwangmin.

Jihyun merasa punggungnya begitu panas karena kwangmin duduk tepat di belakangnya. Jihyun merasa kwangmin selalu memandanginnya, jihyun merasa begitu walaupun ia tidak pernah mendapati kwangmin sedang memandanginya.

Saat istirahat, jihyun duduk di bangkunya. Ia selalu merasa malas untuk pergi dan makan di kantin, jihyun tidak terbiasa makan bila masih banyak orang. Jinhyun mengambil kotak bekal yang ada di dalam tas punggungnya dan memakannya dengan perlahan. “ternyata kau suka bawa bekal ke sekolah ?? pantas saja kuperhatikan kau tidak suka pergi ke kantin dan makan di sana” ujar seorang namja yang duduk dibelakang bangku jihyun.

Jihyun menghentikan acara makannya. Jihyun terpaku, lalu menoleh pada kwangmin, itupun dengan rasa gugup yang luar biasa menguasai dirinya. “n…ne..” sahut jihyun lalu kembali menghadap kedepan dan mengabaikan kotak bekal yang masih berisi itu tergeletak di bangkunya. Jihyun tidak melanjutkan makan karena ia merasa malu kalau ia makan dihadapan kwangmin. apakah cara makanku berantakan ? apakah cara makanku sudah baik ?, batin jihyun bertanya-tanya.

Kwangmin menyeret kursi yang didudukonya dan meletakkannya di dekat bangku jihyun. “kenapa kau berhenti makan ? apa aku mengganggumu jihyun-a?” wajah jihyun memerah, jihyun menunduk dan berusaha menjawab, “ani.. aku hanya merasa sudah kenyang..” jihyun baru pertama kali mengobrol dengan kwangmin seperti ini. dada jihyun berdegup kencang sekali.

“jinja ? kalau begitu porsi makanmu sedikit sekali ya ? padahal makananmu masih banyak.. pantas saja tubuhmu begitu kurus..” jihyun mengangkat kepalanya yang tertunduk lalu menatap kwangmin. baru kali ini jihyun berani menatap kwangmin. jihyun merasa senang karena kwangmin memerhatikannya. “ne.. porsi makanku memang sebanyak tadi aku makan..” jawab jihyun bohong, padahal ia berhenti makan karena ia malu pada kwangmin.

“makananmu, boleh untukku ?” Tanya kwangmin yang membuat jihyun tidak percaya pada pendengarannya. Ingin rasanya jihyun melompat-lompat saking senangnya. Mimpi apa jihyun semalam, sampai ia bisa mengobrol begitu dekat dengan kwangmin.

Siswa kelas XII-3 tak kunjung masuk ke kelas, karena mereka tahu setelah jam istirahat berakhir itu pelajaran Mr. Lee, dan Mr. Lee sedang pergi ke jepang untuk suatu urusan. Itulah sebabnya kenapa siswa kelas belum ada yang kembali ke kelas seorang pun. Siswa-siswa di kelas ini memang terkenal sangat tidak betah bila berada di kelas. jadilah, di kelas hanya ada kwangmin dan juga jihyun dengan rasa guupnya yang menguasainya.

Jihyun terkejut, kwangmin mau memakan makanannya ? sungguh tidak bisa dipercaya. “boleh ?” Tanya kwangmin lagi. “n..ne… boleh… ini..” jihyun memberikan kotak bekalnya pada kwangmin. “gomawo” ujar kwangmin sambil tersenyum manis. Kwangmin memakan makanan jihyun dengan lahap. “kau juga harus makan daripada memerhatikanku terus seperti itu..” ujar kwangmin sambil memasukkan sepotong makanan kedalam mulut jihyun.

**

Jihyun dan kwangmin kini berteman akrab. Ini dimulai sejak 1 bulan lalu ketika kwangmin berbicara saat jihyun sedang makan. Kwangmin akrab dengan jihyun, otomatis juga akrab dengan seohyun yang notabene adalah sahabat jihyun. mereka menjadi 3 sekawan yang selalu peduli satu sama lain.

Kini jihyun tidak terlalu tertutup dan tidak terlalu pendiam seperti sebulan lalu. Ini berkat 2 sahabatnya, kwangmin dan seohyun yang benar-benar suka banyak bicara.

“jihyun-a!!” seru seohyun. Jihyun kaget, karena seohyun berseru ketika ia sedang santai sambil membaca buku. Jihyun melihat wajah seohyun begitu cerah, mungkin dia sedang bahagia, piker jihyun. “waeyo ? sepertinya kau sedang senang hari ini ?” Tanya jihyun. seohyun tersipu malu, baru kali ini jihyunmelihat sahabatnya berekspresi seperti itu dengan semburat merah yang terlukis di pipi mulusnya.

“kau memang sahabat baikku.. tahu saja aku sedang bahagia …” ucap seohyun. “ceritakan padaku seohyun-a… ne ?” seohyun mengangguk dan langsung menceritakan semuanya pada jihyun. jihyun dengan sabar menjadi pendengar setia seohyun yang bercerita sangat bertele-tele, padahal sebenarnya inti dari cerita seohyun itu hanya beberapa kata saja, seohyun sudah mempunyai namjachingu. “kau tahu jihyun-a ? tadi Minwoo oppa menyatakan perasaannya begitu romantic. Aku sampai tersipu dibuatnya..” ujar seohyun dengan semangat menggebu-gebu sambal memegangi pipinya yang mulai memanas.

Jihyun tersenyum, “chukkaeyo ^^” ujar jihyun dan seohyun langsung keluar kelas karena seorang siswa memanggilnya, katanya minwoo mencarinya.

Kwangmin yang sedari tadi diam di bangkunya kini menyeret kursinnya dan duduk disamping jihyun. walaupun kini kwangmin adalah sahabatnya, perasaan jihyun pada kwangmin tidak pernah berubah sedikitpun. Jihyun masih saja selalu merasakan debaran yang begitu kencang saat kwangmin duduk disampingnya. “ada apa ? kenapa seohyun begitu senang ?” Tanya kwangmin.

“dia sudah mempunyai namjachingu, minwoo dari kelas sebelah, ia terlihat bahagia sekali..” kwangmin sedikit terkejut dengan jawaban jihyun. namun ia sembunyikan dengan senyuman tipis. “jinja ? beruntungnya dia bisa mendapatkan ketua osis..” ujar kwangmin dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

“jihyun-a, pulang sekolah ada waktu ?” Tanya kwangmin sambil meyeret kursinya kembali ke bangkunya. Jinhyun menghadap ke meja kwangmin. “ne .. waeyo ?”

“aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat, boleh ?” jihyun ingin sekali berjingkrak-jingkrak karena begitu senangnya diajak jalan oleh kwangmin. namun jihyun hanya memberikan senyum tipisnya, “ne …” jawab jihyun akhirnya.

-pulang sekolah-

Seohyun sudah pergi meninggalkan sekolah dan pulang bersama namjachingunya yang baru berumur sehari. “kajja..” ajak kwangmin sambil menggenggam tangan jihyun. jihyun merasakan tangannya yang dipegang oleh kwangmin terasa seperti berdenyut-denyut, seperti jantungnya yang terletak di tangannya.

Kwangmin mengajak jihyun pergi ke bukit di belakang sekolah. Mereka berdua menghadap kearah barat, melihat sang surya akan kembali ke singgasananya. Mereka merasakan semilir angin yang menerpa wajah mereka, sejuk rasanya merasakan semilir angin di pertengahan musim panas ini. “jihyun-a…” panggil kwangmin.

“ne..?”

“aku tahu ini salah .. tapi aku hanya ingin kau mengetahuinya =.. aku mencintaimu … saranghae jihyun-a… jeongmal saranghae..” jihyun menatap wajah kwangmin, menjari titik ketulusan dan titik kebohongan di mata kwangmin. jihyun tersenyum simpul. “kau tidak salah kwangmin-a.. karena aku juga menyukaimu, bahkan lebih dari itu..” jihyun menundukkan wajahnya.

Kwangmin memegang dagu jihyun dan mendekatkan wajahnya ke wajah jihyun. “saranghae..” ucap kwangmin lalu memberikan bibir manis jihyun sebuah kecupan.

**

Sudah setengah bulan hubungan kwangmin dan jihyun berjalan, semuanya berjalan dengan lancer. Begitu juga dengan seohyun dan juga minwoo, mereka semakin menempel saja.

Jihyun mengedarkan pandangannya ke seluruh arah di kelas. ia mencari kwangmin. namun jihyun tidak menemukan kwangmin. jihyun berjalan keluar kelas dan berjalan menelusuri koridor melihat ke setiap ruangan, apakah kwangmin berada di salah satu ruangan atau tidak.

Jihyun melewati ruang ganti namja, dan terdengar suara samar-samar. Suara itu terdengar familiar di pendengaran jihyun, ya… itu suara kwangmin sedang mengobrol dengan seseorang. Karena penasaran, jihyun menempelkan telinganya di pintu ruang ganti itu dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kwangmin dan temannya.

“kwangmin-a.. kau benar-benar pacaran dengan jihyun si kutu buku itu ?” Tanya teman jeongmin.

“ne.. waeyo ?” kwangmin balik bertanya.

“apa kau benar-benar mencintainya ?”

“em.. bagaimana ya … aku masih ragu sebenarnya…”

Jihyun seperti terkena arus listrik. Ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan kwangmin. namun ia tetap menempelkan telinganya di daun pintu yang tertutup itu. “ah.. jinjayo ? aku memang sudah tahu dari awal, kau mendekati jihyun dulu hanya untuk merasa lebih dekat dengan seohyun kan ? sebenarnya kau seuka seohyun kan ?” ucap temannya kwangmin.

“hehehe … iya juga sih.. tapi sekarang seohyun sudah mempunyai namjachingu..”

“lalu, kenapa kau malah menjadi namjachingu jihyun ?”

“itu karena, aku sangat kecewa pada seohyun.. seohyun sudah mempunyai namjachingu dan itu bukan aku…”

“jadi, kau selama ini hanya menjadikan jihyun sebagai pelarianmu saja ?”

“awalnya sih begitu …”

Jihyun yang sudah tidak kuat mendengar obrolan kwangmin dan temannya, ia memutuskan untuk kembali ke kelas dan bersikap seola-olah tidak terjadi apa-apa. Jihyun kini bersikap seperti jihyun yang dulu, yang tertutup dan pendiam.

Kwangmin masuk ke kelas dengan wajah yang sumringah. Ia berjalan dan duduk di bangku yang kosong di depan jihyun. “chagi… sepulang sekolah, kau temani aku yaa..” pinta kwangmin.

“ne..” jawab jihyun seadanya dengan memberikan senyum nya, senyuman yang penuh dengan kekecewaan yang begitu besar. Kwangmin kembali duduk di bangkunya dan tidak meherti apa arti dari senyuman jihyu tersebut.

-pulang sekolah-

Di kelas hanya ada jihyun yang sedang memasukkan buku-bukunya kedalam tas punggungnya. “kajja…” ajak kwangmin sambil menggenggam tangan jihyun. namun jihyun langsung menarik tangannya dari genggaman kwangmin. kwangmin merasa sangat terkejut. Baru kali ini jihyun bersikap demikian padanya.

“waeyo ?” Tanya kwangmin. jihyun tersenyum pahit.

“kurasa kita selesai sampai disini..” ujar jihyun.

“wa…waeyo ?”

“aku juga yeoja kwangmin-a… aku juga membutuhkan cinta.. aku bukan yeoja yang dengan sukarela ingin dijadikan sebagai pelarian cinta oleh seseorang …”

Kwangmin langsung bisa menangkap apa yang dimaksud jihyun. “kau mendengar semuanya ?”

“ani .. karena aku sudah tidak kuat mendengarnya….” Sahut jihyun.

“kita selesai.. aku pulang …” ujar jihyun dan meninggalkan kwangmin yang terpaku sendirian di kelas.

Kwangmin berlari mengejar jihyun, kwangmin berhasil meraih dan menggenggam tangan jihyun. “apa lagi ?” Tanya jihyun datar.

“kau tidak mendengarkan semuanya, jadi dengarkan dulu penjelasanku…”

“walaupun aku mendengar semua penjelasanmu, aku tidak akan mudah memaafkanmu..”

“tapi, aku mencintaimu chagi….”

“berhendi memanggilkku seperti itu.. aku muak mendengarnya..”

“don’t leave me chagi … I’m sorry…” seru kwangmin.

Jihyun menoleh dan tersenyum pada kwangmin. kwangmin mengira jihyun tersenyum seperti itu artinya jihyun memaafkannya, namun dugaan kwangmin salah. Jihyun menoleh padanya dan tersenyum lalu kembali berjalan kedepan meninggalkan kwagmin yang mematung sendiri di halaman sekolah. “mianhae, jihyun .. saranghae …”


-END-



Gimana ? endingnya gantung ngga ? kalo banyak yang review/RCL/ yang ngasih feedback, author bakal buatin sequelnya ……. Itupun kalo ada yang minta dibikin sequelnya …. Kekeke~

 yang mau sequel bisa nagih ke :

0 komentar:

Posting Komentar

coment please ^^

 
keiiko territory (Keii's Fanfiction) Blogger Template by Ipietoon Blogger Template